Meski Tanpa Ketiga Anakku

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Januari 2017
Meski Tanpa Ketiga Anakku

Rena menganggap semua ini adalah mimpi buruk. Dan pasti mimpi buruk. Bagaimana tidak? Anak-anaknya yang selalu ia rindukan tiap menuju ke rumah sekarang sudah tiada. Di CCTV miliknya terlihat tiga manusia bejat tetiba mendobrak pintu rumahnya dan menembak kepala tiga anaknya secara mambabi buta. Dengan hitungan detik tiga perampok itu masuk ke kamarnya dan merauk semua perhiasan da nisi berangkasnya. Video berdurasi tiga menit sepuluh detik itu seketika membuat air mata Rena luruh. Ia menangis sejadi-jadinya. Sejak perceraian dengan suaminya, hanya anak-anaknyalah alasan ia hidup dan berjuang sampai saat ini. Ia tidak sampai hati melihat anak-anaknya yang ia besarkan selama sepuluh tahun seorang diri mati sia-sia oleh tiga pemuda biadab itu.

 Rena menangis sejadi-jadinya. Teriakan kekesalan Rena sampai terdengar di pertigaan jalan sejauh 100 meter dari rumahnya. Tiga jasad anaknya ia peluk satu per satu dan tangisnya kembali pecah di rumah duka. Ia menyesal mengapa ia tidak di rumah kala itu. Dan mengapa perampok tidak langsung mengambil barang-barangnya saja tanpa harus membunuh anak-anaknya? Rena sangat ikhlas hartanya habis asalkan ia masih bersama ketiga anaknya.

Sesampainya di pemakaman, ketiga anaknya diletakkan di liang kuburnya masing-masing. Rena tidak bisa melihat ketiga anak yang sangat ia kasihi dan sangat ia cintai dikubur di depan matanya. Semangat hidupnya sudah tiada, ia tetiba lari keluar tempat pemakaman umun. Ia berlari sambil membasuh air mata di pipinya. Ia tidak kuat, sungguh tak kuat. Ia berlari menuju rumahnya dan mengambil satu pisau dapur miliknya. Berharap dari usaha bunuh dirinya, ia akan bertemu kembali pada anak-anaknya dan bisa kembali mendongeng bersama mereka.

 Sesaat mata pisau sudah menyentuh kulit pergelangan tangannya, tetiba tangannya yang sedang menggenggam pisau itu tersambar tendangan keras dari seseorang. Ia melihat kaki siapa yang berani-beraninya menggagalkan usahanya untuk bertemu anaknya. Ia mendongakkan kepala dan ia melihat sosok pria berbaju putih dengan sinar cahaya di wajahnya. Pria itu merendahkan tubuhnya dan memeluk Rena. Rena mencoba menyentuh kepala pria itu dan terasa juga ada orang yang memeluk dirinya dari belakang. Ia meraba rambut yang sangat ia kenal halus dan lembutnya. Kini ia menyadari, pria-pria yang memeluknya kini adalah ketiga anaknya yang sangat ia cintai dan sangat ia rindukan hari ini.

 “Ibu, kami di sini, ibu jangan bunuh diri. Sungguh, kami akan selalu di sini, di rumah ini. Memerhatikan ibu setiap waktu dan selalu ada di hati ibu. Kami sangat sedih jika ibu melakukan hal yang tadi ingin ibu lakukan. Kamu janji, akan beritahu Tuhan untuk mengatakan apadanya bahwa kami memiliki Ibu yang menyayangi kami dan kami akan memohon pada Tuhan agar membersamai kami kelak di Surga-Nya. Kami ingin ibu terus hidup. Kami selalu di sini”

 Rena terenyuh, ia tidak menyangka anak-anaknya bisa memeluk dirinya hari ini. Ini sungguh seperti sangat nyata. Ia bisa merasakan hangatnya dekapan anak-anaknya. Air mata Rena kembali luruh, deras. Rena mengeratkan lagi pelukannya. Tidak ingin kehilangan anak-anaknya yang kedua kali. Sungguh, ia tidak sanggup hidup dalam kesendirian. Namun, ketiga anaknya harus pergi. Tidak bisa ia mendekap erat tubuh ibunya. Mereka harus kembali sebab malaikat telah menunggunya untuk memasuki gerbang nirwana. Pelukan Rena perlahan terlepas, anak-anaknya perlahan terbang meninggalkan dunia. Rena untuk terakhir kalinya melihat senyum ketiga anaknya kemudian melambai. Rena mencoba tersenyum meski ia tau senyum tidak menghilangkan rasa sedihnya sedikitpun. Rena tersenyum demi membalas senyum ketiga anaknya dan memastikan bahwa Rena di sini akan kuat. Ia yakin anak-anaknya selalu bersamanya di sini di rumah ini selalu.

 10 tahun berselang, di waktu dan tempat yang sama, Rena tetap memilih tetap hidup. Satu hal yang membuat Rena bertahan adalah ia tidak ingin mengkhianati janjinya dengan ketiga anaknya untuk terus hidup meski sepi, meski tiada ketiga anak-anak yang ia cintai.

 

 

Sumber Thumbnail

  • view 132