Dari Daun yang Berguguran

Desi  Mandasari
Karya Desi  Mandasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 April 2016
Dari Daun yang Berguguran

Dedaunan rontok berwarna kuning, sebagian menghitam, diam membisu ketika kedua kakiku menginjak-injak tanpa ampun. Tidak ada derak karena semuanya lembab, nyaris basah, karena hujan tadi malam. Dahan-dahan membentang lebar layaknya tangan-tangan penyihir menebar mantra dalam ramuan, perlahan masih menjatuhkan daun satu demi satu karena hembusan angin. Tangkai-tangkai nyaris botak.

Meski tanpa derak, perasaan itu masih terasa dari dalam dadaku. Riang yang sama, bercampur rindu, tiap kaki-kakiku melompat ke sembarang arah menginjaki  dedaunan. Rindu karena telah lama semua ini kulewati tanpamu. Riang? Sebentar. Perasaan yang satu ini belum bisa kujelaskan dengan pasti karena tidak ada yang patut dirayakan dari perpisahan. Mungkin pengobatnya hanya datang dari detik waktu. Bahkan, jika hatimu pun tidak ingin sembuh dari luka, selamanya. Namun, kembali ke tempat ini, melakukan hal yang dulu sering kita lakukan bersama, menyesap kembali kenangan yang telah kukubur kembali ke permukaan samudera pikiran. 

Dulu, awal kau pergi, aku pernah mencoba kembali ke tempat ini, meski hanya untuk berdiri sepersekian detik, lalu berbalik dengan cepat seolah itu dapat menahan air mataku meluncur deras. Namun, beberapa hari lalu aku sadar bahwa kenangan harus dirayakan. Hujan memudahkan langkah, menuntunkan akhirnya berdiri kembali di sini. Aku menatap puncak pohon, memicingkan mata, dan tersenyum. Senyum pertama kembali di tempat ini. Ternyata, percaya pada waktu memang pilihan tepat. Masih sedikit perih masih ada, atau justru tidak akan hilang. Rasa sakit kehilanganmu tidak akan hilang sepenuhnya. Setiap yang hilang dari kehidupan manusia sudah terlanjur menempati bloknya masing-masing di dalam hati. Meski kau pergi jauh, selama apa pun hari sudah terlewat, setidaknya ada bagian darimu yang tetap abadi bagiku.

Seperti kali ini. Demi mengingat senyummu yang dulu ketika melihatku riang menginjaki daun kering, aku menari berputar seolah sakit itu tidak pernah ada. Tampaknya hari ini langit tidak akan mendung dulu. Aku percaya, ketika kita memutuskan untuk mengejar mimpi masing-masing, kemudian pulang dengan hasil apa pun, di sanalah takdir akan mempertemukan kita lagi, entah dalam bentuk dan lewat cara apa. Mungkin lewat berita di koran atau radio, mungkin lewat sebuah undangan pernikahan di mana namamu terukir di sana, mungkin hanya lewat mimpi, tapi yakinlah bahwa semuanya adalah jawaban. 

 

Image courtesy: www.digaleri.com

  • view 251