Surat dari Ibu

Lentera Jingga
Karya Lentera Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juli 2018
Surat dari Ibu

Ada kisah seorang pemuda yang tidak memiliki Ibu sejak ia kecil. Ia tak tau siapa Ibunya. Ia juga tak mengerti mengapa ia besar dan dirawat di panti asuhan ini. Pemuda itu sejak bersekolah SD sudah mempertanyakan di mana Ibunya. Ia melihat anak-anak seumurannya dijemput oleh Ibu dan anaknya dicium setelahnya. Ia iri, jelas ia iri. Mendapatkan kasih sayang Ibu adalah kerinduannya yang belum tersampaikan sampai sekarang. Ibu panti asuhannya berkata bahwa Ibunya meninggalkannya ketika masih bayi dengan alasan ekonomi. Ibunya meninggalkan alamat tempat ia menetap, tetapi setelah ditelusuri ternyata ia tidak benar-benar menetap di alamat tersebut.

.

.

Pemuda itu pasrah. Ia menjalani hari-hari tanpa Ibu merupakan hal yang biasa. Ibu panti asuhannya cukup baik dan mengerti anak-anaknya. Ia rasa, ada atau tidaknya Ibu bukanlah hal yang rumit.

.

.

Suatu ketika ada seseorang tergopoh-gopoh datang ke pemuda itu ketika pemuda itu sedang menyiram tanaman. Menyiram tanaman menjadi tugasnya setiap jam enam pagi. Orang tergopoh-gopoh itu datang membawa kabar bahwa ada seseorang yang mencari pemuda itu. Napas orang yang tergopoh-gopoh tidak beraturan, bicaranya agak tidak jelas. Ya sudah, pemuda itu mematikan keran tanaman dan menuju ke ruang tamu untuk menemui seseorang yang mencarinya. Setelah berjumpa, ternyata orang tersebut memakai seragam polisi. Wajahnya sangar khas polisi dan menyampaikan satu kabar yang sejatinya pemuda itu rindukan. Tapi ia menyangka kabar yang ia rindukan sebaiknya tak perlu ia tau.

.

.

Lima belas tahun silam ada seorang wanita setengah menangis menggendong seorang bayi yang masih belum putus tali pusarnya. Bayi tersebut dikerubungi selimut supaya tidak kedinginan karena angin malam. Wanita itu kebingungan hendak diberikan ke siapa bayi itu. Bekas pergaulan dari berbagai macam pria. Ia pun bingung untuk meminta pertanggungjawaban ke laki-laki yang mana sebab dirinya telah tidur bersama laki-laki yang berbeda setiap pekannya. Saat mengetahui dirinya telah mengandung, laki-laki yang pernah ‘bersama’ dengannya menyuruh untuk menggugurkan kandungannya. Ada pula laki-laki yang hanya memberikan uang dan menyuruhnya untuk pergi jauh ke tempat di mana mereka berdua tak akan pernah lagi bertemu.

.

.

Pada saatnya, anak itu akan lahir. Berminggu-minggu ia merawat buah hati dalam kandungannya itu. Sampai pada hari ini, anaknya telah lahir dibantu oleh tetangganya seorang bidan. Di lingkungan barunya, ia mengaku sebagai perempuan yang ditinggal suaminya melaut yang setiap setahun pulang. Mengetahui air ketubannya pecah, wanita tersebut segera mengetuk pintu tetangganya dan  meminta pertolongan untuk membantu persalinannya. Dengan meringis kesakitan yang sulit ditahan, akhirnya wanita itu melahirkan di rumahnya. Berbekal alat persalinan seadanya, bidan tersebut membantunya. Satu jam berselang, lahirlah seorang putra. Putra yang tampan, berkulit putih, dan memiliki alis yang tebal itu menangis. Ketika bidan tersebut bertanya di mana ayah dari putra ini, wanita tersebut tidak sengaja mengatakan dirinya tak tahu siapa ayah dari anak ini. Bidan tersebut terkejut, segera membereskan peralatannya untuk pulang. Sang Ibu berterima kasih dan ia tidak tau hendak dibawa ke mana anak tersebut. Bidan tersebut pasti mengatakan ke orang-orang tentang rahasianya, cepat atau lambat. Akhirnya ia memutuskan untuk ke panti asuhan. Ia meninggalkan bayi tersebut beserta nama bayi dan alamat yang disertakan dalam selimut bayinya.  

.

.

Pemuda itu terkejut mengetahui fakta dari Ibunya. Ibunya sudah tiada, dibunuh oleh seorang istri dari suami yang pernah menggaulinya. Polisi menemukan satu surat dalam laci sang Ibu dan secarik kertas berisikan nama anaknya dan alamat panti asuhan tempat ia meninggalkan anaknya. Di surat tersebut tertulis pesan untuk anaknya yang lima belas tahun ia tinggalkan. Wanita tersebut sudah menyiapkan pesan. Pesan terakhir dari seorang Ibu.

“Anakku, maafkan Ibumu. Ibu tau bahwa Ibu salah. Ibu sangat menyesal dengan semua yang telah Ibu lakukan. Saat kau membaca tulisan ini, kau pasti tau seperti apa profesi Ibumu ini. Ibu tau, kamu pasti membenci Ibu dan menyesal mengetahui kenyataan bahwa aku ini adalah Ibu kandungmu. Namun, satu yang harus kau tau, tiada hari yang paling membahagiakan selain hari melahirkanmu. Sungguh, Ibu sangat haru dapat memelukmu kala itu.

Anakku, saat kau sudah besar dan menjalani kehidupan yang semakin sulit ini, Ibu mohon supaya kau menjadi anak yang baik, yang kelak dapat mendoakan Ibumu. Doa darimu akan sangat membantu Ibu dalam menjalani hari-hari.

Anakku, ketahuilah, Ibu akan selalu bersamamu, selalu berada dalam hatimu. Ibu memperhatikanmu dan ikut bahagia ketika menemukan dirimu bahagia. Ibu juga akan bersedih ketika dirimu tersakiti. Dan rasakanlah cinta Ibu, wahai anakku, rasakanlah sentuhan dan belaian Ibu saat kau merasa sulit dan hatimu terasa patah.” (Ibumu)















Sumber Thumbnail

  • view 62