Kalah jadi Marah

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Maret 2016
Kalah jadi Marah

?

Selama kita hidup di dunia ini, persaingan akan selalu muncul dalam tiap tahapan kehidupan. Di masa kecil, anak harus bersaing mendapatkan nilai yang bagus; bersaing untuk masuk ke sekolah yang dikehendaki; berjuang untuk masuk ke universitas yang didambakan. Setelah dewasa, persaingan menjadi semakin keras ketika memasuki dunia kerja: dari mulai mendapatkan pekerjaan hingga mencapai posisi tertentu; bahkan sampai dalam hal asmara mencari pasangan hidup.

?

Dan apa pun bentuknya, persaingan selalu didahului oleh yang mendominasi dan yang muncul kemudian; yang menang dan yang kalah. Di dunia bisnis teknologi misalnya, dominasi IBM di pasar PC dipatahkan oleh Microsoft, dominasi Apple juga dipatahan Windows, Blackberry harus menyerah kepada Android dan seterusnya. Di bidang ideologi juga demikian, ideologi A mendominasi kemudian dikalahkan oleh yang muncul kemudian. Teori A dibantah dan dikalahkan oleh Teori B dan demikian terusnya.

?

Terlepas dari bentuknya, psikologi yang kalah itu selalu sama. Mereka yang akan kalah biasanya adalah yang sedang mendominasi di bidangnya. Demikian dominan sehingga menjadi rigid terhadap perubahan yang ada sekitarnya, menganggap dirinya sekokoh karang dalam menghadapi terjangan gelombang lautan. Kemudian ketika pengakuan akan dominasi yang tergerus perlahan muncul, sang nominator berusaha melawan dengan melakukan tindakan yang setara; misalnya dengan meningkatkan penjualan, menurunkan harga, berdebat secara terbuka, menulis artikel ilmiah tandingan dan seterusnya.

?

Saat perlawanan tersebut tidak membuahkan hasil, dominasi terus menihil, maka panik pun meninggi. Rasa panik itu kemudian meninggi menjadi kalap karena mau tak mau harus mengakui bahwa dominasi mulai atau bahkan sudah berpindah; mereka menjadi pihak yang kalah. Saat itu, biasanya, yang kalah menjadi marah; kekalahan berubah menjadi amarah. Persaingan tak lagi dilakukan dengan tindakan yang setara. Lebih tepat lagi, mereka mereka yang kalah tadi merasa tak perlu lagi melawan dengan memperhatikan adab dan etika. Jadi, tindakan berubah menjadi serangan. Tindakan inovasi bisnis berubah menjadi serangan bisnis, kualitas dilawan dengan isu negatif; tulisan ilmiah dilawan dengan cemooh; kebijakan dilawan dengan sindiran, hinaan, dan bahkan fitnah; dan seterusnya. Seperti ketika para musyrik Quraish tak dapat melawan logika ketauhidan yang dibawa oleh Rasulullah, ketika Fir?aun tak dapat membantah Nabi Musa a.s, dan berbagai contoh lain yang bertaburan dalam perjalanan sejarah manusia.

?

Di titik ini, tak ada lagi keinginan untuk berubah atau berinovasi. Marah tadi telah berubah jadi benci yang kemudian menyegel hati. Dan sebagaimana pepatah berkata: ?mata cinta tak bisa memandang cela yang dicinta?; demikian pula sebaliknya, ?mata benci tak dapat memandang kebaikan yang dibenci?. Dan saat itu terjadi, maka dia, kita, mereka, atau saya, bukan saja telah memastikan posisi diri sebagai yang kalah, tapi juga yang menyerah. Dengan kata lain, sudah menjadi memastikan diri menjadi pecundang sejati.

?

Maka, mencermati kebencian yang timbul dihati untuk terus dapat berlaku obyektif terhadap suatu kaum, kelompok, ideologi, dan perubahan yang ada, dapat menjadi gerbang meneropong kelemahan diri dan kembali menjadi pemenang.

  • view 223