Fenomena Akibat Rendahnya Literasi Dipandang Dalam Kacamata Islam

Ifah Nurdiana
Karya Ifah Nurdiana Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Fenomena Akibat Rendahnya Literasi Dipandang Dalam Kacamata Islam

Kejadian di sekeliling kehidupan adalah sebuah ayat, yang juga bisa dimaknai dan diambil hikmah untuk perbaikan di langkah selanjutnya.

Beberapa orang di sekeliling kadang lebih mengunggulkan persangkaan. Persangkaan yang semakin membesar, terhembus berita yang kurang benar adanya. Kemudian terburu-buru membuat kesimpulan tanpa tabayun (baca:klarifikasi -verifikasi) kepada pihak yang bersangkutan. Mungkin, kadung (baca: terlanjur) mengedepankan emosi, atau kedengkian atas pihak tersebut.

Perilaku kurang baik tersebut yang terus menerus diulang, maka ia akan menjadi sebuah karakter atau kepribadian seseorang. Tentu karakter yang tidak baik. Tidak baik dari kacamata dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Perilaku manusia yang seperti itu pun tentu semakin menunjukkan kecakapan literasi masih rendah. Literasi yang dimaksud sebenarnya bukan sekedar minat membaca dan menulis tetapi juga menyangkut literasi dasar yang meliputi literasi bahasa, numerasi, sains, digital, finansial dan budaya kewarganegaraan.

Literasi indonesia di rangking 64 dari 65 negara. Indeks minat baca pun di rangking 57 dari 65 negara. Data diambil dari PISA di tahun 2010. Bagaimana dengan minat baca? 
Yaa, bayangkan saja dari setiap 1000 penduduk di Indonesia, yang membaca hanya 1 orang (UNESCO : 2012).
Data tersebut tentu membuat kita perlu mengaca diri. Yah, lihat saja disekitar kita, teman-teman apalagi adik-adik kita. Seberapa banyak mereka yang minat bacanya tinggi. Pasti dapat di hitung jari.

Bagaimana keterkaitan minat baca yang rendah dengan perilaku sebagian orang yang dibahas di awal paragraf di atas?

Ya, tentu sangat-sangat berkaitan. Kegiatan membaca adalah gerbangnya segala ilmu pengetahuan. Orang yang membaca tentu digerakkan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu, kemudian akan terjawab dengan membaca, baik membaca tulisan ataupun keadaan.

Minat membaca yang rendah disebabkan rendahnya rasa ingin tahu bagaimana kebenaran sebuah kabar atau informasi dari orang lain. Akibatnya orang tersebut akan mudah percaya, mudah menilai, mudah memutuskan suatu perkara tanpa menindaklanjuti untuk mencari kebenaran sebuah informasi. Muncullah persangkaan-persangkaan sehingga api kedengkian dengan mudahnya menyulut hati.
Hal inilah yang HARUS segera dirubah. Perilaku-perilaku seperti itu harus segera diperbaiki. Kedepankan kebaikan, langkah yang ma'ruf menghadapi suatu informasi.

Penilaian orang, persangkaan orang yang kita dapatkan dari informasi yang datang perlu segera diverifikasi, atau dalam bahasa Al Quran adalah tabayun. Valid atau tidakkah informasi itu?

Sebagai seorang muslim harusnya memiliki kecakapan literasi yang baik, karena sebenarnya penjabaran pada literasi itu sendiri telah tertulis dalam kitabNya.

Literasi bahasa misalnya, mengupas kecakapan minat baca dan tulis. Al Quran juga menjabarkan perihal perintah membaca dari ayat yang pertama turun kepada umat manusia. Yaitu, iqro’ yang artinya bacalah. 

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. QS. Al ‘alaq 1-5.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. QS. Ar ruum 22.
Betapa banyak ayat-ayat AlQuran yang menjelaskan fenomena alam, teori2 dalam ilmu sains, tentang hubungan sesama manusia, dan segala hal. Kesemua hal itu dilanjutkan dengan ayat, maka apakah kamu tidak memperhatikan? Atau Maka apakah kamu tidak berpikir?

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. QS. Al Jatsiyah 13.


Sudah sepantasnyalah seorang muslim, mengusahakan untuk terus memperbaiki diri sebagai seorang muslim yang kaffah. Pikirannya tunduk dengan perintahNya bukan pada egonya.

Harapannya, manusia yang dididik dengan Al Quran maka arah berpikirnya pasti lurus, logikanya pasti jalan, sehingga kecakapan literasi dalam menghadapi problem kehidupan sehari-hari di masyarakat pasti juga akan baik.

Maka, perilaku-perilaku yang belum lurus di atas. Perilaku manusia yang mudahnya menilai orang atau pihak lain dengan buru-buru tanpa memverifikasi kebenarannya. Kemudian berhembus fitnah dan kedengkian. Salah satu sebabnya yaitu kecakapan literasi yang masih rendah. Sebabnya lagi, tentu karena kurangnya pembiasaan atau internalisasi nilai-nilai karakter. Sebabnya lagi, tentu kesadaran diri masih kurang. Jika manusia mampu menyadari diri sendiri, maka pasti akan mengikuti fitrahnya. Fitrahnya hati yaitu kebaikan. Kebaikan-kebaikan yang hidupnya dituntun lurus dengan AlQuran. Maka, perlahan pasti perilaku manusia akan lebih baik. Karena firman Allah jelas tanpa keraguan.

Inilah (Al-Qur'an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Qs. Ali Imran 138.

Pic from semestarasa.tumblr.com

  • view 81