Andai Bisa Kutarik Perkataanku

Lentera 28
Karya Lentera 28 Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Andai Bisa Kutarik Perkataanku

Berakhir sudah yang mereka perjuangkan selama dua puluh tahun. Kedua suami istri ini bersepakat berpisah secara sah oleh hukum dan agama. Talak telah terlanjur diucap oleh sang suami dan proses pengadilan telah usai digelar pengadilan. Mereka berdua telah bersepakat tentang hak anak-anaknya. Dua orang putri mengikuti ibunya dan seorang putra memilih bersama ayahnya. Anak-anak dapat bertemu dengan orangtuanya hanya hari Minggu.

Ada setitik penyesalan dalam diri Dimas, selaku suami, untuk memutuskan bercerai pada sang istri. Ia tidak bisa menjaga lidahnya berkata-kata. Emosi terlanjur memperbudak akal. Alhasil, suami menyesal dengan keputusannya. Namun, apalah daya semuanya telah terjadi dan masa lalu tak akan bisa kembali. Kasih sayang dan cinta tak bisa dibohongi bahwa ia masih mencintai istrinya.

Terkenang, dirinya ketika masih berusia remaja tak sengaja memandang seorang siswi baru di sekolah, saat itulah hati dan pikirannya terpana oleh sosok dia. Siswi itulah, Mirna namanya, yang ia perjuangkan dan berniat untuk menjadi pendamping seumur hidupnya. berat rasanya meninggalkan. Alasan ia mengakhiri hubungan pernikahan karena perkataan Dimas menyakiti relung hati Mirna. Tak sadar ia menghina apa yang dihormati dan diperjuangkan oleh sang istri selama ini. Dimas tanpa sadar telah menghina mertuanya, ialah orangtua dari Mirna. Dimas menghardik Mirna dan menyalahi Mirna yang tidak becus mengurus rumah dan anak-anak. Parahnya, Dimas menyinggung kehidupan kelam Mirna yang akrab dengan dunia malam dan menyalahkan orangtua Mirna karena dianggap juga tidak bisa mengurus anak-anaknya. Dimas mengetahui bahwa orangtua Mirna hanya lulusan SD. Kehidupan Mirna sebelum Dimas menikahinya pun sangat jauh dari kata layak. Dimas tanpa sadar merendahkan istrinya sendiri. Mirna ketika itu pergi dari rumah. Mirna sakit hati dengan apa yang dikatakan suaminya. Mirna tidak menyangka bahwa suaminya akan setega itu. Hatinya bagaikan kaca yang tertembak anak panah tepat di bagian tengah, hancur sehancur-hancurnya. Dunia yang indah ini terasa sempit baginya. Air matanya menetes tanpa sadar tepat ketika sang suami mengolok dirinya di depan anak-anak. Betapa malu dirinya. Dimas telah mengingkari janji yang dulu telah mereka sepakati; masalah keluarga tidak diselesaikan di depan anak-anak. Kini, dipikirannya hanya satu kata untuk hubungannya; pisah.

2 September 2014, ketuk palu pengadilan mengakhiri perpisahan dua insan yang dahulu saling mencinta. Dimas menyesal sedalam-dalamnya dan berharap kejadian ini hanyalah mimpi buruk di tengah malam ketika ia tidur bersama Mirna. Dimas meneteskan air mata. Kini giliran dirinya yang menangis sejadi-jadinya menyesali peristiwa itu. Apalah daya semua telah terjadi. Berbeda dengan sang suami, Mirna merasa ini adalah pilihan yang terbaik. Hatinya masih terluka oleh perkataan Dimas. Kini, kehidupan mereka kembali seperti di titik  mereka belum pernah bertemu. Tiga tahun berselang, Mirna menikah dengan pria Indonesia berdarah Jepang. "Andai bisa kutarik perkataanku" Dimas masih terkapar oleh kesengsaraan dihantui penyesalan masa lalu. 

Al-qawlu yanfudzu maa laa tanfudzuhu al-ibaru

Kata-kata mampu menembus apa yang tak mampu ditembus jarum (Pepatah Arab, anonim).

 

 

Sumber Thumbnail

 

  • view 218