Gelisah dan Harap; Kembali pada Fitrah Diri

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Renungan
dipublikasikan 14 Januari 2017
Gelisah dan Harap; Kembali pada Fitrah Diri

Satu kisah seseorang dalam pertaubatan. Dengan kenangan pahit di sana, meneteskan peluh kegelisahan di hatinya. Menimang harap atas ampunanNya. Tatkala suara adzan telah tiba, ia menyadari itu adalah panggilan cinta dari Tuhannya. Indah sekali panggilan itu, dengan kata yang memikat, mengajaknya tuk memenangkan rasa luka yang mendalam. Menyisihkan semua yang banyak kuikuti (dengan menuhankan nafsu), menjadi satu yang pasti. Satu yang pasti untuk dicintai, diharapkan, dipuji, dipuja, dan disembah.

Ia melangkah dengan hati yang ikhlas dan perasaan tenang. Ia meminta ampunan sembari menujuNya, menuju Tuhannya. Tempat itu tidak terlalu besar dalam skala bangunan di perumahan mewah di sana. Namun, ia merasakan ada kesyahduan hingga rasa itu merasuk dalam sanubariku. Tempat itu biasa kita sebut Masjid.

“Bismillah”, ia membuka kran air untuk berwudhu. Sejuknya air mengalir di tubuhnya serasa semua dosa  luruh dalam setiap tetesannya. Ia bertasbih, menyucikan diri dalam namaNya, sebab tiada yang bisa membuatnya kembali ke fitrah diri dari belenggu dosa tanpa hidayah dariNya. Kulitnya menjadi basah, menenangkan hati yang kering dilanda gelisah. Di depan cermin itu, ia melihat wajah yang berseri. Kemudian ia tersenyum pada dirinya sendiri. Ini pemandangan yang langka. Terakhir ia melihat simpul senyum itu saat ibunya dinyatakan sembuh dari sakit kanker yang diderita lima tahun yang lalu. “Alhamdulillah”, ia perbaiki lengan baju dan gulungan celana sambil menuju Tuhannya.

Takbir pertama, ia nikmati betul setiap gerakan sembari mengucap kalimat agung. dengan sendu dan penuh penghayatan, ia ikuti gerakan sang Imam. Tatkala rukuk, ia hormati betul Tuhannya, ia sadar atas kecilnya diri dan lemahnya seorang manusia. Di hadapannya ada Tuhan yang Maha Agung. tiada kata yang pantas selain kata-kata dzikir untukNya. Imam bangkit dari rukuk dan kemudian bersujud. Inilah gerakan yang ia rindukan. Bertemunya kening dan lantai dengan posisi kepala serendah-rendahnya mengingatkannya ia satu hal. Bahwa dirinya hina. Berasal dari sesuatu yang menjijikan, kemana-mana membawa kotoran, dan akan berakhir membusuk. Sungguh, ia maknai peristiwa yang dinamakan shalat ini dengan penuh kesadaran yang utuh. Bahwa ia seorang hamba yang hendak bertaubat yang sedang bertugas di Bumi untuk menjadi Khalifah dan menyembah Rabb alam semesta.

 

 

Sumber Thumbnail

  • view 175