Nek Cik

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 April 2016
Nek Cik

Seingatku, orang kampung memanggilnya Nek Cik. Usianya jelas sudah lanjut. Demikian lanjut sehingga kedua matanya sudah tak lagi bisa melihat karena katarak parah. Ketika anak-anaknya ingin mengoperasi matanya, dia menolak. "Takut" katanya. Maka demikianlah hidupnya dihabiskan bertahun-tahun dalam keremangan, mungkin kegelapan, di rumah bersama salah seorang anak, mantu, dan beberapa cucunya.

Tak banyak yang ku ingat tentang dirinya. Aku hanya ingat pada setiap lebaran dibawa oleh orang tua ke rumah beliau, bertamu dengan tentu saja menyalami beliau yang makin tua. Aku ingat pula bagaimana beliau meraba mukaku dan menyatakan bahwa diriku bertambah besar sekarang. Demikian, seterusnya sampai akhirnya diri ini harus melanjutkan sekolah ke tanah seberang. Tak lagi berjumpa dengannya hingga kemudian aku mendengar kabar dirinya telah berpulang.?

Orang tuaku bercerita bahwa sekitar seminggu atau 10 hari sebelum meninggal, beliau menderita sakit kepala luar biasa. Tak ada obat sakit kepala yang mujarab. Sampai akhirnya salah seorang keluarga beliau meminta air doa kepada seorang kyai di daerah tersebut. Sang kyai hanya berkata, "Ada yang akan beliau dapat" sambil menyerahkan air. Dan walaupun berkurang, sakit kepala tersebut masih terus berlangsung, sampai esok harinya ketika sakitnya mulai berkurang, beliau juga merasa ada yang aneh dengan penglihatannya. Dari yang semula gelap, kemudian menjadi remang-remang, dan tak sampai sore hari penglihatannya pulih. Dan setelah beliau melihat semua anak cucu dan keluarga yang belum pernah beliau lihat sosoknya ketika dewasa, atau yang baru lahir. Seminggu kemudian beliau kembali menutup mata, kali ini untuk selamanya tapi, aku yakin, dengan rasa bahagia karena telah melihat yang ingin dilihatkan untuk terakhir kali: mereka yang dicintainya segenap hati.

Penasaran, aku bertanya kepada ayahku, apa amalan sang nenek sehingga mendapat anugerah seperti itu. Beliau menutur, berdasarkan cerita anak-anak beliau yang dekat dengan ayahku, tak ada yang aneh dengan ritualnya. Beliau terus melaksanakan ibadah wajib dalam kamar. Ah ya ada...mungkin ini: anak beliau bertutur bahwa sang Ibu seperti tak berhenti bershalawat, seakan sholawat menjadi bagian dari tiap tarikan nafasnya. Mungkin karena ketulusan cintanya kepada Baginda Rasulullah, akhirnya Allah menganugerahkan apa yang paling diinginkannya sebelum Dia memanggilnya kembali.

?