Yang Menyerahkan Jiwanya

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2016
Yang Menyerahkan Jiwanya

Hari itu, sebagaimana biasa, Rasulullah sedang berbincang dengan para sahabat ketika seorang wanita dari bani Ghamidiyah datang menghadap. "Ya Rasul, saya sudah berzina" akunya kepada Rasulullah. Seakan tidak mendengar atau mempercayai perngakuan tersebut, beliau bersabda. "Pulanglah" . Sang wanita tadi pulang untuk kembali ke esokan harinya dengan pengakuan yang sama. "Ya Rasulullah, aku benar sudah berzina dan aku mohon Engkau berkenan mensucikan diriku." Dan Rasul masih menjawab, "Pulanglah".

Hari ketiga, sang wanita kembali datang dan menyampaikan pengakuan yang sama, "Ya Rasullah, tegakkan had atas diriku. Apakah Engkau akan menolak permohonanku sebagaimana yang Engkau lakukan kepada Maiz? Demi Allah, saat ini aku sedang mengandung hasil perbuatan tersebut." Kali ini Rasul tak mengabaikan pengaduann ini, namun begitu beliau masih bersabda, "Pulanglah sampai engkau melahirkan anakmu."

Wanita itu setuju. Dia pulang saat itu. Berapa bulan kemudian dia kembali datang sambil membawa bayi dalam gendongannya. Kembali menuntut had atas dirinya. "Ya Rasullah. Ini anakku sudah lahir." ujarnya, "Sucikan aku." "Pulang" kembali Rasulullah bersabda, "sampai engkau menyapih anakmu." Patuh dengan perintah tersebut, sang wanita pulang untuk kembali dengan anak yang sudah memang roti ditangannya. "Anakku sudah disapih dan sekarang sudah dapat makan roti. Sucikan aku." Kali ini Rasulullah tak lagi bisa memintanya pulang. Hukum Allah harus ditegakkan.

Setelah memastikan pengasuhan si bayi di tangan seorang muslim. Rasul memerintahkan pelaksanaan hukum tersebut. Lubang di gali, sang wanita dimasukkan dan orang-orang mulai melemparkan batu ke arahnya. Saat batu mulai berterbangan mengenai tubuhnya, sepercik darah dari tubuh sang wanita tersebut mengenai muka Khalid bin Walid yang kemudian dengan raut jijik mengeluarkan kata yang menghinanya. "Tenangkan dirimu, Khalid" tegur Rasulllah yang mendengarnya mengucapkan penghinaan tersebut, "dia sudah benar-benar bertobat." Selesai pelaksanaan hukuman, Rasulullah memerintahkan kaum muslim untuk mengurus jenazah sang wanita tersebut dan hendak menyolatinya.

Rupanya tindakan ini menyulut protes lain, kali ini dari Umar. "Engkau hendak menyolatkannya, wahai Rasul? Bukankah dia telah berzina" tanya Umar, ada nada merendahkan dalam pertanyaan tersebut. "Jangan begitu Umar," jawab Sang Terpilih dengan tegas, "Wanita ini sudah bertaubat. Andai taubatnya dibagikan ke 70 orang Madinah, maka taubatnya itu masih cukup untuk mengampuni mereka. Apa ada yang lebih baik ketimbang taubat orang yang menyerahkan jiwanya kepada Allah?"

Kadang, penghakiman kita pada perbuatan seseorang seolah menafikan rahmat-Nya atas orang tersebut. Kita tak pernah tau, jangan-jangan perbuatannya mengantarkannya kepada taubat? yang sebenarnya. Atau bisa jadi caci maki dan sumpah serapah orang-orang atas dirinya, justru yang menjadikan ratapan taubatnya diterima oleh Sang Maha Pengasih. Kita?

~~ DIsadur dari Hadits Riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya

  • view 64