Penulis; Berkawan Buku dan "Backspace"

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Penulis; Berkawan Buku dan

Namanya Kara. Melihat-lihat buku adalah hobinya. Buku-buku itu di mata Kara seperti melihat tumpukan ilmu dan siap untuk diambil intisarinya. Kara senang sekali ke perpustakaan setiap sehari sekali. Lama sekali ia di sana, bisa sampai 3 jam bahkan pernah sampai 11 jam seperti jam kerja para petugas perpustakaan. Di usianya yang sudah 18 tahun, ia memimpikan bisa menjadi penulis hebat yang dikenal banyak orang. Gelar penulis menjadi hal yang istimewa bagi dirinya. Ia merasa cukuplah dengan menulis, maka ia akan abadi. Setidaknya ia tidak mati sia-sia tanpa bekas apa-apa untuk dikenang.

Pagi ini pukul delapan tepat Kara bersiap untuk pergi ke perpustakaan. Ia berniat tatkala sudah di perpustakaan berarti ia harus mencari ide untuk ditulis, setidaknya ada ilmu baru yang bisa ia bawa pulang. Kara bergegas, tidak ingin niatnya pudar atau semangatnya mengendur karena terlalu berlama-lama dalam kamarnya sendiri. Ia sudah siap pulpen, laptop, dan kertas kosong. Kara berangkat dengan hati yang sangat gembira hari ini.

Sesampainya di perpustakaan, ia segera mengambil buku-buku sastra favoritnya. Ia belajar tentang apa itu padanan kata, pemaknaan tiap sajak, pengaturan  konflik dari novel atau karya sastra favoritnya. Setelah dilihat berlama-lama, ia merasa buntu. Menulis merupakan aktivitas tersulit baginya saat ini. Dia tidak menemukan ide, kosong, kata yang diketik dalam laptop terasa sangat biasa dan berulang kali tombol backspace ia tekan. Tulisannya terasa kosong, gersang, seperti menulis kalimat yang dibuat-buat. Ia merasa karyanya bak sok sastrawan, gumamnya sendiri. Entah sudah berapa kali ia melakukan aktivitas asing ini. Semacam ada keraguan yang berdiri di bayang-bayang dirinya. Ia takut akan kritik orang lain terhadap karyanya yang biasa-biasa saja. Ia bicara pada diri sendiri, cerita yang dibuat tidak teratur, tidak ada konflik, pesannya kurang dapet, dan terasa amat membosankan. Hal terakhir untuk menuntaskan rasa kesalnya adalah mematikan laptop, menutup buku, dan merapikannya ke dalam tas. Ia merasa menjadi penulis adalah khayalan. Ia hanya penikmat buku, bukan penulis buku.

Dua tahun berselang, Kara masih sama seperti Kara 2 tahun yang lalu. Di usia 20 tahun, ia masih melakukan aktivitas yang sama setiap hari. Ke perpustakaan untuk membaca, mencoba untuk menulis buku, kembali menekan backspace hingga hanya layar word kosong di hadapannya.

 

 

Sumber Thumbnail

  • view 168