Adikku

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Desember 2016
Adikku

Aku siap pergi. Meninggalkan semua harapan yang aku tunggu kehadirannya. Aku memilih tetap bersama adikku. ia lebih membutuhkan satu atau dua pelukan hangat kakaknya. Paspor dan visa ku simpan kembali dalam lemari. Aku memeluk adikku yang sudah menggenang air mata di pelupuknya. Tidak salahnya kurasa menunda satu atau dua tahun dulu. Ayahku pergi entah kemana. Mereka bilang ia lari dari hutang dari hasil perjudiannya. Ibuku memilih menikah dengan pria kebangsaan Austria dan tiba-tiba hilang begitu saja meninggalkan satu surat di atas meja makan. Aku sekarang pulang. Hanya ada adikku di sana sambil menangis. Pintu rumahku terkunci. Tetanggaku yang meneleponku tuk cepat pulang karena mendengar jerit tangis yang tak kesudahan di dalam rumahku. Tetanggaku melihat ibuku membawa tas besar lalu pergi menggunakan taksi. 15 menit kemudian adikku menangis.

Ditinggalkan itu rasanya tidak enak. Apalagi dengan orangtua. Aku selalu merindukan orangtuaku setiap hari. Setiap saat. Aku kadang suka iri dengan teman-temanku. Setiap aku melihat film atau sinetron di mana keluarga tersebut berpelukan, aku tak jarang meneteskan air mata. Adikku juga begitu, ia merindukan sosok Ibu. Ia juga merindukan sosok Ayah, tetapi ia tak tahu wajah yang dirindukan seperti apa seorang ayah. Ayah pergi ketika umurnya 2 tahun. Aku juga tak menyimpan foto ayah. Tatkala ayah pergi, aku berusia 5 tahun. Di rumahku tak ada pajangan foto seperti rumah-rumah kebanyakan.

Aku kembali memeluk adikku. Aku tatap matanya dan berjanji tak akan meninggalkanya lagi. Adikku berusia 5 tahun dan sudah terbiasa lepas popok dua bulan terakhir. Adikku menanyakan di mana ibu berada. Aku mengatakan bahwa ibu sedang pergi, nanti ibu suatu saat akan kembali. Adikku menangis mendengar itu. Aku terpaksa mengatakan apa adanya, dan aku tidak ingin berbohong pada adikku. Dia harus jadi anak yang jujur, aku selalu mengatakan hal ini setiap ia memasang raut muka seperti menyembunyikan sesuatu. Yang paling penting, dia harus jadi pembelajar yang baik. Mahir memaknai kepingan hikmah dari peristiwa sedari kecil. Tentang perpisahan, kesetiaan, dan keluarga.

What can you do to promote world peace? Go home and love your Family

(Mother Teresa)

           

 

Sumber Thumbnail

 

  • view 122