Daftar Centang dan Sofa Abu-Abu

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Mei 2016
Daftar Centang dan Sofa Abu-Abu

Sepertinya cukup untuk hari ini. Buket bunga, 30 mawar pink, 20-nya putih. Oke, centang.

Perasaan itu lagi. Otot-otot melemas dengan superdahsyat. Tidak ada kuasa untuk menolak. Cahaya di sekeliling meredup, nyaris gelap. Di tengah kesadaran yang hampir habis, aku menggapai ujung sofa. Lemah, namun tersenyum.

Iya, iya, Ibu, yang itu sudah aku centang. Pakaian satu, pakaian dua, semua beres.

Pesanan katering juga sudah. Tapi, Ibu bantu pastikan jumlah gubukannya, ya.

Eng, soal mobil pengantin, biar Mamas yang urus.

Energi yang masih cukup, meski sudah tidak penuh. Tidak ada status tertekan karena tiap proses kami jalani dengan bahagia, kecuali Mamas yang dua hari lalu sempat drop dan dibawa ke klinik. Itu saja. Tidak ada pertengkaran berarti, kecuali beda pendapat soal warna souvenir yang dapat kami selesaikan baik-baik. Sejak dulu, orang selalu berkata proses persiapan pernikahan sangat rentan depresi dan carut-marut lain, toh nyatanya untuk kami lancar-lancar saja.

Hanya saja, lagi-lagi aku tak mampu melawan kehendak tak sadar dari tubuhku. Gravitasi yang menarik-narik dengan kuat. Roboh. Memberi rasa nikmat tak terperi dan hanya aku yang mengetahuinya. Terkadang ketika aku sudah merasa cukup, dorongan itu memaksaku tetap terikat dalam keinginan tubuhku. Merayu dengan segenap tenaga dan tidak membiarkanku mendebat.

Nak!

Teriak Ibu.

Ya?

Aku menoleh sedikit dan menyiapkan daftar centang. Ini keseribu kalinya Ibu memanggilku dengan ceroboh. Mungkin ia panik. Atau . . .?

Undangan sudah semua, kok, Bu. Dikirim pos, via sms dan bbm, semua beres.

Nah, ini bolunya enak. Aku boleh cicip, ya. Nggak bikin kebaya sempit. Janji!

Nak!

Ibu kembali berteriak seolah makanan itu beracun. Atau . . .?

Oh, iya!

Aku teringat sesuatu yang belum dicentang dan berusaha bangkit melawan, namun lagi-lagi aku tidak punya kuasa. Tubuh ini masih nyaman terlelap di sofa abu-abu dikelilingi berbagai benda untuk hari besar. Tidak sanggup. Aku hanya bisa di sini. Sejak tadi memperhatikan lewat tubuhku yang tertidur panjang, mengingat detail demi detail yang sudah terlewat. Maaf, Ibu, hipersomnia-ku datang lagi!

 

 

*hypersomnia (hipersomnia) satu dorongan (desakan) yang tidak dapat dikontrol untuk tidur; keinginan tidur yang berlebihan.

  • view 88