Bahagia Bersamamu

Lidya Nurlita Sabatini
Karya Lidya Nurlita Sabatini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 September 2016
Bahagia Bersamamu

Pertemuan tahun lalu dengan dia yang selalu memberikan inspirasi dan kilauan hakikat manusia seutuhnya. Dia mungkin hanyalah wanita biasa bagi kebanyakan orang lain namun tidak untukku. Dialah pelibur seluruh kesedihan. Senyumnya mampu menjadi ramuan kebahagiaan yang mampu membuat hari-hariku menjadi lebih indah dan kembali semangat menjalani dan menikmati hari dengan penuh syukur. Namanya Mentari, dia relawan cantik yang bersedia mengajar dan membuat adik-adikku mempunyai harapan baru selepas keputusasaan yang mereka alami. Dalam satu minggu dia selalu rutin mengunjungi panti asuhan kami selama dua kali hari sabtu dan minggu. Dia merupakan seorang yang terlahir dari keluarga berada dan memiliki pekerjaan yang baik. Sedangkan aku, mungkin tidak akan pernah mempunyai arti apapun untuknya. Aku hanya seorang yang memiliki pekerjaan serabutan yang tidak menentu. Menerima pesanan sablon yang tidak pasti jumlah dan keuntungan yang akan aku dapatkan. Tapi semua aku syukuri karena aku percaya Allah pasti akan mencukupi semua yang aku butuhkan. Sang Maha Kasih Yang Tak Pernah Pilih Kasih.

Pertemuan demi-pertemuan pada akhirnya membuat kami semakin dekat, perasaan ini apakah bisa aku kendalikan sedang yang aku rasakan adalah kekacauan hatiku setiap kali melihatnya. Apakah aku jatuh cinta? tanyaku dalam hati.

“Hai Taqwa” tanya Mentari simpul

“Adakah yang salah dengan materi yang aku ajarkan sampai kau melihatku seperti itu?”

Hatiku semakin tak berirama, wajahnya, suaranya, semua yang ada padanya semakin membuatku ingin sekali memilikinya. Walau aku tahu pasti ini akan sulit dan butuh perjuangan yang tiada akhir namun aku percaya bila memang dia adalah jodohku, Allah pasti akan membuka seluas-luasnya jalan kemudahan dan tidak akan pernah membiarkan aku berjuang dan berjalan sendirian.

“Tidak, kamu hari ini terlihat cantik?” jawabku

“Apakah kamu selalu bahagia sehingga aura cantikmu bisa kekal bersinar?”

Taqwa, pertanyaanmu itu terdengar seperti buaian. Tapi dengarkan dulu penjelasanku. Mungkin yang kamu lihat hanya bentuk aku dari luar yang terlihat penuh dengan keceriaan dan kegembiraan, mungkin juga kamu tidak pernah tahu bahwa ternyata aku memiliki segudang masalah tapi aku punya penolong dan penopang yang selalu siaga untukku. Sebesar apapun masalah yang aku hadapi, asalalkan ketaatanku tak pernah berubah kepadaNya semua itu bisa aku hadapi dengan baik. Dia yang selalu membuat aku bersyukur atas kesempatan hidup yang aku miliki. Mengajar dan melihat senyuman mereka, berbagi kebahagiaan kecil yang bisa aku lakukan, bercanda dan menghibur mereka sudah amatlah menjadi hadiah untukku. Jawab Mentari.

Saat itu muncul sebuah semangat yang tiba-tiba datang untukku. Semangat untuk lebih dekat mencintai Dia, Tuhanku. Bermesraan dan meminta restu dariNya. Meminta petunjuk pada Sang Maha Cinta. Meminta Dia untuk mentenagai semua perjuanganku untuk memapankan diri agar sesuai mendampinginya. Aku tahu tubuhku tidaklah sempurna seperti kebanyakan manusia lain pada umumnya. Tapi aku tahu, tidak pernah ada yang salah dalam penciptanNya. Aku hanya dikurangkan untuk dilebihkan derajatku olehNya. Saat itu aku memulai menekuni komputer. Belajar otodidak dengan dana seadanya, mencari sahabat baik yang bersedia membantuku tanpa pamrih. Niatku, aku ingin menabung untuk masa depanku dengannya. Aku menerima pesanan berupa mendesain gambar untuk pakaian seragam sekolah, walau hanya pesanan musiman namun aku sangat bersyukur atas rezeki yang Allah kasih untukku. Kepercayaan diriku mulai tumbuh saat itu.

Enam bulan kemudian sebagai pejantan tangguh yang memiliki tekad bulat untuk mengutarakan maksudku pada Mentari, permaisuriku itu. Aku tidak hanya ingin dekat dengannya, aku juga ingin beribadah dengannya. Menikah dan membangun puing-puing untuk kekal tinggal bersama di surgaNya. Sehidup sesurga bersamamu. Itulah tujuan utama hidupku.

“Mentari, bolehkah aku meminta waktumu karena ada yang ingin aku bicarakan?” tanyaku

“Apa yang perlu aku dengar, raut wajah dan matamu seperti gelisah? Apakah kamu baik-baik saja, Taqwa?” Jawab Mentari

“Aku ingin meminangmu, aku ingin datang ke rumahmu dan aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu. Apakah aku bisa mendapatkan izinmu untuk melakukan itu?” Tanyaku

“Aku membuka kesempatan, silahkan apabila kamu ingin berkunjung untuk bertemu dengan kedua orang tuaku” Jawab Mentari

Pertemuan yang direstui dan diridhoi olehNya berjalan sangat mulus, tidak ada hambatan apapun. Aku mengerti kini mengapa Mentariku memiliki hati yang luar biasa besar karena ternyata dia terdidik dari keluarga dengan pemilik hati yang luar biasa besarnya. Tidak bisa diukur. Keluarganya yang begitu ramah dan penyayang. Mereka bersedia menerimaku tanpa melihat sisi kurangku. Terima kasih ya Allah, sujud penuh tangis atas anugerahMu. Lagi dan lagi.

Tidak lama berselang, saat tabunganku sudah cukup. Akhirnya aku resmi menikah. Istriku, Mentariku. Sehangat mentari pagi yang tidak pernah lelah menyinari hari-hariku. Hadiah istimewa yang harus aku jaga dengan baik. Titipan yang harus aku bahagiakan karena aku bertanggung jawab utuh atas dirinya.

Diatas posisi hebatnya di kantor, dia memilih posisi baru karena dia mengerti posisi inilah yang nanti bisa membuat aku hebat. Melepaskan seluruh atribut pekerjaan yang sudah lama dijalaninya. Berkorban untukku. Isriku yang baik hatinya. Bagaimana mungkin aku bisa melukai dan menyakitimu. Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kita. Akhirnya aku beranikan diri memulai merintis usaha baru tanpa mengesampingkan kewajibanku untuk membahagiakan adik-adikku di panti. Aku membuka toko dan menerima pesanan untuk desain dan cetak langsung barang-barang sesuai dengan kebutuhan para pelanggan. Alhamdulilah, ternyata benar apa yang ustadzku bilang dulu. Dengan menikah Allah akan membukakan pintu rezeki dari arah manapun. Aliran rezeki yang baik dan penuh keberkahan. Aku mengerti dibalik semua kepedihan yang dulu pernah aku rasakan, Allah uji aku dengan kesabaran sampai akhirnya aku pantas menerima hadiah paling mewah darinya. Sehidup sesurga denganmu. Bahagia selalu bersamamu. Hari ini dan nanti, wahai kamu pemilik seluruh hatiku. Ya Allah, Tuhanku. Terima Kasih.

  • view 266