Long Way to Walk With

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2016
Long Way to Walk With

Ren, hidup ini perkara menunggu. Entah manusia sadar atau tidak. Menunggu pulang sekolah, menunggu hari libur, menunggu cucian kering, menunggu hujan reda, menunggu mati, menunggu dan menunggu. Meskipun tidak selalu yang terjadi kita inginkan.

Di suatu sore yang teduh, sore yang kukenang, Ibu mengatakan itu ketika aku tertidur di pangkuannya sambil membaca. Aku sekilas melipat halaman yang tengah dibaca dan menoleh padanya, tidak mengerti. Ada angin apa Ibu tiba-tiba berbicara seperti itu. Namun, sebelum aku sempat bertanya, ia beranjak bangun menuju ruang tengah. Tak lama, terdengar suara mesin jahit bekerja. Aku menghampiri.

Kebayanya sedikit lagi selesai, tinggal dikasih payet. Cantik. Ternyata warnanya benar-benar cocok di kulitmu.

Setelah proses pertemuan antara dua keluarga tempo hari, Ibu selalu tampak sibuk. Masih kuingat juga hari itu, ketika selepas Isya kau datang bersama kedua orangtuamu dan beberapa orang lain. Wajahmu tampak sedikit tegang, apalagi dengan setelan batik formal di kulitmu yang memucat. Aku terkikik, Ibu menegurku.

Setelah kepulanganmu, Ibu datang ke kamarku dan meminta tidur bersamaku malam itu. Sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi kudengar suara Ibu mendongeng, baik tentang kancil yang cerdas atau kutukan anak durhaka. Meskipun selalu mengobrol, baru malam itu lagi kami benar-benar berbicara dari hati ke hati, diberinya aku petuah, seperti dongeng-dongengnya dulu. Dua bulan lagi, kamu sudah milik orang, Ibu tidak bisa tidur sama kamu lagi. Begitu alasannya.

Ren, Ibu rasa hati manusia tidak akan pernah cukup untuk mencinta lebih dari satu orang. Meski kamu rasa bisa, tapi Tuhan sudah mencukupkan ruang itu hanya untuk satu. Ketika suatu hari kamu merasa ada pilihan lain dalam hal apa pun, tentukanlah. Mungkin yang satu bukan kamu cintai secara tulus. Mungkin yang satu lagi hadir hanya untuk menguji, bukan tempatmu kembali.

Seperti biasa, aku tidak memaksa untuk bertanya. Aku malah semangat bercerita tentang impian mengajarku yang  sudah semakin di depan mata. Ijazah dan akta mengajar sebagai bekal, meski tempat mengajar masih menjadi batu sandungan. Ibu kembali mengatakan petuah perihal menunggu. Berusaha dan bersabarlah, katanya.

Kemudian, suatu siang kamu datang membawa jawaban. Dengan wajah sumringah dan peluh di dahi, kamu menghentak bahuku dan memberi kabar tentang sekolah di sudut kota yang membuka lowongan untuk pengajar baru. Kita makin sibuk. Persiapan pernikahan juga berkas-berkas lamaran kerja. Ketika itu, kita berharap pekerjaan itu akan menjadi rezekiku, rezeki bakal pengantin baru. Ketika berkas sudah siap dikirim, kamu bersedia mengirimkannya untukku. Mengendarai motor, kamu pulang membawa amplop cokelatku untuk dikirimkan. Pulang dan tak pernah menemuiku lagi.

Tubuhmu terbujur tanpa nyawa di sebelah motor yang rusak parah. Kecelakaan lalu lintas dengan sebuah mobil pick up yang dilaju kencang oleh supir yang mengantuk. Secepat itu kabar buruk menghapus kabar baik dan mimpi-mimpi yang sudah kita bangun. Secepat itu aku kembali sendiri dan dipaksa menghadapi keterpurukan. Ibu, apakah ini kembali soal perihal menunggu? Selama apa aku akan bangkit, sedangkan aku tidak mudah melupakan?

Pagi yang cerah, meski sebagian mendung masih menggelayut di hati. Sebagian langit mulai terang di sana. Aku duduk di ruang tunggu kepala sekolah, menunggu namaku dipanggil, kemudian berbincang-bincang tentang hari pertamaku mengajar di tempat ini. Sekolah yang dulu kamu rekomendasikan. Sekolah yang menerimaku lewat berkas yang kamu kirimkan sebelum kecelakaan itu memutus tali takdir kebersamaan kita.

Aku tertunduk mencatat beberapa hal hingga seseorang menegurku.

“Ibu Reny? Anda dipanggil Kepala Sekolah ke ruangannya. Oh, ya, kenalkan saya Sandy, staf pengajar juga di sini. Semoga hari Anda menyenangkan.”

Sekejap aku terdiam tak mampu menjawab. Berbagai kilatan ingatan muncul di pikiranku, sejenak menyesakkan dada. Sandy yang pagi itu mengenakan setelan batik formal yang coraknya nyaris sama dengan milikmu. Sandy berhias senyum ceria yang hampir tak pernah lepas dari wajahnya, seperti kamu.

“Ibu Reny? Ayo saya antarkan.” Suara Sandy yang sudah berjalan di depan menyadarkanku.

Aku berjalan di lorong sempit itu dengan perasaan yang lebih lapang. Teringat perkataan Ibu ketika pagi tadi aku mencium tangannya sebelum pergi.

Semoga hari ini keberuntunganmu, Nak.

Apakah ini maksud Ibu soal menunggu? Apakah ini maksud ibu hati tidak bisa mencintai lebih dari satu? Bolehkah aku beranjak dari kesedihan dan menemukan pilihan lain itu, Bu?