Bidak

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Mei 2016
Bidak

“..disana selalu ada Plutarch, bukan?” ungkap Katniss Everdeen, tokoh sentral dalam film serial Hunger Games: Mockingjay 2. Ungkapan yang diberikannya setelah dia menimbang dalam kegalauan dan menerima kenyataan bahwa pemberontakan yang dibelanya, ternyata tak seputih mawar di taman Presiden Snow. Bahwa kenyataan justru menunjukkan bahwa dirinya tak lebih sebidak catur di tangan para penguasa permainan, Snow di satu sisi dan Coin disisi yang lain. Yang satu berusaha membunuhnya karena keberadaannya merupakan simbol perlawanan kaum papa yang memberikan suntikan semangat bagi para pemberontak, gerakan mereka yang tertindas di bawah Snow. Yang lain berusaha mempertahankannya dengan alasan yang sama yaitu sebagai pembangkit semangat para pejuang, mengangkat moral tempur mereka, walaupun dengan tujuan yang berbeda: menggulingkan Snow dan mendirikan pemerintahan yang baru; kemudian disingkirkan ketika tak lagi berguna bagi mereka.

 

Katniss kecewa dengan kenyataan tersebut dan terpukul dengan kematian adik tercintanya. Dia kemudian perlahan menerima kenyataan betapa kekuasaan menguasai Presiden Coin; mulai dari keengganan Coin untuk menyelenggarakan PEMILU yang adil dan demokratis dengan alasan kondisi yang belum memungkinkan; usulnya untuk menyelenggarakan Hunger Games baru dengan peserta para mantan kaum berada rezim Snow dengan alasan sebagai saluran pembalasan dendam; hingga pertanyaan Snow yang menyangkal telah mengebom anak-anak di gerbang Istananya. Maka Presiden Coin justru sama dengan mawar putih di taman kepresidenan, menyembunyikan duri di bawah putih bunganya, hampir tak beda dengan Snow sendiri, hanya saja dalam wujud yang berbeda. Maka, dia pun berbuat dengan mengarahkan dan menembakkan panahnya ke jantung Presiden Coin, menciptakan keseimbangan baru. Namun, walau demikian, pada akhirnya dia menyadari bahwa dia masih tetap menjadi bidak dari penguasa permainan sesungguhnya Plutarch.

 

Kondisi ini mirip dengan situasi yang sedang dialami bangsa ini sekarang. Semua orang merasa berhak untuk berbicara, membela posisi mereka atau yang mereka dukung. Tak ada kebaikan dalam diri pihak seberang; semua yang dilakukan dan dikatakan tak lebih dari sampah; semua kebijakan hanya ada dipihaknya saja. Rasionalitas menghilang; nalar diabaikan; dan nurani entah kemana. Semua yang ada dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kemenangan. Maka, ajaran suci agama menjadi ternoda karena dipergunakan untuk memprovokasi kebencian pada diri mereka sendiri dan orang lain. Logika mereka menjadi liar karena dipergunakan secara membuta untuk membela pihaknya. Nurani menjadi tumpul karena tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kondisi yang seperti lingkaran setan, tiada berujung dan berpangkal, tapi jelas hanya berisi kebencian dan segala sesuatu yang negatif.

 

Dan saya teringat saat ada sahabat bertanya apa yang harus mereka lakukan ketika periode Fitnah Qubro terjadi setelah Rasulullah menyampaikan “kabar langit” mengenai hal tersebut. Hadits mengenai hal ini diriwayatkan oleh an-Nasa'i dari Abdullah bin Amr ibnu Ash bahawa Rasulullah bersabda, "Kamu akan melihat manusia suka melanggar janji dan menghianati amanah-amanah mereka sendiri. Mereka bersatu hati dan berkelompok-kelompok (sambil menunjukkan jari-jarinya masuk antara satu dengan yang lain)". Abdullah lalu menghampiri baginda dan bertanya, "Semoga aku dijadikan Allah sebagai tebusanmu. Pada saat itu apa yang harus aku lakukan, ya Rasulullah?".  Baginda bersabda, "Tinggalkan rumahmu, kawal lidahmu, lakukan apa yang kamu ketahui dan tinggalkan apa yang kamu tidak ketahui (tidak suka). Uruskan pekara-pekara yang bersangkutan dengan dirimu dan keluargamu sahaja. Tinggalkan semua urusan yang bersangkutan dengan kebanyakan orang".

Pada akhirnya, dalam situasi dimana nuansa abu-abu demikian pekat mengaburkan hitam dan putih, memperbaiki diri dengan menjernihkan nurani dan akal pikiran menjadi penting agar dapat mengawal tunas-tunas baru yang sangat mungkin akan tumbuh besar di dunia yang semakin tidak menentu di kemudian hari; atau tumbuh di masa ketika semua menjadi benderang.