Gempa Lombok, Episentrum Fenomena TGB dan Fenomena Alam

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Agustus 2018
Gempa Lombok, Episentrum Fenomena TGB dan Fenomena Alam

Karakteristik manusia selaku mahluk sosial tentunya selalu berperilaku sosial pula. Sifat istimewa ini terpola pada bentuk interaksi sosial dan cenderung berefek mutualis saling menguntungkan.

Konektivitas antar mahluk tidak terbatas pada sesama manusia, namun adanya mahluk hidup lain yang saling hidup berdampingan dan saling membutuhkan, yaitu alam dan anasirnya.

Fenomena Alam dan Hasil Ikhtiar Inisiatif

Flora dan fauna adalah bagian unsur alam yang sangat berpengaruh terhadap proses interaksi sosial mahluk hidup. Rantai makanan pada semua mahluk hidup ditentukan kuantitasnya oleh pola hubungan antar mahluk hidup.

Dampak dari ketidaktersediaan makanan di hutan liar akibat disproporsi rantai makanan mengakibatkan singa, harimau, buaya dan hewan liar lainnya bisa saja mencari tambahan makanan di area pemukiman manusia.

Fenomena alam juga merupakan peristiwa alam cause and effect (sebab akibat) yang terjadi tanpa direncanakan atau alami dan direncanakan atau buatan.

Gempa bumi adalah contohnya, kejadian alami ini adalah bagian dari bencana alam geologis yang memiliki sifat sulit untuk diperkirakan keteraturannya.

Berbeda dengan yang dinamakan insiatif. Inisiatif menurut para ahli adalah "kemampuan seseorang untuk mengahasilkan sesuatu yang baru atau asli atau menghasilkan suatu pemecahan masalah" (Mardiyanto : 2008).

Fenomena alam bukan hasil kreasi manusia. Fenomena alam adalah kejadian luar bisa yang jika diformulasikan dengan parameter cause and effect, maka fenomena alam dapat dikatakan juga sebagai hasil inisiatif atau merupakan hasil perbuatan manusia.

Hubungan Bencana Alam dan Inisiatif TGB Yang Tabu

Gempa bumi adalah murni hasil fenomena alam. Namun bencana alam klimatologis lainnya seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan kekeringan adalah juga merupakan effect dari inisiatif manusia karena hasil kreasi manusia yang bertentangan (destructive behavior) dengan fenomena alam.

Apa yang terjadi dengan inisiatif politik TGB dalam hubungannya dengan fenomena alam (bencana alam)?

Bagian ini juga merupakan bagian "tabu" dari sebab akibat terjadinya bencana alam.
Tabu adalah perihal sosial yang mana hal ini disebabkan oleh pantangan dan pelarangan kepada subjek maupun obyek. Dan Akibat dari perihal "tabu" ini adalah menyebabkan terjadinya sanksi, malu, dan menyisakan aib.

Menganalisis sikap politik TGB yang ujuk-ujuk tanpa angin dan hujan menuai pro-kontra. Badai protes mengahantam simpatisan TGB yang berada di luar sistem dan jangkauannya.

Fenomena alam klimatologis menyapu bersih sentimen kalangan Ummat Islam yang menginginkan tokoh publik sekaligus ulama secerdas TGB sebagai radar anti badai kezaliman di negeri ini. Namun apa daya deteksi prioritas TGB lebih cenderung (mendukung Jokowi) berprilaku merusak simpati ummat yang sangat natural terhadapnya.

Membahas perilaku politik TGB selaku pejabat parpol mungkin saja tidak memenuhi unsur tabu. Namun di sisi lain, perilaku menyimpang (mendukung Jokowi belum pada waktunya) atau mendahului tupoksi partai mengakibatkan TGB dianggap membuat malu partai dan dapat dianggap sebagai aib bagi Partai Demokrat.

Inisiatif tabu kelewat batas inilah yang menyebabkan fenomena alam (bencana alam) melanda negeri Partai Demokrat hingga berakibat TGB disanksi tegas dengan aturan partai.

Jika sedemikian tabunya fenomena TGB ini, bagaimana pandangan agama menjelaskan fenomena anomali tersebut?

Fenomena TGB Bagian dari Perspektif Alquran

Hasil "inisiatif Tuhan" Sang Maha Pencipta sangat teramat agung.
Mustahil bagi seorang TGB yang berkompetensi agama di atas rata-rata ini tidak bisa melihat jelas hasil kreasi penciptaan alam yang begitu seimbang?

Apakah Alquran 30 juz yang paten di otaknya tidak juga bisa meresonansi matanya untuk melihat berulang kali keseimbangan alam dengan akurat, atau cukuplah dengan saksama?

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41)

Jikalau boleh membusung dada menepuk kesombongan, hanya satu ayat ini (QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41) teramat mudah untuk mengeliminasi hafalan Alquran TGB yang 31 (tiga puluh satu) juz tersebut.

