Tuanku dan Kasus Piccadilly

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Mei 2016
Tuanku dan Kasus Piccadilly

Dhug!!!

Aku terkaget seketika membeliakkan mata ketika suara berat dan kencang tersebut mengganggu tidurku.  Buku-buku berserakan di lantai terjatuh karena dibanting oleh tuannya yang marah. Ternyata, matahari memang sudah terlalu terang untuk dilewatkan dengan lelapku. Tapi, nampaknya masih terlalu dini baginya untuk terjaga, juga marah-marah seperti ini. Biasanya, dia masih tertidur nyenyak lengkap dengan dengkur keras yang menjadi santapanku setiap hari. Di sebelahnya, gelas-gelas kecil berserakan di atas meja kerja, sedangkan remah-remah roti gandum kering digagahi oleh rombongan semut hitam. Namun, ia tidak pernah peduli. Berbeda denganku yang berdiri di tempatku, memandangnya iba dan khawatir. Setiap malam ia disibukkan dua atau tiga kasus sulit, sedangkan di sela terpejam dia hanya terbangun untuk meminum segelas kecil minuman favoritnya.

Kutebak, masalahnya ada di kepalanya, tentu saja. Seorang lelaki yang rumit dan pemikir panjang. Setauku, hanya ada kasus pembunuhan di Blok 7 Jalan Piccadilly dan kasus pencurian di rumah seseorang yang ia panggil Tuan Edward. Ia memang tidak pernah berniat menceritakannya secara langsung padaku. Bodohnya, ia lupa menyimpan semua berkas di atas kertas-kertas usangnya. Seketika ia mabuk begitu makan malamnya selesai, lalu tergeletak seperti malam-malam biasanya. Tentu saja aku diam-diam membaca semua kasus yang ia pegang. Bahkan, aku memakan roti gandum persediaannya sambil berdoa agar esok pagi ia tidak memaki perbuatanku. Sudah 3 tahun kami tinggal bersama, tapi tak jarang sikapnya masih saja keras.

Benar saja, di balik telepon ia membentak seseorang. Wanita itu adalah salah satu klien. Anak tertua dari korban yang dibunuh pada kasus satu.  Sepasang suami-istri, petani kaya sekaligus pemilik toko bahan pangan terbesar di sekitar, ditemukan mati bersimbah darah tiga malam lalu di rumah mereka di Picadilly Circus. Ditemukan bekas tikaman dan tusukan di sekujur tubuh. Pelakunya dikabarkan terkejar, namun menghilang di ujung barat Hyde Park. Si anak meminta bantuan untuk menanganani  kasus dengan sedikit bukti ini. Buntunya penyelidikan membuat semua seperti diburu kenyataan. Ia harus menemukan bukti dan saksi lain agar masalah ini terpecahkan sebelum si anak melimpahkan semua pada polisi. Tampaknya si anak di ujung telepon mendesak terus. Terlihat kemelut di ujung-ujung matanya yang dalam. Bibirnya terpilin bingung dan kesal.

Hari ini sepertinya akan kuhabiskan dengan mendengar omelannya. Tak ada sapaan sedikit pun untukku. Dulu, ketika ia membawaku ke rumah dengan dinding cokelat dan perapian kecil ini, tingkahnya selalu manis. Setiap pagi kami habiskan waktu bersama. Bahkan, sebelum tidur ia sempatkan mengelus kepalaku dan menciumnya sebelum kami sama-sama tertidur. Kami berbagi makan, minum, dan kebahagiaan. Kupikir aku menemukan seseorang yang tepat. Ia akan menjaga dan menyayangiku sebagai pilihannya. Ketika pulang dari bepergian ia membawakanku banyak buah dan roti manis. Agar aku selalu sehat, katanya. Namun, semua berbeda sejak setahun terakhir. Ketika reputasinya sebagai detektif semakin membaik. Tanggung jawab besar membuatnya mudah emosi. Tidak ada lagi sapaan “Hai, manis” atau “Hai, cantik. Selamat pagi.” Umpatan seperti “Heh! Makan makananmu, Manja! Aku sedang pusing” lebih sering aku dengar sekarang.

Ketika mentari sepenggalah semakin naik, ia bergegas merapikan pakaiannya untuk pergi. Setelan kuno dilengkapi bretel dan topi fedora. Setelan kebangaannya. Makin membuatnya terlihat serius. Padahal, kupikir siluet wajahnya terlalu menarik untuk dihalangi topi. Rahang yang tajam, hidung mancung, dan lesung pipi di pipi kiri. Ah, mengapa aku begitu beruntung menjadi miliknya. Ketertarikan itu semakin ditambah dengan kebiasaannya, seperti saat ini. Dia selalu menegak segelas atau dua gelas Gimlet setiap pagi. Yeah, aku heran apa enaknya minuman memabukkan itu. Sejenis cocktail hasil campuran Gin dan air limau. Bukankah lebih baik ia menghabiskan dua gelas air putih setiap pagi, sepertiku. Percuma bila memperingatkannya. Lagipula Si Bengal Stephen selalu mengirimkan dua botol besar untuknya setiap minggu.

