Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 24 Februari 2016   15:43 WIB
sebuah titik

Aku sebuah titik, itu sebabnya engkau harus berhenti.

jika engkau berada di suatu titik dan engkau mengharapkan pertemuan dengannya namun dia tak kunjung menemuimu, ah mungkin saja engkau salah bukan di titik itu.?

oh tidak engkau merasa benar jadi engkau harus menunggu dirinya tetap menantinya, tetap di titik itu. ooh?mungkin saja engkau terlambat datang dan dia telah meninggalkanmu di titik itu.

lalu aku harus bagaimana?

tanya engkau dalam hati, tetap menanti di titik itu, tetap berharap asa kan datang, tetap membisu ingin melihat dia yang akan datang menjemputmu.

cobalah kau urai kembali apa benar dia mengatakan tentang?titik itu, apa benar dia telah berjanji menemui. apa benar dia dengan pasti berjanji menjemputmu.

ya dia telah berkata tentang titik itu, dia telah berjanji menemui, menjemput.. jawabmu perlahan yang mungkin hanya didengar oleh sang angin.

mendung sesaat menghiasi langit, hujan pun perlahan turun namun pasti, kulihat engkau tetap berdiri disana di titik itu, berdiri, menanti.

Hujan telah pergi meninggalkan bumi, sisakan kesejukan dalam hati, kini kulihat mendung di matamu semakin menjadi, kini air matalah yang tumpah menetes di pipi, membasahi gelisah yang tak kunjung pergi, engkau yang dengan sabar menanti, dia kan datang menemui, menjemput, engkau tak tergoyahkan tetap berdiri menanti?di titik itu.?

oh kawan, mungkin dia takkan datang menemui, mungkin dia sedang terlelap tidur terlupa semua janji, mungkin dia tengah bersiap diri menemui namun dia menemukan titik yang lain yang lebih pasti, bukan di titik tempat dimana kau berdiri.

untuk sang pembaca titik adalah dimana kau berhenti, untuk sang petualang titik adalah kesempatan berhenti sesaat sebelum memulai, untuk jiwa-jiwa yang kerdil, ketahuilah satu titik yang pasti yang akan kau temui engkau ga tau kapan itu terjadi tapi yakinlah titik itu pasti, saat kita menghadap illahi.

eleven meters

Karya : Lia Rosiliana