Kacang! Ngacangin! Dikacangin!

Leo Sihura
Karya Leo Sihura Kategori Psikologi
dipublikasikan 28 September 2017
Kacang! Ngacangin! Dikacangin!

Kacang, pada dasarnya istilah kacang adalah terminologi biologi untuk menyebutkan biji sejumlah tumbuhan polong-polongan. Dalam percakapan sehari-hari, kacang dipakai juga untuk menyebut buah (polong) atau bahkan tumbuhan yang menghasilkannya. Sedangkan Kacang-kacangan adalah sebutan untuk biji yang berukuran relatif lebih besar dan digunakan untuk bahan pangan bagi manusia dan hewan ternak. (comment: wkwkwk...ini bahasanya formal banget, kaya main ambil dari wikipedia atau sejenisnya, ini mah Cuma pengertian kacang secara umum...mane dikacanginnya?)

(Penulis punya correct: sabar..., ini baru ngoceh2..ok saya lanjutkan lagi...)

Namun, akhir-akhir ini kata atau istilah “kacang” tidak hanya digunakan untuk menterminologikan suatu buah biji polong-polongan ataupun hal yang berkaitan dengan istilah botani seperti istilah latin. Oleh kalangan manusia setengah remaja, kata kacang menjadi sebuah analogi ataupun kata ganti untuk istilah di”cuek”kin atau tidak didengarkan atau bahkan didiamkan.

Sebenarnya, hal yang menjadi pertanyaan besar saya bukanlah arti dari dikacangin, melainkan asal-usul penggunaan kata kacang itu sendiri. Lalu bagaimana sejarahnya? Akankah kita temukan di tulisan saya ini? Akankah ada jawaban yang bisa menjadi kemungkinan referensi? Akankah naruto atau sasuke yang jadi hokage? Akankah saya akan pindah ke Meikarta? (penulis punya correct: kacangkan saja pertanyaan retoris saya yang keempat dan kelima dalam paragraf ini).

Setelah saya memikirkan beberapa saat saya mempunyai beberapa hipotesa yang mungkin cocok untuk rumusan masalah ini, namun mengingat metode ilmiah, maka saya menggunakan pengumpulan data dan observasi serta tinjauan pustaka untuk bisa mendapat kesimpulan yang akurat.

Saya berselancar di internet untuk mencari referensi-referensi yang mungkin telah ada mengenai masalah perkacangan ini, namun ternyata masih jarang sekali pembahasan mengenai kacang yang tertukar ini, mungkin kelangkaan tersebut konon didukung oleh ketidakpentingannya untuk dibahas. (meta comment: ini gimane sih..., dari tadi beda mulu pengucapan kacang-nya? kalo gak penting napa dibahas om penulis?).

Setelah merumuskan beberapa referensi dari internet dan mengfusikan dengan hipotesa saya, maka berikut data yang telah saya dapatkan:

Ada beberapa kemungkinan :

1. Dikacangin berasal dari tukang kacang yang sering teriak "kacang...kacang...kacang" di pinggir jalan, dan biasanya sering kita cuekin begitu aja.

2. Keasikan main game sambil makan kacang, sehingga segala hal dan orang lain sering kita cuekin.

3. Keselek kacang, sehingga mengabaikan hal-hal disekitar kita.

4. Harga kacang yang relatif murah dan mudah ditanam dan sangat pasaran, sehingga kacang dianggap barang murah dan sering diabaikan.

5. Manusia suka kacang, sehingga ada keinginan besar untuk membentuk suatu kata kerja dengan menggunakan kata "kacang."

6. Indonesia subur kacang, sehingga saking suburnya tidak dapat menampung lagi kacang2, dan akhirnya dipindahkan juga ke dalam bentuk kata kerja.

7. Ilham atau Wahyu yang langsung turun ke beberapa orang, lalu tersebar seperti sihir.

8. Atau mungkin karena kita memang terlalu pintar, terlalu jenius, atau terlalu idiot.

9. Dan kemungkinan-kemungkinan ajaib lain yg persentasenya relatif kecil

Dalam buku harian Tatang Sutarman, tertulis bahwa Kacang-in merupakan suatu aktifitas yang hanya bisa dilakukan oleh dua individu atau lebih yang dimana pada aktivitas tersebut salah satu individu atau kelompok tidak mendengarkan perkataan dari individu atau kelompok lainnya yang akhirnya menghasilkan kekecewaan dan sakit hati yang sangat hebat. (meta comment: tragis bingits...kaya ngga dianggep...hiks..hiks...).

