Gajah di depan Mata

A.K. Anwar
Karya A.K. Anwar Kategori Agama
dipublikasikan 26 Maret 2016
Gajah di depan Mata

Seorang sufi muda sedang berjalan di pinggir sebuah sungai. Sambil berjalan, dia terus melafalkan "Huu" dengan suara lirih dan syahdu. Dzikir yang belakangan ini dirutinkannya sepanjang hari, menjadi fokusnya siang dan malam. Dan konon, mereka yang terus melafalkan zikir tersebut maka salah satu karomah atau anugerah yang diberikan oleh Allah adalah kemampuan untuk berjalan di atas air dengan kaki telanjang, seakan berjalan di tanah.

Saat sedang asik tersebut, terdengar sayup oleh telingannya ada orang yang sedang melafalkan "Huaaaa....Huaaa" dari gubuk seberang sungai. Setelah dipertegas, dia yakin bahwa yang didengarnya adalah seseorang sedang melantunkan zikir yang sama namun dengan cara yang salah. Telingannya menjadi tidak nyaman, hatinya terusik. Dicarinya sebuah sampan, kemudian dengan penuh tenaga dia mendayung hingga ke seberang.

"Assalamualaikum" ucapnya ketika di depan gubuk tersebut.

"Wa'alaikum salam" jawab sang tuan rumah yang kemudian dengan ramah mempersilahkannya masuk, menjamu seadanya dan kemudian menanyakan angin apa yang membawa sang tamu untuk berkunjung ke gubuknya.

"Begini, Pak" katanya dengan nada halus namun mulai menegas, "saya mendengar dari seberang sungai ada orang yang sedang melafalkan zikir Huu..APakah orang itu Bapak?"

"Benar" jawab sang Bapak.

"Ah, tanpa mengurangi rasa hormat, tapi lafalnya salah. Yang benar adalah 'Huuuu', tanpa 'a"."

"Oh ya. Alhamdulillah, Allah datangkan Anda untuk membetulkan saya." kata sang Bapak. Mendengar jawaban sang tuan rumah, kepercayaan dirinya membumbung; membuatnya berkenan mengajarkan sang tuan rumah bagaimana cara melafalkan yang benar. Kemudian dibawah bimbingan sang sufi, tuan rumah mengulang-ngulang zikir tersebut hingga lancar dan pas. Setelah merasa sang tuan rumah dapat melafalkan dengan benar, sang salik muda kemudian pamit.

Dengan puas dia dayung sampannya. Sayang, belum lagi sampai di tengah sungah, dia kembali mendengarkan orang tua yang diajarkannya tadi kembali ke kebiasaan semua dalam melafalkan zikir tersebut. "Huaaaa...Huaaa...." ujar sang bapak dengan lantang. Rasa kesal merambati dadanya. Sambil mengguman kesal, dia memutar sampannya untuk kembali ke gubuk tadi. Namun, saat sampan tersebut berputar arah, wajahnya menjadi pias seputih kertas. Dihadapannya, orang tua di gubuk tadi setengah berlari di atas air menghampirinya sambil berkata, "Maaf, Nak. Tunggu dulu. Lidah tua ini susah sekali dibetulkan. Bagaimana lafal yang benar tadi?"

===Ditulis ulang dari cerita yang masyhur di buku-buku sufi. Sumber asal sudah tidak diingat lagi===

  • view 108