Mengakhiri yang Tidak Abadi

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Mei 2016
Mengakhiri yang Tidak Abadi

(Salah satu dari sekian banyak tulisan lama yang semoga masih menarik untuk dibaca)

Di sinilah aku kembali duduk. Dalam sebuah perjalanan lain, menuju tujuan yang sama. Sebentar, biar kuhitung, ya. Hmmm ... Kalau tidak salah, ini adalah perjalanan 500km yang ke-7 untukku. 500km. Kamu pernah bilang sebesar itulah besarnya jarak yang terbentang antara kita. 500km itu kira-kira seperti perjalanan dari rumahku ke taman langganan kita, namun dikali 100 kali. Bedanya, jika ke taman kau biasa kubonceng di sadel sepeda merah, perjalanan ini kutempuh dengan gerbong-gerbong besi yang bergerak lugas di atas jalur relnya. Pernah terlintas di otakku, apakah sensasi menempuh perjalanan bolak-balik 100 kali dari rumahku ke taman akan menyamai sensasi perjalanan untuk menemuimu menggunakan kereta ini. Tidak. Tidak akan sama bila kujawab sekarang. Tentu saja aku belum mencobanya, tapi aku yakin sudah akan jawabannya.

Kutarik nafas dalam-dalam. Kembali ke bangku nomor 17A di gerbong 3. Aku selalu memesan bangku yang terletak di pinggir jendela agar bisa menatap langsung ke alam dan kota yang bergerak cepat ketika kereta berlari. Baru saja aku memesan secangkir kopi hitam panas untuk menemani perjalananku. Pilihan yang salah, tentu saja, karena kita sama-sama tahu bahwa kafein justru mempercepat detak jantung, memompa aliran darah, membuat diri tak tenang. Namun, tampaknya hanya cairan kental ini yang cocok menjadi pendengar jeritan hatiku. Di luar sana, gerak alam dan kota melambat. Kereta akan mampir di satu stasiun. Mengangkut penumpang lain yang bertujuan searah denganku. Beruntunglah tak ada penumpang yang akan mengisi sisi kiriku, sehingga aku bisa bergerak lebih bebas di kursi empuk ini.

Apakah selalu begini rasanya. ‘Iya’ jawabmu kali itu. Kita sudah sepakat bahwa seribu kali pun kita mengalaminya, rasa itu akan tetap sama, baik rasa pertemuan maupun perpisahan. Kita “dibesarkan” empat tahun terakhir ini dalam kebersamaan yang sesekali saja mengedepankan pertemuan fisik. Sisanya, hanya keyakinan bahwa kaulah yang mengisi hatiku. Selain status tentunya. Samalah dengan apa yang kurasa saat ini, terlebih setelah menyesap cairan  kopi. Jantungku seolah berdetak tak beraturan. Darah yang dipompa jantung seakan bergerak berlomba dari pusatnya ke berbagai arah di dalam tubuhku. Kita sama-sama tahu bahwa ini adalah pengalaman pertama kita, menjalani hubungan seperti ini, maksudku.

Menyoal hubungan, bagaimana jika kau sekadar menemaniku di perjalanan selama 9 jam ini dengan membahas soal ‘kita’. Anggap saja kamu duduk di sebelah kiriku yang kosong ini, memesan kopi hitam yang sama karena kamu yang awalnya mengajarkanku untuk menyukai kopi. Lalu, bergumam dengan bawel agar kita memesan nasi goreng khas kereta bisnis langganan karena katamu masakan mereka cukup enak. Nah, anggap saja kamu mendengarkan aku sambil mengunyah butir-butir nasi yang membuat pipimu menggembung, lalu mengomentari hingga makanan itu berjatuhan. Tingkahmu seperti biasa, yang kerap aku komentari, namun pada akhirnya aku justru merindukan sikapmu itu.

Empatpuluh tujuh bulan lalu. Di sebuah Februari yang basah karena masih mengidap sindrom penghujan. Kedekatan kita yang semakin intens menghasilkan ketidaksengajaan, sebut saja begitu. Kala itu, aku belum lama berpisah dari seseorang yang kusayang. Dan kamu, di ujung telepon dengan setia mendengar keluh kesah dan kesedihan yang mungkin tidak layak dirasa oleh seorang laki-laki. Sekian lama kita bertukar pikiran dan pengalaman, termasuk kamu yang pernah memendam cinta kepada seorang teman kerjamu. Akhirnya, di suatu siang yang masih basah, kita bertemu di sebuah kedai kopi. Tempat di mana kamu bilang, “Kopi Indonesia itu enak-enak, rugi kalau nggak suka dan nyoba.” Lalu, obrolan berlanjut ke  arah yang mengerucut. Kau sempat ragu andai kau hanya menjadi tempat pelampiasanku, dan aku terus meyakinkan tidak. Akhirnya kita ada. Cinta karena terbiasa bersama dan saling mendengarkan. Hanya saja, episode lain muncul dalam hidup kita. Kamu harus ikut keluarga besarmu yang pindah ke luar kota karena ayahmu dipindah tugas bekerja.