“Jangan mengeluh dan berisik. Aku akan pulang larut.” Begitu katanya sebelum pergi. Tak sempat aku menyanggah, ia sudah keluar dan membanting pintu hingga kaca-kaca rumah ikut bergetar. Aku bersunggut-sungut masam. Tidak mengeluh katamu? Bagaimana aku tidak mengeluh bila tingkahmu selalu menyebalkan. Tak bisakah kau sisakan satu hari saja untuk kita menjadi seperti dulu? Apa kamu lebih memilih aku tidak menyentuh sama sekali makanan dan minumanku hingga akhirnya kau temukan aku mati ketika kau pulang hingga baru aku kembali peduli? Atau kamu ingin menemukanku tidak ada lagi di rumah hingga kamu mampu hidup tenang seorang diri?

Kulepas kepergianmu hingga ujung gerbang. Dari jendela kaca besar yang celahnya menyimpulkan sinar kuning matahari, aku melihat kamu perlahan hilag ditelan puluhan rumah sepanjang jalan Mayfair, pusat kota. Tidak hanya itu, puluhan orang juga mulai ramai memadati jalanan hingga aku semakin sulit mencari sosokmu. Mereka adalah pejalan kaki yang berlalu-lalang setiap hari. Menjadi titik keramaian di kota ini. Mereka menjadi salah satu nafas, ciri khas wilayah ini. Beberapa bersepeda dan berjalan kaki, sisanya sibuk membeli barang dagangan yang kebanyakan terdiri atas makanan dan bunga; Lily, Mawar, atau Edelweiss. Melihat rangkai-rangkaian itu, aku teringat masa ketika kamu sempat membawaku mengunjungi Royal Botanical Garden, pada kedatanganku pertama kali ke kotamu. Katamu, tempat penuh bunga adalah tempat yang paling cocok untukku. Membawa banyak nafas penghidupan dan menyisakan memori saat ini. Sejak saat itu, hingga sekarang, kurasa aku layak mendapat predikat pendamping sekaligus pemujamu. Ya, mungkin kamu memang tidak menyadarinya. Tapi, kau bisa lihat dari bertahannya aku menghadapi perilakumu yang terus mengeras.

Malam itu kamu pulang dengan langkah berat seperti biasanya. “Diam! Aku lelah.” Kau menghentak, pita suara membentakku sebelum aku sempat bicara. Kau bertambah marah ketika tahu tak ada lagi sisa-sisa cocktail di botol. Dengan kasar kau menendang kaki-kaki meja dan mengepalkan satu tanganmu. Kuurungkan diri untuk menegur. Aku justru menjadi takut mati di tanganmu ketimbang mati karena meninggalkan makananku. Aku mundur, kembali berdiri di tempat yang sama. Dari balik pintu kamu membawa sebotol besar lain. Kali ini jenis Gin Rickey yang ditambah campuran soda. Tampaknya Stephen berhasil memengaruhimu untuk mencoba hal bodoh lain.

“Tuan Edward menuntutku agar dapat menuntaskan kasusnya esok. Esok dia bilang!!! Sementara kasus Piccadilly belum ada titik temu!!!” Tak henti kau tegak minuman itu.

“Aku ingin menyerah saja, namun uang pembayaran dari Tuan Edward sudah kugunakan untuk membayar Stephen.”

“Tak ada guna! Aku pikir usahaku tak ada guna.” Kau masih terus merancau.

Diam adalah salah satu hal yang bisa kulakukan untuk saat ini. Sedikit saja aku berpendapat, bisa-bisa kamu justru memaki. Aku memilih menikmati roti manis sisa pemberianmu. Mungkin ini persediaan terakhir sejak kamu lalai memanjakanku. Di balik bibir tipis yang menarik itu, kamu sesekali menghembuskan nafas panjang. Aku tahu kamu kesusahan, namun apa yang bisa aku perbuat. Tugasku mungkin hanya mendengarkan, selain mengagumimu tentu saja. Stephen sering kali mengejek karena kau masih saja mengurusiku. Dia bilang untuk apa memeliharaku. Kasar sekali ungkapannya! Tapi, terbukti kau masih mau, masih bersedia menjadi pemilihku. Kamu berhati lembut dan bijaksana, hanya saja pikiranmu yang rumit itu membuat jenuh dan tua. Sama halnya ketika kau akhirnya berdiri dari sofa dan menghampiriku.

