Sebab Do’a Juga Bagian Dari Rindu Yang Belum Sempat Tertuntaskan Dengan Pertemua

Lidia Damanik
Karya Lidia Damanik Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 September 2016
Sebab Do’a Juga Bagian Dari Rindu Yang Belum Sempat Tertuntaskan Dengan Pertemua

Selamat malam rindu, aku tak pernah jenuh menceritakan tentangmu pada mereka terlebih lagi pada dunia ku dan semesta yang segera tersenyum ketika mendengar cerita mu, cerita ku begitupun cerita kita. Rindu bertemanlah dengan baik bersama ku, kala dia yang kuceritakan pada mu tak kunjung hadir dihadapanku. Mungkin karna waktu yang belum menepati janjinya pada kami yang sedang memupuk rindu hingga pertemuan menjadi sangat berarti. Rindu malam ini kau hadir mengganggu pikiran ku, pikiran yang sedang berkecamuk karna kau, yang mulai tak mampu membendung rasa ini terlebih rasaku untuknya, pria yang selalu kusebut di tengah sujud dan do’a ku.

Kini pria itu mulai kembali menggangu pikiran ku yang sempat tenang karena rindu itu tak kembali mengusik. Tapi malam ini aku kalah olehnya, aku harus berkata jujur bahwa rinduku memang sedang butuh kamu sebagai pengobatnya. Namun waktu juga belum mengizinkan untuk kita saling meluapkan. Sebab kau yang kini sedang sibuk dengan rutinitasmu, untuk kehidupan dimasa depanmu harus terus berjuang, sedang aku yang hanya bisa menahan rindu dan harus kembali berdamai untuk menjaga agar rindu ini tak mengacaukan suasana hati.

Sering aku bertanya kepada mu kapan waktu akan mengizinkan kita bertemu? Berbagi tawa, cerita, terlebih meluapkan rasa rindu yang amat terdalam ini. Namun kau menjawab, tenanglah kita pasti bisa berdamai dengan rindu. Aku kini sedang berusaha untuk mengejar waktu yang akan segera mempertemukan kita.

Malam itu seperti biasa kita bercerita tentang keseharian mu yang sibuk dan lelah dengan rutinitasmu yang tiada henti, mungkin ini yang disebut dengan rindu. Sebab wajahmu yang terlihat didepan ponselku sangat menyejukkan, kau yang sedang tidak lebih baik menampangkan senyum terbaikmu. Aku rindu.... rindu senyum itu, senyum yang dulu selalu kau perlihatkan agar tangisku terhenti di ujung malam itu. Tak ingin ku akhiri kegiatan kita malam itu, tapi apa daya kita hanya bisa bertegur sapa melalui ponsel kita masingmasing, tidak dengan uluran tangan yang pernah kau berikan untukku dulu, tidak pula dengan bahu ynag menjadi tempat ku bersandar dulu.

Semoga apa yang telah menjadi komitmen kita tetap kau jaga utuh, seperti awal kita memutuskan untuk menjalani hubungan yang dipenuhi dengan rindu ini. Dan tenanglah rindu ini tetap untukmu kekasih dalam do’aku.

  • view 252