Perisai

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 19 Juni 2016
Perisai

Perisai
 
Ali r.a menatap tajam perisai itu. DI pasar yang ramai seperti ini, beliau merasa amat yakin bahwa perisai yang sedang dijajakan pedagang Yahudi itu milliknya, terjatuh ketika perang, lalu hilang tak berbekas. Diantara barang-barangnya yang amat sedikit, dia amat mengenal perisai yang telah berkali menemaninya dalam jihad.
 
"Maaf, perisai ini milikku" ujarnya kepada sang pedagang. "Tidak ini milikku" balas sang pedagang, tegas. "Ini jelas perisaiku yang jatuh ketika perang, aku mengenalinya" Ali r.a kembali menegaskan dan sang pedagang kembai menolak. Perselisihan antara rakyat jelata non muslim dengan khalifah ke-4 itu pun akhirnya di bawa ke pengadilan dengan Surayh Qadhi--seorang sahabat yang dikenal sebagai hakim yang amat dihormati.
 
"Abu Hasan..." Surayh memulai dan Ali r.a. langsung memotong, "Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Seakan Engkau lebih berpihak kepadaku ketimbang kepada pria ini. Panggil aku Ali,"
"Baik. Ali, apa pengaduanmu" tanya sang Qadhi.
"Aku ingin mengklaim kembali perisaiku. Ini..." terang Ali sambil menunjuk perisai yang sedang dipegang oleh sang pedagang, "...adalah perisaiku yang jatuh ketika perang dan hilang".
"Baik. Anda memiliki saksi"
"Ada. Dua orang. Hasan dan Husein".
"Kesaksian dua orang itu atas diri Anda tidak bisa diterima karena adanya ikatan darah yang menimbulkan potensi bias dan konflik kepentingan." tolak sang Hakim tegas. "Anda memiliki saksi lain atas kepemilikan ini?"
"Tidak" jawab Ali.
 
Surayh kemudian berpaling kepada sang pedagang Yahudi tadi dan mulai bertanya. "Dari mana Anda mendapatkan perisai ini?"
"Barang ini milikku." jawab sang pedagang
"Apakah Anda memiiliki saksi yang menguatkan kepemilikan Anda terhadap perisai ini. Atau apakah Anda bersedia bersumpah atas kepemilikan ini?"
"Aku bersumpah bahwa perisai ini adalah miilkku" ujar sang pedagang tegas.
 
"Baik. Dengan tidak adanya saksi di pihak Ali dan sumpah yang diberikan pria ini atas perisai yang dipersengketakan maka saya putuskan bahwa perisai ini milik sang pedagang. Sidang ditutup." Ringkas sang Qadhi sambil mempersilahkan kedua pihak yang bersengketa untuk keluar dari ruangan.
 
Dan Ali pun keluar dari ruangan sidang tanpa protes, tanpa mengajukan banding, atau menggunaan diskresi kekuasaannya sebagai khalifah untuk membatalkan vonis atau bahkan untuk menuntut penyelidikan ulang atas kasus tersebut. "Amirul mukminin" panggil seseorang ketika langkahnya belum lagi jauh dari tempat persidangan. Ali menoleh dan mendapati sang pedagang mengangsurkan perisai itu kepadanya, "AKu berbohong. Perisai ini milikmu yang aku temukan ketika perang. Ambillah. Dan bersama ini aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adaah utusan-Nya." Kali ini ganti Ali yang mendorong kembali perisaii itu kepada sang pedagang, "Sekarang, perisai ini milikmu" katanya lembut, "sebagai hadiah dariku kepada saudaraku sesama muslim."
 
Sang pedagang rupanya tersentuh dengan kepribadian yang ditunjukkan oleh Ali dan Surayh. Kepribadian yang menunjukkan bahwa semua orang sama di hadapan hukum; bahwa semua orang harus mendasarkan tuntutan atau dakwaannya kepada bukti dan saksi; bahwa keyakinan subyektif seorang hakim tak ada artinya tanpa ada saksi atau bukti yang kuat. Dan berabad kemudian konsep ini menjadi salah satu dari 3 aliran hukum modern yang menyatakan bahwa hakim atau juri tidak dapat memutuskan perkara berdasarkan keyakinannya semata, tapi harus tunduk pada bukti dan saksi yang ada.