TGB terlalu buta melihat ayat (QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41) ini, atau kedua netra TGB tidak sama kedudukannya sehinga tidak sanggup melihat alam yang begitu seimbang penciptaannya?

Apakah karena kedudukan kedua optik yang tidak seimbang sehingga TGB punya perspektif terhadap konstelasi politik di tanah air ini tatanannya juga tidak balancing?

Sederet pertanyaan ini sesungguhnya menjadi dasar berpikir dan menganalisa cara pandang Alquran terhadap fenomena TGB yang berkontestasi politik tidak fair dengan cara menyerang doktrin dakwah Islam yang hakiki.

Setiap orang berhak menyingkap tabu, agar tabir kejelasannya bisa terlihat setitik kebenaran atau fakta apa sebaliknya.

Faktanya adalah pasca deklarasi sepihak TGB berisi proklamasi mendukung Jokowi as the next president 2019, beberapa hari berikutnya terjadi fenomena alam gempa bumi berkekuatan 6,4 SR terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia pada 29 Juli 2018.

Pada kenyataannya TGB dianggap tokoh ummat Islam karena ketokohan agamanya yang berpolitik sesuai harapan ummat. Tetapi mata TGB memang sudah dipengaruhi isi alam nan wah, lagi-lagi memori 31 juz melambung (QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41) tanpa signing lamp apapun.

TGB warawiri di layar media mengusung isu agama menyerang doktrin, ulama dan dakwah Islam demi Jokowi presiden berikutnya. Dilupakannya warning (QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41) berskala 6,4 SR di depan mata dan linier di bawah kakinya.

Tepat tanggal 5 Agustus 2018 terjadi hentakan logaritmik mengguncang pijakan tanah air TGB. Dampak diindahkannya warning (QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41) memicu skala mesin manusia hingga tercatat tujuh yang arti sederhananya adalah 30 kali lebih kuat dari gempa sebelumnya sehingga dampaknya lebih berbahaya.

Fenomena Gempa di Lombok, Adakah Fenomena TGB Episentrum Karenanya?

Untuk menjawab ujung runcing rentetan pertanyaan tabu di atas, seyogianya kita sebagai manusia berakal dan beriman berpatokan pada dogma Alquran dan Alhikmah yang kompatibel dengan fenomena yang aktual terjadi.

Setelah dua teguran kuat nan faktual dan gempa-gempa susulan yang bermakna tadi, sangat disayangkan oleh Ummat Islam yang terzalimi olehnya, TGB masih saja meratakan bahu dengan telinganya sendiri. TGB merasa lebih paham karena kedua bola matanya ada di atas keningnya.

TGB masih saja rabun dekat terhadap peringatan di depan kedua biji matanya. Sejumlah pernyataan berkilah dari sorotan publik disampaikannya. Bahkan masih menyinggung urusan politik dalam tragedi negerinya.

Apakah fenomena alam : gempa bumi Lombok adalah bagian dari cause and effect fenomena TGB?

Dalam konsepsi dan perspektif agama Islam, tentunya kita sudah punya gambaran jawaban atas pertanyaan tabu tersebut. Karena terlalu banyak referensi teoritis ayat-ayat Alquran yang menjadi hipotesanya.

TGB sebaiknya berpulang ke asal, karena TGB masih berpeluang memperbaiki memori internal 30 juz dan aplikasi bawaan pabriknya.

Tanggapan serta ulasan Ummat Islam terhadapnya adalah niat baik dan cinta kepada ketokohan ulamanya. Sekiranya TGB wajib menginstal kembali software fitrah yang direkomendasikan langsung dari buku petunjuk pemakaian berlisensi paten (yaitu Alquran dan Assunnah).

Untuk TGB, tafsir dan penjelasan dari (QS. Ar-Rum 30 : Ayat 41) tidak terlalu perlu dirincikan, karena bab tersebut sudah khatam baginya.

Dan kita sebagai Ummat Islam yang diberkahi qadha dan qadar yang sesuai, kita hanya wajib melaksanakan kewajiban mengaplikasikan dan mengimplementasikan (QS. Al-Furqan : Ayat 2) dan diantaranya.

Allah SWT berfirman :
"Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya". (QS. Al-Furqan : Ayat 2)

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd 13 : Ayat 11)

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-Qasas 28 : Ayat 77)

*Semoga umara-umara di negeri ini terhindar dari penyakit mematikan akal dan akidah akibat fenomena ekstrim yang disebabkan oleh virus jahat sekuler yang merevolusi mental secara liberal.

**Dan semoga Allah SWT selalu menjaga ulama-ulama kita dan ummatnya Rasulullah SAW agar tidak terpengaruh anomali gagal paham dari konsep Islam nusantara yang tidak pernah sesuai syariat dan akidah Islam. Aamiin. Insya Allah!

"Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr : Ayat 27-30)

Manokwari, 13 Agustus 2018
•ajilatuconsina

 

  • view 85