Pilihanmu Berkelindan Kusut dengan Keinginanku

Pilihanmu Berkelindan Kusut dengan Keinginanku

Lentera Jingga
Karya Lentera Jingga Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juli 2018
Pilihanmu Berkelindan Kusut dengan Keinginanku

Aku ingin bertemu denganmu setiap waktu. Aku ingin menghubungimu setiap saat. Namun, semua itu sudah berubah, bukan? Kemarin adalah kemarin. Hari ini adalah hari ini. Cerita kita sudah berlalu semenjak kita saling menutup telepon. Kamu tau, cerita tinggalah cerita. Terbingkai rapi di sudut buku harian kita. Jika sudah seperti ini, akankah ia menjelma dalam peristiwa yang tidak kita sangka ? Bertemu misalnya.

.

Hari demi hari berganti. Langit membawaku pada kenangan waktu itu. Hujan membasahi pipiku dan hati yang belum sembuh. Bias. Aku tidak bisa membedakan mana air mata mana air hujan. Mereka seakan mendukungku untuk merayakan kesedihan hari ini. Ah ya, aku sepertinya belum bilang padamu bahwa aku bersahabat pada hujan. Namun, hujan tidak pernah tau siapa nama yang aku ukir dalam setiap doa. Namamu. Aku merahasiakannya pada hujan.

.

Di tengah deras hujan sore itu, aku berdoa dan sekaligus bertekad untuk menjagamu kali kedua. Sialnya, hatimu sudah dipalang oleh besi yang lebih sulit ditembus oleh serdadu manapun. Aku hanya terkulai dalam batas yang kubuat antara keinginan dan kebodohan menemanimu sekali lagi. Tak apa, itu pilihanmu. Pilihan hidupmu untuk membuat spasi antara kita, layaknya puisi-puisi yang ku buat. Spasi membuat kata-kata menjadi kian berarti.

.

Kita sudah berjanji, tak ada penyesalan di antara kita. Tapi aku merasakan dirimu sesak setelahnya. Benarkah itu? Aku berpikir, berpikir, berpikir, dan tidak menemukan jawaban. Entah memang kamu yang menginginkan sesak itu atau aku yang diam-diam membuka perihnya luka lama. Jika memang aku yang membuat luka itu, aku minta maaf. Kesalahanku menjagamu bagai amal tanpa ilmu –hanya berbuah sakit dan sengsara.

Namun, jika kamu sendiri yang mengundang sesak, aku akan melarangmu demi apapun. Kau harus rawat akal sehatmu itu. Jangan kamu ulangi, ya. Dunia tidak lebih baik saat kamu menyakiti diri sendiri.

.

Kini semua sudah berubah –seperti yang ku jelaskan di atas. Kita sudah belajar berjalan dengan tapak yang mantap. Tapak yang kita yakini atas kemampuan kaki sendiri. Mata kita sudah terbiasa menatap semua kemungkinan dan selalu beriringan pada keindahan prasangka. Aku senang jika kamu lebih baik. Pertanda kejadian kemarin bukanlah kesalahan. Pertanda tangis yang pecah itu tidak membawamu pada kerusakan. Pertanda keputusan kita mendekatkan pada ketaatan. Pertanda anugerah dari Tuhan itu benar adanya.

.

Kapan kita akan saling traktir? Kutunggu, meski penantian bertemu denganmu menyeretku pada bayang-bayang semu.
















Sumber Thumbnail

  • view 49