Untukmu Bukan Untuknya

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Juli 2016
Untukmu Bukan Untuknya

Badrus teman kami yang sekarang menjadi dai kondang malam itu datang bertandang di pengajian. "Lagi santai" katanya kepada guru kami. Suasana menjadi semarak dengan kehadiran beliau, selain berpengatahuan luas, dia juga pintar melucu dan memang sudah bertampang lucu. "Ente diem aja lucu" kata kami mengomentari kelucuannya.

Obrolan mengalir dan sampai pada berbagai masalah agama dan dakwah. "Abah haji" kata Badrus, "saya heran dengan perangai beberapa dai sekarang yang gampang sekali mencela dan menegur orang di depan umum. Kalau debat sampai panas-panasan. Saya memang akui, beberapa dalil yang mereka sampaikan itu ada dasarnya, ada madzhabnya, ada pemikirannya. Tapi masalahnya kadang negornya itu kayak nga memperhatikan situasi dan kondisi. Jam'ah ane ada yang cerita bagaimana pemakaman orang tuanya berubah jadi ricuh karena salah seorang saudaranya menyalah-nyalahkan praktik yang selama ini dilakukan. Maksud saya, kalau memang salah khan bisa tunggu sampai kedukaan berangsur pulih baru diajak dialog baik-baik."

"Gini, Drus" kata guru ngaji kami sambil meletakkan gelas kopinya, "kita pakai logika sederhana. Semua Qur'an yang turun itu, utamanya buat yang membaca atau untuk orang yang orang lain?"
"Untuk yang membacanya."
"Nah kalau begitu semua yang ada didalamnya itu jelas harus diserap dan diterapkan dulu ke diri mereka yang membaca baru kemudian 'membacakannya' kepada orang lain. Orang lain itu utamanya keluarga karena begitu firman Allah: Jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Itu wajibnya.

Jadi dalam ayat 'Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran', utamanya ke diri sendiri dulu. Apakah diri sendiri udah diseru kepada kebajikan? sudah didorong menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Apakah ktia sudah dapat mencegah kemungkaran dalam diri?. Jika sudah berusaha dan terus berusaha, baru dalam kasus kemungkaran ada di depan mata Ente berusaha untuk mengubahnya; sebagaimana sabda Rasul: dengan tindakan, dengan lisan, dan kalau kagak bisa dengan doa. Jangan dibalik; misalnya nih, ente cegah semua orang dari kemungkaran tapi ente sendiri kagak peduli dengan kemungkaran yang mungkin timbul ketika ente bertindak. Ente memberitahukan kesalahan ritual orag lain, tapi ente nga sadar ente mempermalukan orang itu di depan banyak orang. Membetulkan kesalahan itu bisa dilakukan belakangan, tapi menjaga harga diri orang lain itu wajib hukumnya. Nah, itu berlaku juga buat ente ye."

Kalimat terahir itu membuat kami terbahak bersama, kecuali si Badrus...die nyengir indah doangan.

~Sekeping ingat dari pengajian di langgar kami.

  • view 197