Konselor Dakwah

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Agama
dipublikasikan 02 Oktober 2017
Konselor Dakwah

Kegiatan dakwah dan mentarbiyah seseorang, seorang da’i (orang yang berdakwah) akan melakukan pendekatan interpersonal dengan mad’u (objek dakwah). Aktivitas dakwah ini tidak dipungkiri bahwa harus memiliki keahlian khusus, salah satunya adalah keahlian konseling. Konseling menjadi dasar ilmu yang harus dimiliki oleh murobbi atau aktivitas dakwah di zaman sekarang sebab ada proses di mana aktivis dakwah membersamai para objek dakwah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi padanya. Dalam dunia konseling, seorang pembimbing disebut sebagai konselor, sedangkan orang yang dibimbing disebut konseli atau klien.

Dalam buku ‘Konselor Dakwah’ karya Cahyadi Takariawan, penulis menyampaikan bahwa dalam sesi pertemuan (konseling), sebaiknya konselor dapat membangun relasi yang baik saat pertemuan pertama dengan cara menyapa terlebih dahulu. Konselor harus bisa membuat suasana senyaman mungkin sehingga ada kedekatan emosional di sana. Pun juga harus menyampaikan bahwa dirinya siap untuk membersamai klien dalam menangani masalah-masalahnya.

Poin kedua, konselor harus memahami kedalaman masalah dengan cara mendengar dengan baik apa yang disampaikan klien. Konselor tidak perlu memotong pembicaraan klien karena akan mengurangi mood klien. Cerita yang disampaikan kadang runtut dan kadang pula tidak runtut, hal ini dikarenakan emosional yang dirasakan klien. Maka, tugas konselor adalah memahami kedalaman masalah dan bisa juga dengan bertanya untuk mengonfirmasi hal-hal yang kurang jelas.

Poin ketiga, konselor bisa mencari solusi-solusi alternatif bersama klien. Hal ini dilakukan jika kedalaman masalah klien sudah dipahami oleh konselor. Pada tahap ini, konselor membantu mencari solusi dengan cara bertanya menurut pendapat klien tentang solusi yang tepat dalam permasalahannya. Konselor tidak boleh serta merta memberikan solusi-solusi taktis karena setiap klien adalah unik dan tugas konselor adalah membantu mencari solusi versi klien itu sendiri.

Poin keempat, memutuskan jalan terbaik menemukan jalan keluar. Pengambil keputusan ini disepakati oleh klien dan konselor melalui perspektif klien sebab yang mengetahui masalah dan daya dukung atas solusi masalah tersebut adalah klien itu sendiri. Konselor dalam kasus ini hanya memberi penguatan dan catatan terkait apa yang akan dilakukan klien di masa yang akan datang.

Poin kelima, yakni penyelesaian dan evaluasi. Pada tahap ini,, konselor dank lien telah memiliki keputusan terkait langkah yang akan dilakukan oleh klien di masa mendatang. Tugas dari seorang konselor adalah memotivasi klien bahwa dirinya bisa keluar dari masalah yang dihadapainya. Sesi konseling dianggap sudah selesai apabila waktu batasan konseling (sesuai kesepakatan awal) telah habis atau kedua pihak yakni klien dan konselor telah memiliki titik temu dan solusi meski waktu masih tersisa cukup banyak. Selanjutnya, yang harus dilakukan oleh konselor adalah mengingatkan kembali langkah yang harus diambil dan klien bisa datang lagi untuk evaluasi langkah yang telah disepakati. 

Dalam tinjauan dakwah, menurut Cahyadi Takariawan (2012: 6-7) aktivitas konseling ini tidak bebas nilai dan juga tidak serta merta menyelesaikan masalah klien, melainkan ada upaya bahwa klien berubah menuju kebaikan yang merujuk pada nilai-nilai keislaman. Maka, adanya ‘konselor dakwah’ adalah konselor yang memiliki visi dakwah dan tarbiyah demi merealisasikan visi dakwah dan tarbiyah setiap aktivitas konseling yang dilakukan.

 

 

Sumber :

  1. Takariawan, Cahyadi. 2012. Konselor Dakwah; Dasar-Dasar Ilmu Konseling Bagi Murabbi dan Aktivis Dakwah. Solo: PT Era Adicitra Intermedia

Sumber Thumbnail

  • view 58