Alasan Kenapa Anies Baswedan Lebih Dapat Diterima Warga DKI Jakarta

Lestari Adi
Karya Lestari Adi Kategori Politik
dipublikasikan 10 Maret 2017
Alasan Kenapa Anies Baswedan Lebih Dapat Diterima Warga DKI Jakarta

Gaya kepemimpinan sangat penting bagi keberhasilan proses pemerintahan. Sebab, gaya kepemimpinan menentukan birokrasi pemerintahan berjalan dengan baik, berbagai kebijakan terlaksana, tumbuhnya penerimaan publik, lahirnya kepercayaan kalangan pengusaha, kurangnya resistensi politisi dan organisasi massa, dan setiap aspek lainnya yang terkait dengan posisi seseorang sebagai pemimpin.

Dalam Pilkada DKI Jakarta tahun ini, terdapat dua pola kepemimpin yang berbeda di antara kedua pasangan calon yang berhasil ke putaran kedua, yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Saya hanya ingin membandingkan gaya kepemimpinan antara Anies dan Ahok karena di tangan keduanya proses pemerintahan di DKI Jakarta ditentukan.

Kalau membaca pola komunikasi Anies selama ini, dia meletakkan kepemimpinan tidak melulu persoalan memerintah, mengatur, dan mengeksekusi kebijakan. Bagi Anies kepemimpinan yang baik adalah kolaborasi antara semua elemen pemerintahan dan masyarakat. Gaya kepemimpinan ini juga diterapkan oleh Anies dalam semua level jabatan yang pernah ia emban. Anies membuka peluang bagi semua pihak untuk berkontribusi dan berpartisipasi dalam proses pemerintahan. Akibatnya terjalin kerjasama dan komunikasi yang erat antara pemimpin dan yang dipimpin.

Dalam teori kepemimpinan, kemampuan menumbuhkan partisipasi pihak yang dipimpin berdampak positif bagi berjalannya setiap kebijakan yang dibuat oleh pemimpin. Sebab, ada kepercayaan dan penerimaan luas, baik terhadap sosok pemimpin maupun kebijakan-kebijakan yang ditetapkan.

Di sisi lain, gaya kepemimpinan Ahok cenderung menjauhkan kontribusi dan partisipasi publik. Dia menempatkan jabatan pemimpin berada di puncak hirarki organisasi pemerintahan yang bertugas untuk mengatur, memerintaha, dan mengeksekusi setiap kebijakan. Hal ini terlihat dari pola komunikasinya selama ini. Misalnya selalu terjadi benturan antara dirinya dengan lembaga legislatif, organisasi masyarakat, hingga struktruktur pemerintahan terkecil seperti RT/RW.

Gaya kepemimpinan Ahok ini membuat masyarakat resisten terhadap dirinya dan antipati dengan kebijakan yang diambilnya. Karena itu, ketika muncul fenomena “asal bukan Ahok” dalam pilkada DKI Jakarta saat ini, fenomena tersebut sangat lumrah. Pasalnya, Ahok seperti tidak mempercayai peran publik dan masyarakat luas dalam gaya kepemimpinannya. Kita jarang mendengar kata “kerja sama” dalam pola komunikasi Ahok. Sebaliknya, Ahok lebih banyak menggunakan bahasa “saya akan gusur, taik, maling lo, untung saya tidak polisikan, kita pemerintah akan bangun, dan lain-lain.”

http://wartakota.tribunnews.com/2016/11/30/anies-baswedan-tawarkan-kepemimpinan-gerakan-bukan-pendekatan-program

 

  • view 96