SYAIR LADANG DI BUMI

Leyla Fajr
Karya Leyla Fajr Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 25 Agustus 2017
SYAIR LADANG DI BUMI

Alkisah.
 
Di Bumi, aku punya ladang. 
Aneka tanaman menghias tubuh bak hamparan permadani hijau. 
 
Aku terbiasa mereguk air yang gemericik terjun ke ngarai. 
 
Sangat biasa.
Demi dahaga yang bergelora...
 
Aku, bersahabat dengan angin.
Di hadapku, ia mesra membelai sampai ke pucuk-pucuk dahan.
Sampai...
Suatu pagi di tengah tragedi.
Riuhnya badai ternyata menebar hama. 
Angin ribut, berkhianat dibelakangku. 
Hingga satu persatu tanamanku menguning, layu dan akhirnya mati. Permadaniku itu? bagai dimakan api. 
 
Lalu,
Setiap kali menengok ladang, aku berhenti merasa bangga. 
Aku berhenti mempercayai angin.
Aku berhenti mereguk ngarai.
 
Aku frustasi atau lebih tepatnya patah hati.
 
Ku pikir ladang mutlak milikku. 
Lantas marah pada segala hal yang merenggut hak kepemilikanku.
Huh...
Aku bicara hak kala itu. 
 
Aku lupa bahwa aku hanya seorang pengolah ladang yang bekerja pada "sang pencipta alam", dimana hak-Nya pun sering kulalaikan.
 
Aku termangu, sendirian di ladang  gersang yang kupijak...
Menahan tangis. 
Membungkal di penjuru hati, hingga sesakku pecah dalam isak, gelisah  menghimpit akal.
 
Sampai suatu hari, setangkai Dendelion kering yang tersisa di sudut ladang mendesah lirih padaku, "Life is must go on babe..." 
 
Aku terhenyak, masih ada mahluk yang survive di tengah abu dan debu. Terbayang betapa keras hidup yang akan dijalani dalam kekeringan.
 
Sementara aku?
Setidaknya masih memiliki tangan dan kaki yang utuh untuk berhijrah.
 
Dalam sujud penyesalan, samar kusimak jejak arsir yang menyerupai jalan. 
 
Pada garis yang diarsir itulah kuputuskan melanjutkan langkah.
 
Ladang tak lain hanya tempatku "menuai" hasil. 
Bukan tempatku di "keabadian".
 
Sebelum aku sampai diusia 24 tahun, begitulah hidupku, bilangan tahun bagai onggokan puncak gunung yang menantang sekaligus melelahkan.
 
Tapi ternyata disinilah ladang pengetahuanku, yang akhirnya membuatku selalu siaga pada setiap tembakan perubahan dalam garis takdir yang sudah ditentukan.
 
Pada tahun itu, aku kembali terlahir dalam lembaran kosong kitab "keberadaan."
 
Pada tahun itu, kulihat malaikat-malaikat disurga menatapku melalui sorot mata wanita cantik yang melahirkanku. Ku lihat juga gerombolan setan mengamuk di jantung beberapa orang dengan sangat mengerikan.
 
Baru kutau satu hal. Dia yang tak pandai membedakan wajah setan dan malaikat dalam putaran kebencian dan keindahan, akan jauh dari pengetahuan dan jalan kasih sayang.
 

  • view 54