Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 3 Juli 2018   03:56 WIB
Berada Dalam Inti Memoriku; Kejadian Sore Itu

Dalam sebuah memori yang panjang, sore itu aku menemukan kamu yang sedang duduk di sampingku, tersenyum padaku dengan lengkung yang indah. Lalu kita bicara dan kamu sambil sesekali bergaya jenaka yang biasa kamu lakukan. Saat perbincangan asyik kita, pikiranku mulai usil untuk memberikan sebuah kejutan. Dengan mendadak, aku izin untuk ke kamar kecil sebentar. Kau tahu, diam-diam aku membeli eskrim vanilla kesukaanmu. Berniat mengagetkanmu dari belakang. Sesampainya di belakangmu, aku berdeham dari sebelah kanan. Kamu menoleh, tidak ada orang, kemudian aku datang dari sebelah kiri dan duduk di sebelahmu. Dengan menyodorkan es krim ini, aku berhasil membuatmu terkejut. Kamu tersenyum dan berterima kasih. Lalu aku mengangguk, senang melihat kamu tersenyum seperti ini –senyum yang tidak dipaksakan. Ya, kemudian kita tertawa. Tawa yang lepas dan aku melihatnya dengan binar. Kita bercanda, yang pada akhirnya mampu membuat ujung mataku mengeluarkan air mata. Entah mengapa tetiba air mataku mengalir tanpa membendung terlebih dulu. Aku menangis, haru. Sungguh, jika ada mukjizat yang Tuhan berikan padaku, aku akan meminta pada-Nya untuk menghentikan waktu sejenak. Tidak ingin hari ini usai dengan lewat begitu saja, tidak ingin semua sirna dan habis direbut oleh waktu. Kebersamaan ini, canda tawa, dan kebahagiaan sore ini ingin ku rekam dalam inti memoriku.
.
.
.
.
.
Hari ini, kamu mengapa tidak ada kabar? Padahal kau tahu, hal yang paling kubenci adalah ketiadaan kabar. Aku terus mencari dari berbagai hal yang kau mungkin tidak mengira aku akan melakukannya. Aku bertanya tentang kabarmu dan keberadaanmu dari keluargamu, saudaramu, temanmu, tetanggamu, sosial mediamu, sampai pelayan kafe favoritmu. “Kamu, bagaimana kabarnya? Ada cerita seru apa aja hari ini? Apakah hari ini kamu sudah berdoa untuk dirimu sendiri?” gumamku.
.
.
.
.
.
Kamu menghilang. Ya, pada akhirnya kamu hilang –kenyataan yang paling pahit dalam kehidupanku. Keterpisahan, keberjarakan, atau apalah namanya yang membuat sesuatu tidak bisa kurasakan dalam panca inderaku, ku definisikan sebagai kehilangan.
.
.
.
.
.
Tahun berganti, purnama berlalu. Aku masih ingat, tiada niatan untuk melupakan. Bahkan cerita kita masih kurangkai dalam sebuah naskah. Besok, aku akan pergi ke penerbit buku, memberikan naskah ini, berharap kamu akan segera pulang. Itu pun jika kau masih anggap aku adalah rumahmu.











Sumber Thumbnail

Karya : Lentera 28