Aku lanjut bercerita, ya. Walau kamu sudah paham kisah ini di luar kepala. Habiskan saja nasi gorengmu, atau kalau mau esap saja kopiku sebelum mendingin. Lalu, ketika itu kita tidak yakin akan episode itu. Hanya saja kita mau mencoba. Entah apa alasannya. Kadang ada beberapa hal yang tidak bisa dijawab dengan kalimat, namun dengan kenyataan. Seperti ini misalnya. Jika beberapa temanku bertanya akan keyakinanku akan hubungan kita, aku tidak akan bisa menjawabnya. Bibirku otomatis terkunci dan hanya mengeluarkan erangan tanpa arti jelas. Bukan karena aku tidak yakin. Tapi, kamu sudah membantu menjawab, “Masih bersama dalam hubungan ini, hingga saat ini, itulah jawaban yakin atau tidaknya”.

Jadwal pertemuan sekian puluh hari sekali tentu tidak mencukupi kebutuhan batin. Bahkan, seolah kerongkongan yang justru makin meradang ketika diisi air kelawat dingin, begitulah rasa  yang kita emban ketika perpisahan menutup pertemuan. Pertemuan justru menyisakan rasa kangen yang makin besar. Entah bagaimana kerja kimia dalam tubuh hingga perasaaan rumit seperti itu bisa tercipta. Tidak bertemu rindu, setelah bertemu tidak sanggup kembali bertemu rindu. Jika rindu antara kita adalah air, mungkin sebuah aliran mata air telah tercipta, terus mengalir karena ketika panas mulai datang, hujan sekejap tetap membasahi. Jadi, kita tidak pernah berusaha iri dengan perjalanan kasih orang lain karena tidak akan sama. Mereka mungkin tidak sekuat kita bila berada di posisi yang sama, atau kita justru tidak seberuntung mereka. Berhentilah membandingkan. Pilihan kita adalah jalan kita. Aku tidak pernah membayangkan akan tanpamu. Itulah alasan yang menguatkan tiap kali kita meragu. Aku tidak pernah membayangkan akan tanpamu. Jadi, “bertarunglah” untukku.

Kamu ingin dengar apa lagi? Sudah habis makananmu? Mungkin setelah ini giliran kamu yang memiliki cerita versi sendiri untuk kudengar. Walau kuyakin tidak beda jauh dariku, ya semoga begitu. Semoga kita masih berada di satu frekuensi, masih satu tujuan walau kadang beda jalan. Tahan maumu untuk berbagi kisah karena masih 3 jam lagi kita baru sesungguhnya bersua. Tahan maumu untuk memeluk pinggangku di boncengan motor ketika mengelilingi kota indahmu. Kota yang selalu membuatku ingin kembali dan menumpahkan kekaguman, bukan hanya karena ada kamu, namun keindahan yang memang ada dari kota kecil itu. Aku masih sempat menghabiskan malam nanti dengan membawamu ke tempat favoritmu. Walau kamu sering ke sana bersama ayahmu, rasanya tetap berbeda denganku, katamu. Kala kutanya apa alasannya, mungkin karena wangi parfumku, jawabmu.

Oh, iya. Ada satu lagi hal yang kita lewatkan dalam perbincangan ini. Dulu, kita pernah membicarakan hal ini. Kamu memang tidak memaksakannya, namun kamu memang pantas membayangkannya, maka kini aku akan mewujudkannya. Belum bisa menebak apa? Petunjuknya: Ini adalah inti dari impian kita, ya mungkin, karena setelah hal ini masih banyak hal yang kita andaikan untuk dilakukan bersama. Impian kita yang bertumpuk, di antaranya bisa kita wujudkan saat kita kembali berdekatan lagi nanti. Bukan dekat hanya untuk dua hari seperti pertemuan kita yang biasa, namun kedekatan yang semoga abadi. Dekat hingga hanya kamu yang kulihat pertama kali ketika hendak tidur dan kembali membuka mata. Sudah bisa menebak, kan? Omongan ini memang agak ngalor-ngidul, mungkin karena aku tidak sanggup memberitahumu semudah itu. Hatiku sedang bersiap. Bukan sekadar untuk menemuimu, namun juga walimu. Walau 70% aku yakin jawabannya ‘ya’, tapi inilah anugerah rasa yang akan didapat setiap laki-laki yang akan meminta izin kepada ayah dari wanita kesayangannya. Izin untuk mengambil alih tanggung jawab untuk melindungi dan menafkahi.

Dari bangku ini, aku seolah melihat wajahmu memerah dan mulutmu ternganga karena tidak percaya apa yang akan kukatakan nanti. Sekarang, pergilah dulu dari sisi kiriku, bersiap dengan dandanan  manis nan cantik. Sebentar lagi aku tiba. Jangan lupakan pelukan untuk menyambutku, atau jika malu kepada orangtuamu, cukuplah genggam tanganku. Kuharap kamu tidak melihat apa yang kusembunyikan di saku. Sebuah cincin berhias permata sederhana. Sesuai mintamu dulu.

  • view 140