Logika Kebahagiaan

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 April 2017
Logika Kebahagiaan

Hari ini sudah kesekian kalinya Ibu itu memungut sampah-sampah yang berserakan di tepi jalan protikol. Melihat dengan cermat setiap bungkusan plastik di sana. Sebuah kebahagiaan bila ia menemukan ada botol plastik maupun gelas plastik yang kondisinya masih bagus. Pertanda bahwa ia akan membawa pulang uang meski tidak seberapa jumlahnya. Sambil bekerja, mulut ibu itu kulihat bergerak. Tatkala aku melewatinya, aku mendengar lirih Ibu itu mengucap dzikir

Aku sejenak merenung sembari melihat Ibu itu dari sudut jalan raya ini dan merasa tertampar atas kondisi yang terpampang di depan mata. Aku mulai berdialog dengan hatiku sendiri. Mungkin saat ini apabila ada di antara manusia yang meremehkan satu suap nasi, maka mereka harus belajar dari Ibu itu. Setiap harinya ia selalu berdoa pada Tuhannya, mengharap belas kasih dari-Nya. Ada keyakinan bahwa ia pasti mendapat rizki hari ini sebab ia tau Tuhannya tidak akan meninggalkannya sedikitpun. Kembali Ibu itu dengan mata yang berbinar kembali memungut sampah plastik di tepi jalan protokol. Aku yang melihat nanar wajah beliau sungguh merasa hati ini sungguh pilu.

Aku mencoba mendekat, sederhana, ingin menanyakan apakah ibu itu sudah makan atau belum. Menyadari matahari sudah semakin bergeser ke peraduannya. Beberapa jam lagi sore akan menyambut. Dengan sedikit kelu aku bertanya,

“Ibu sudah makan belum?”

“Alhamdulillah sudah, Nak”

“Ibu beneran sudah makan? Saya melihat sangat lesu hari ini.”

“Sebenarnya belum, Nak, Ibu mungkin hanya sedikit lelah saja karena sudah seharian bekerja.”

Beberapa detik setelah Ibu itu berbicara, terdengar suara dari perut Ibu itu. Aku yang menyadarinya tanpa babibu lagi segera mengajak Ibu itu makan di salah satu warung nasi terdekat. Ibu itu sedikit menolak atas ajakanku, tetapi aku katakan padanya bahwa rezeki tidak boleh ditolak.

Sesampainya di warung nasi, Ibu itu tidak enakan untuk memesan, melihat warung nasi itu seperti makanan yang cukup mewah bagi dirinya. Dengan melihat menu makanan itu, terlihat ibu itu kebingungan mau makan apa karena khawatir merepotkan aku, katanya. Aku langsung saja memesan satu paket nasi dengan sepotong ayam bakar untuknya. Ibu itu mengucapkan banyak terima kasih kepadaku. Ia sampaikan juga doa dia untukku.

“Aamiin, semoga Ibu sehat terus ya, jangan lupa makan supaya Ibu tidak lesu saat bekerja” aku membalas doa Ibu itu.

Setelah makanan tersebut sudah jadi, aku pamit pulang. Mengingat masih ada tugas kuliahku yang belum sempurna kukerjakan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kemudian aku pulang dengan perasaan yang lega. Aku memberanikan diri mendengar kata hatiku untuk menolong siapa saja yang kulihat butuh bantuan. Ya, siapa saja. Melihat senyum dari mereka itu, ada rasa di mana diri ini bahagia. Ya, aku merasa bahagia hari ini karena memberi makan Ibu itu. Tidak apa aku menahan rasa laparku beberapa jam karena uang yang kusisihkan untuk makan siang kuberikan pada Ibu itu. Hari ini aku menyadari bahwa kebahagiaan itu bukan soal meminta kemudian merasakan kebahagiaan. Ternyata, kata mutiara “You can find Happiness if you can share happiness first,” benar adanya.

 

 

Sumber Thumbnail

  • view 185