Suara-Suara Sunyi

Suara-Suara Sunyi

Lentera Jingga
Karya Lentera Jingga Kategori Puisi
dipublikasikan 19 Juli 2018
Suara-Suara Sunyi

Masa lampau seringkali membuat seseorang minum obat sakit kepala, bir oplosan, pil penenang, atau apapun yang membuat dunia sementara hilang di matanya. Ia rela menyakiti diri sendiri. Ia puas menatap marah dan nanar kepada semua orang.

.

Hari demi hari, masa lampau tidak bisa berhenti. Ia mengikuti di balik bayangan dan sosial media. Lihat mereka yang berdosa puluhan tahun lalu, masih tersimpan gelagat dan foto sedih wajahnya yang lugu. Jika sudah seperti ini, masih adakah harga dari sebuah maaf? Ia hancur dan terinjak-injak. Darah dan memar jadi hiasan muka paling asri di cermin deretan pertokoan.

.

Sekarang, pasar bukan lagi pusat perdagangan, melainkan pusat kecurangan-kecurangan. Mereka bernegosiasi dengan menaikkan harga. Mereka tertawa melihat melasnya kaum papa. Ah, andai orang terlantar memiliki kuasa mengeluarkan api dari hatinya, niscaya pasarlah tempat pemantik paling merana sebelum gedung para dewan dan taman-taman bunga.

.

Pejabat parlemen yang duduk sambil mendengkur itu tidak tau rahasia orang-orang pinggir. Ada tabungan yang mereka isi dengan kepanikan. Bank, saham, dan investasi bukan lagi yang mereka cari. Hanya suara Ibu yang mereka rindu dan kasur adalah tempat paling nyaman untuk lupa telah menyiksa.

.

Pesawat tempur melesat bak pertemuan dua orang kekasih. Tetiba sampai, tetiba berjumpa. Pilot dan laki-laki sama-sama ingin melepas topeng penutup kepala; sekedar menghirup kejujuran dan menari bersama udara. Ah, mereka lupa mematikan telepon selulernya. Ada pesan dari anak kecil yang menunggu disanjung dan melamun ‘aku ingin terbang dengan pesawat yang membenci bumi bersama boneka supaya papa-mama hangat seperti sedia kala.’

.

Pecah kaca dan tangisan bocah bukanlah kegaduhan di tengah-tengah jalan raya. Pertanyaan ‘apa kabar?’ lah yang membuat keheningan kita pecah bagai tabuhan festival sore hari. Diam menjadi bahasa yang paling dimengerti dan perhatian menjadi puisi paling sastra yang pernah ku eja.

.

Bisakah aku berharap pada hati yang terpatah belah? Pada hati orang-orang masa lampau, pria berdosa, kaum pinggiran, dan tangisan bocah ingusan. Suara mereka jujur, apa adanya, dan berbahaya. Tidak seperti orang-orang yang tertawa penuh dusta; sembari sarapan kebohongan dengan kecap angan-angan.


















Sumber Thumbnail

  • view 53