Bahkan dalam dunia perkacangan juga terdapat hukum-hukum tertentu, Menurut Kepolisian yang dijuru bicarai Oleh saya sendiri, hal ini termasuk dalam tidak kriminal melakukan perlakuan tidak senang pada orang lain. pada Pasal KUHP Tentang Kacang , Dikatakan Bahwa perilaku KACANG(in) termasuk perilaku kriminal yang dapat membuat sikorban sakit hati yang sangat dalam dari lubuk hatinya yang harus mendapatkan hukuman yang seberat berat berat beratnya,YAITU : minta maaf pada yang dikacangin. (meta comment: Wkwkwkwk....apaan sih nih).

Layaknya hukum Newton, Setiap aksi menimbulkan adanya reaksi. Tak terkecuali dalam dunia perkacangan yang kejam ini, sebuah aksi pengkacangan akan menimbulkan reaksi atau akibat terhadap reseptor kacangin yang antara lain:

Reseptor KACANG(in) :

       -Stress Hebat

                               -Linglung dan Seketika Hilang Ingatan

                               -Menangis Tiada Henti

                                -Kepala Merasa Terdidih

                                -Hati serasa Terdidih

Penstimulan NgaCANG(in):

         -Tertawa bahagia dan lepas

                                 -Ketinggalan berita (Biasa)

                                 -Merasa Bersalah (Bagi yang Masih Punya Hati)

Kesimpulannya:

Awal mula perkacangan ini adalah sifat dasar manusia yang kreatif dan sosial, inovasi yang diciptakan manusia tak sebatas terhadap teknologi melainkan juga pada kebutuhan interaksi, khususnya dalam penggunaan istilah dalam suatu bahasa dalam kasus kali ini adalah penggunaan istilah “kacang” yang kemungkinan akar dari inovasi dan kreativitas ada di atas tadi.

Perlu kita ketahui bersama Leonardo DiCaprio dalam filmnya yang berjudul THE INCEPTION pernah berkata bahwa, kurang lebih seperti ini: “sesuatu yang sangat membahayakan bukanlah senjata ataupun virus yang mematikan, melainkan sebuah ide (saya terjemahkan sebagai gagasan). Sekali gagasan masuk ke dalam otak kita, maka sangat sulit untuk melepaskannya terutama jika sudah tertanam dalam.” Merujuk pada kutipan di atas, kemungkinan besar penggunaan istilah kacang ini dapat menyebar luas karena telah timbul adanya tren dalam masyarakat, terutama mereka yang berjuluk manusia setengah remaja (meta comment: seenaknya aja buat istilah nih penulisnya...ckckck...), didukung dengan kemudahan untuk berinteraksi saat ini dengan mayoritas penggunanya adalah manusia setengah remaja tersebut maka gagasan ini dapat berkembang lebih cepat dari sebuah virus yang dapat menular bahkan hanya lewat sentuhan. Namun karena gagasan ini menggunakan bahasa tertentu maka gagasan ini mempunyai batasan penyebaran tersendiri, dengan kata lain gagasan ini hanya menyebar pada mereka pengguna bahasa asal gagasan, yaitu mereka yang Indonesia.

Namun yang masih belum dapat saya pastikan adalah siapa manusia ajaib pertama yang menggunakan terminologi “kacang” untuk menggantikan istilah “dicuekin”, “nggak didengerin” dan “didiemin”. Saya hanya dapat mengindikasikan bahwa manusia tersebut adalah manusia setengah remaja.

Mengingat adanya peribahasa kacang lupa kulitnya yang mungkin juga penyebab adanya istilah dalam perkacangan ini, maka saya minta maaf.

baiklah mungkin cukup sekian pembahasan yang konon dianggap tidak penting ini...semoga bermanfaat (?)....budayakan nulis versi sendiri.

  • view 92