Tuan

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 Juli 2016
Tuan

Tuan

Setelah bertobat dari pekerjaan lamanya, Habib Al-Ajami mendedikasikan hidupnya bagi Allah semata. Beliau beribadah sepanjang hari di tepian Eufrat. dari pagi dan baru pulang ke rumah ketika sudah malam. Sehari, dua, tiga, empat hari berlangsung dan terus bersambung hingga kemudian kondisinya menjadi semain miskin. Istrinya di rumah mulai meminta uang belanja karena persediaan pangan di rumah sudah mulai menipis . Dalam kebingungan, dia menjawab permintaan sang istri "Sabar ya Bu...saya lagi bekerja dengan seorang Tuan yang amat pemurah. Demikian pemurahnya dia, aku jadi malu untuk meminta upah terlebih dahulu. Dia berjanji akan memberikan upah kepadaku setelah 10 hari bekerja." Jawaban tersebut dapat menenangkan istrinya.

Hari pun berlalu demikian cepat. Hari kesepuluh pun tiba dan Habib masih belum mendapatkan pekerjaan dan hanya dapat beribadah di tepian sungai tersebut. Setelah sholat di malam itu, dia kebingungan. "Apa yang bisa aku bawa ke rumah malam ini? Apa yang akan aku katakan kepada istriku? demikian dia membatin.

Sementara itu, di saat yang sama, terdengar ketukan di pintu rumahnya. "Siapa?" tanya sang istri. Dari luar terdengar jawaban seorang muda, "Saya utusan Tuan-nya Habib mengantarkan upah dan bahan makanan untuk beliau." Sang istri membuka pintu dan mendapatkan para kuli berjajar membawa gandum, minyak zaitun, daging dan lain sebagainya. Di depan mereka seorang muda yang tampan tersenyum seraya memberikan kantung uang, "Di dalam kantung ini terdapat 300 dirham perak. Jika Habib pulang sampaikan pesan Tuan kami kepadanya, 'semakin rajin dia, maka kami akan lipatgandakan apa yang kami berikan malam ini." Setelah selesai menurunkan barang dan menyerahkan uang, rombongan itu pamit.

Tak lama kemudian, Habib mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Wajahnya kusam, pikirannya kacau. Perasaannya ditekan malu dan dipalu sedih karena tak bisa menepati ucapannya kepada sang istri. Dia memutuskan untuk berterus terang saja malam ini, apa pun resikonya. Ternyata, belum lagi dia membuka suara, sang istri sudah menyambut dengan lembut, mengusap wajah kusamnya dengan kasih sayang; sementara bau masakan menguar sedap dari dapur mereka.

"Sayang," kata sang istri, "tadi ada utusan dari Tuan tempatmu bekerja. Dia mengantarkan bahan makanan ini dan sekantung uang perak. Dia benar-benar amat dermawan. Beruntung dirimu bekerja dengannya." Habib masih terpana mendengarkan perkataan itu dan istrinya menyambung, "Ah ya, dia berpesan begini: Katakan kepada Habib, semakin rajin dia, maka kami akan lipatgandakan apa yang kami berikan malam ini."

Terpesona dengan semua itu, Habib Al-Ajami berkata, "Luar biasa, aku hanya bekerja 10 hari dan Dia berikan semua ini. Bagaimana jika aku bekerja lebih keras dan lebih lama lagi?" Sejak saat itu, dia berpaling seluruhnya dari dunia dan hanya mengabdi bagi Allah semata.

Disadur dari: Habib Al-Ajami dalam Tadzkirat Al Auliya, Syeikh Fariduddin Atthar