Tulis-Tulis Tentang Menulis

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Oktober 2017
Tulis-Tulis Tentang Menulis

Menulis menjadi hobi baru saya sejak awal masa perkuliahan, katakanlah itu pada tahun 2015 silam. Ini disebabkan ada buku-buku yang dirasa sayang sekali tidak terbaca pada rak buku saya di rumah. Iseng-iseng membaca. Halaman per halaman. Bab per bab. Dan ya, ada perasaan puas ketika selesai membaca satu buku secara utuh. Kemudian kita bisa menarik ide besar apa yang disampaikan penulis kepada pembacanya. Tidak terasa alam bawah sadar saya ketagihan. Merasakan bahwa aktivitas membaca menjadi hal yang menyenangkan. Dan ketika membayangkan "bagaimana jika saya saja yang menulis?". Mengingat buku pertama saya adalah kumpulan prosa, maka saya mulai belajar menulis prosa. Meskipun, kadang kata-kata yang ditulis terlalu berlebihan. Majas metafora dan personifikasinya pun seakan tidak nyambung. Saya sendiri kadang bingung dengan apa yang saya tulis, walau saya paham bahwa garis besarnya yang saya tulis adalah tentang kebimbangan.

Mencoba menulis beberapa prosa, saya memberanikan diri meminta saran kepada teman dekat saya untuk mengoreksi. Ya, saya tidak terlalu mengharapkan ada pujian di sana, karena memang penulis amatir harus siap menerima konsekuensi kritikan. Dan, benar saja bahwa tulisan saya banyak hal yang tidak dimengerti dan seakan dipaksakan, kata teman saya. Ya sudah, tidak apa. Ini berarti saya memang harus banyak belajar dan perlahan harus memahami cara menulis dengan baik.

Setelah tahun 2015, sampai sekarang saya menulis di blog ini (tahun 2017) apakah tulisan saya membaik? Saya rasa juga tidak haha. Ada beberapa tulisan yang menggantung, tidak nyambungsok nyastra, dan banyak sekali kurang-kurangnya. Beberapa kali saya nekat saja mengiri naskah ke media online mainstream. Alhasil selalu ditolak sejauh ini. Saya mohon doa juga kepada para pembaca supaya saya dan juga anda dapat menulis di rubrik koran. Setidaknya selama hidup ini tulisan kita pernah masuk koran, aamiin.

Sampai saat ini, saya masih suka menulis. Setidaknya ada tiga kategori yang sering saya tulis yakni catatan hidup, cerita pendek, dan puisi/prosa. Saya yakin bahwa menulis akan membuat kita abadi. Ya, walau tidak benar-benar abadi, setidaknya umur kita bisa lebih panjang dari yang ditakdirkan Tuhan. Maksudnya, meskipun kita sudah tiada, tetapi orang lain masih bisa membaca buah dari pikiran kita. Menulis juga menurutku sebagai obat terapi diri. Ya, ada perasaan lega ketika sudah bisa menyampaikan satu hal. Kemudian saat kita sedang down atau kehilangan semangat, tulisan-tulisan saya sendirilah yang bisa menghibur. Entah dengan perumpamaan apa tulisan itu bisa menghibur, ya pokoknya menghiburlah.

Di akhir tulisan ini saya ingin sampaikan bahwa menulis adalah aktivitas yang tidak sulit. Mudah saja, seperti kita bicara kepada seseorang dengan medium dunia virtual. Apa yang terbayang, segera sambil diketik sampai habis, kemudian dicek (mungkin ada kata yang kurang pantas atau typo yang mengganggu), setalah itu klik post/send/done. Saya pribadi merasa lega jika satu tulisan itu sudah di-post dan dilihat banyak orang (meski kadang tiada like atau respons pun tidak mengapa). Yang penting, menurut saya, menulislah selagi itu baik, menginspirasi, dan tidak menyakiti pihak manapun. Sebab, lagi-lagi menurut saya, hal ini jadi kontribusi terkecil yang bisa diberikan untuk masyarakat luas. Terlebih untuk negeri tercinta.

Sekian, selamat menulis!

 

Sumber Thumbnail

  • view 66