“Sudah lama aku tidak menyapamu baik-baik. Apa kabar?” Katamu sambil menyeka wajahku. Aku tersenyum dan kegirangan. “Besok, bila urusanku dengan Tuan Edward selesai, aku akan pulang membawa buah-buahan segar. Kamu terlihat sedikit lemas dan kusam.” Janjimu itu berhasil membuatku bersenandung gembira dalam hati. Dengan lembuat kuanggukkan kepala dan menciumi jarimu. Aku tahu kamu tidak akan selamanya keras. Kita pernah berjanji kembali ke Botanical Garden, kan? Hanya saja masih ada satu hal yang kubenci. Bau nafasmu yang beraroma Gin. Sangat kuat dan panas di menyapu wajahku.  Malam ini kita akan terjaga dalam mimpi masing-masing. Kau di atas tempat tidurmu yang selalu berantakan, sedangkan aku memandangimu dari belakang.

Selayaknya pagi di Avonmouth yang selalu membahagiakan, wajahmu yang terbangun lebih awal menyadarkan lamunanku. Menyejukkan karena masih tampak sisa kebijakan di garis-garis wajah yang kutatap terakhir sebelum tidur.

“Selamat pagi, Cantik.” Ya, Tuhan. Aku mencintai sapaan itu, aku mencintai hangatnya, aku mencintai dirinya. Indah bila menyadari semua kembali seperti semula.

“Tenang, aku akan menemui Tuan Edward dan menyelesaikan semuanya. Bila ia keberatan, aku akan mengembalikan uangnya. Si Bodoh Stephen mau meminjamiku uang dengan jaminan aku mau menjadi pelanggan setianya. Gin, oh Gin. Pengaruhnya kuat sekali.” Aku mendengus.

Belum sempat aku bertanya . . .

“Oh, iya. Kasus pembunuhan di Piccadilly. Aku punya rahasia besar. Sttt . . . Jangan katakan pada siapapun.”

Siapa? Tanyaku dalam hati. Aku harap semua dapat segera selesai agar kami bisa menikmati hari berdua.

“Si anak pertama. Pelapor kasus. Dia! Seseorang yang terkejar sampai ujung barat Hyde Park. Ia merancang semua untuk mendapatkan premi asuransi yang sangat besar dari kedua orangtuanya.”

Aku nyaris berteriak. Dunia kini semakin tak terjamah oleh akal makhluk penghuninya. Apakah masih ada kewarasan yang setidaknya diisi oleh cinta dan rasa.

“Yah, wanita itu menyembunyikan bukti tak bergerak dan alibi yang lemah. Semua senjata dan baju pada hari kejadian ditemukan di bawah Tower Bridge. Ternyata, tak sepenuhnya salah bekerja sama dengan seorang inspektur.”

Kalau begitu  . . . Baru saja aku akan berkata.

“Tentu, tentu. Ayo kita menikmati kota hari ini. Membeli beberapa panganan di jalanan Avonmouth, lewat Piccadilly Circus, dan berakhir di Botanical Garden.” Aku bersorak kegirangan ketika ia mulai menyentuh tubuhku dan menciumiku.

“Tunggu sebentar. Aku perlu bersiap dan . . . tentu tiada hari tanpa cocktail.”

Kali ini aku tak akan marah karena minumannya. Aku sudah terlanjur bahagia dan cenderung memikirkan perjalanan kami ketimbang yang lain. Teringat  kesan yang timbul ketika ia mencukur janggutnya yang mulai tumbuh, five o’clock shadow katanya, lalu saat ia mulai menggunakan bretel di atas kemeja krem, dan ditutup dengan topi fedora sebagai pemanis di atas kepalanya yang berambut tipis.

Aku tersenyum. Lantas kubasahi wajahku agar segar. Bersenandung sambil mempersiapkan diri. Kuhentak-hentakkan kaki agar semua menjadi ringan. Dari kamar mandi aku mendengar  nyanyian bahagia yang sama. Tampaknya ia juga senang akan rencana hari ini. Aku terus menyahut dengan nyanyian, tepatnya kicauan. Tuanku sudah kembali menjadi dirinya. pagi ini ia tentu akan membawaku dalam kandang yang lebih kecil dan meletakkan banyak biji-bijian juga remah roti gandum di dalamnya. Botanical garden adalah kesukaanku karena banyak kutemui temanku di sana. Sesama Copychus Malabaricus, murai batu berekor indah.

  • view 90