Jika Aku Menjadi Supervisor

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Mei 2017
Jika Aku Menjadi Supervisor

Selama 9 bulan berjalan di asrama yang penuh drama dan dinamika, kiranya penting memahami arti dari seorang supervisor yang tiada henti memantau perkembangan dan perilaku dari objek pembinaan asrama itu sendiri. Kang Imam, sosok satu-satunya supervisor (officially) di mata kami para ksatria yang tiada henti dihadapkan pada ratusan keluhan atas tindak-tanduk kami. Bayangkan, kami bertigapuluh ini memiliki karakter yang berbeda-beda dan memiliki persepsi tentang asrama ini berbeda-beda pula. Lalu, kemanakah kami berbicara menyampaikan keluhan yang kami rasakan jika tidak kepada supervisor –pemilik jabatan strategis asrama yang paling dekat dengan kami ? Belum lagi dengan tugas yang diembankan dari eksekutif regional kepada supervisor tidaklah sedikit. Mulai dari pendataan kehadiran (meliputi ketepatan hadir), rekap data peserta (termasuk catatan dosa), sebagai reminder kondisi asrama -yang masih sangat banyak kondisi sana sini yang tidak sesuai standar operasional-, dan belum lagi supervisor pasti punya masalah pribadinya sendiri. Maka, sedikit saya akan coba memaknai bagaimana jika aku menjadi supervisor.

  1. Saya akan mencoba untuk diam beberapa saat untuk bertanya kepada diri sendiri, Mengapa saya menjadi Supervisor? Apa yang ingin saya raih jika saya menjadi supervisor? Apakah menjadi supervisor adalah bagian dari tujuan saya hidup? Apa yang membuat saya kelak bertahan hingga akhir?Pertanyaan-pertanyaan itu harus segera saya jawab tatkala sebelum penandatanganan kontrak. Sebab ini adalah pertanyaan mendasar. Apabila pondasinya tidak kuat, mungkin menjadi supervisor hanya akan bertahan sebulan atau paling lama dua bulan. Kemudian pertanyaan itu akan saya jawab dengan tulisan untuk saya jadikan pengingat apabila di tengah perjalanan saya mulai lelah dan mulai tidak bergairah menjadi supervisor.
  1. Hal yang kedua yang akan saya lakukan ketika menjadi supervisor adalah mencoba memahami objek pembinaan itu sendiri. Me-mindset-kan diri bahwa objek pembinaan ini adalah seorang “manusia” yang memiliki hati, keinginan, hobi, dan nafsu atas dirinya sendiri. Tatkala nanti mereka memiliki kesalahan, maka hal yang pertama dilakukan adalah berhusnudzhan sebab manusia tak luput dari salah dan khilaf. Pun pada saat memulai pendekatan dengan objek pembinaan, pasti mereka ingin memiliki supervisor yang memahami dirinya. Maka, seorang supervisor harus segera mengetahui hal-hal yang bersifat personal di diri objek pembinaan. Supaya antara supervisor (saya) dan objek pembinaan memiliki kedekatan personal yang natural, bukan pendekatan yang terkesan dibuat-buat.
  2. Hal ketiga yang akan saya lakukan ketika menjadi supervisor adalah mencoba memetakan masalah pribadi dan masalah pada pekerjaannya. Sebab memilih menjadi supervisor berarti memilih menambah masalah yang ada pada dirinya dan seorang supervisor harus jeli memetakan masalah yang terjadi; Apakah masalah ini muncul dikarenakan masalah internal atau masalah eksternal? Maka, mencoba memetakan masalah menjadi penting supaya tidak ada blaming yang liar, excusing yang keliru, dan judging yang tidak bijak

Inilah beberapa hal  mendasar yang akan saya lakukan ketika menjadi seorang supervisor. Ya, kiranya penting dilakukan seseorang –sebagai penguat atas pilihannya- tatkala mencoba memberanikan dirinya menjadi supervisor yang baik. Terakhir,teruntuk Kang Imam yang tengah merasakan menjadi supervisor Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta, saya ingin mengatakan “Jazakallahu Khairan Katsiran” (Semoga Allah membalas kebaikanmu). Tetaplah menjadi kakak, teman, dan mentor yang baik! Semangat!

 

 

Sumber Thumbnail

  • view 155