TGB dan Nasib Tragedi Politik "LOKET" & "DORONG"

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Politik
dipublikasikan 06 Agustus 2018
TGB dan Nasib Tragedi Politik

Fenomena Pembeli Bukan Lagi Raja

Seorang kawan baik mengeluhkan suatu kejadian yang dianggapnya tragis malam itu.

Kamis malam tepatnya di salah satu toko yang bisa saja dijuluki spesialis menjual obat-obatan, sebut saja (Toko Obat Koplak 24 Jam).

Motor diparkirnya tanpa firasat buruk akan terjadi peristiwa krusial memalukan. Pintu kedua toko yang terbuat dari dinding kaca utuh dengan posisi pintu kaca dorong berada di sebelah kirinya, sangat jelas bertanda stiker kata "DORONG". Artinya, petunjuk itu sangat dipahami oleh setiap pengunjung terkecuali yang mengalami buta huruf permanen.

Sebelum turun dari tunggangannya, matanya sempat melihat perawakan sosok wanita muda yang agak pendek, kurus, dan lunglai bersandar malas pada dinding kaca yang dihadapannya tertera stiker tulisan "LOKET".

Dengan sangat sadar akan kondisi lazimnya sebuah toko, pintu itu didorongnya setengah bertenaga. Dan tiba-tiba pintu tak terdorong ataupun terbuka. Seketika pintu hendak didorong tuk kedua kalinya, terdengar suara agak lantang menyeruak, "Lewat sini pak! Mau beli apa?" Ternyata suara tegas itu berasal dari gestur malas yang tak punya etos kerja.

Kawan yang bernasib naas di malam kuntilanak terhentak jiwa raganya karena suara gelegar itu seperti membentaknya. Pertanyaan wanita kecil berbusana gaul tampak alim terlalu berintonasi merendahkan kawan yang sial itu.
"Sini pak, lewat sini!", ujar wanita dengan bahasa tubuhnya dan mimik ketus sambil menunjuk kaca berlubang persegi yang melekat erat kata "LOKET".

Kawanku malang yang merasa dilecehkan logikanya oleh anak muda jarang baca dan kurang beretika tersebut kemudian spontanitas menjawab dengan suara datar, "Nona, bicara pelan-pelan saja, jangan terlalu kasar. Saya datang untuk berbelanja bukan untuk memalak Nona!"

"Tapi lewat sini pak ("LOKET"), bukan lewat di situ ("DORONG")!" Perempuan muda segera membalas cepat tak mau kalah, seraya bibir tersumbing mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu kaca.

"Baik, saya sudah tahu. Tapi suaranya jangan terlalu besar (kasar)!", tukas kawanku yang sudah tersinggung karena tingkah anak muda yang bangga akan kebodohannya tak tahu disiplin ilmu jual beli.

Merasa tidak terima dikatakan bersuara besar (kasar), anak muda cacat konsep sosial itu enggan mengalah atau menurunkan nada verbalnya.
"Dari sini tidak kedengaran (maksudnya kotak kaca "LOKET"), maka harus suaranya keras. Mau beli apa?"

Temanku sayang kawanku malang yang sudah tepat berhadapan dengan loket kaca tersebut saat ditanya oleh pelayan toko untuk kesekian kalinya ("mau beli apa?"), kemudian memutar badan dan wajah kecewanya sambil berkata "Sudah, saya tidak lagi jadi beli!"

Ketika memutar motor di depan toko, sempat dilihatnya perempuan muda berbalik dengan sikap badan congkak serta bahunya rata dengan telinganya, berjalan menemui kedua kawannya yang tampak tertawa cengengesan riang tak terkira.

Sang kawan pun memutar haluan kekecewaan menjadi hikmah berujung pembelajaran bahwa harga diri tak dapat dijual-beli. Bahwa pendirian sangatlah penting menjadi dasar sikap berkelakuan di antara kepentingan yang tidak sejalan.

Tragedi Akrobat Politik Krusial TGB

Berdasarkan pengalaman kawan di atas, maka dapat ditarik suatu resume sederhana bahwa argumen dari fakta teori pembeli/pelanggan/konsumen adalah raja telah mengalami degradasi kiat manajemen yang sulit.

Bargaining yang akan terjadi, adakah semata-mata merupakan bagian dari proses transaksi yang anjurkan? Ataukah bargaining semestinya dilakukan tanpa menunjuk hidung siapa yang berhak mendapat status raja dan pelayan.

Akhirnya TGB (Tuan Guru Bajang) adalah salah satu role model di tahun politik ini, entah dia berperan sebagai pelayan atau diraja. TGB secara sadar mengambil peran dalam bargaining politic yang krusial walaupun hanya bermodal dual acting acrobatics dan expertise to manipulated sentiment (keahlian memanuver sentimen).

Seperti attitude buruk anak muda pelayan toko di atas, implementasi ilmu politik dewasa ini (2016-2019) mengalami fenomena anomali.

Mengapa fenomena anomali ganti presiden bisa begitu menyinggung akrobatik politik TGB? Lantas offensive behavior (perilaku menyinggung) yang bagaimana sehingga TGB yang selama ini "DIDORONG OPOSISI" oleh partai Demokrat, kini dilematis berhadapan dengan "LOKET KOALISI".

Open statement TGB (Tuan Guru Bajang) yang fenomenal diketahui mewakili sikap pribadi yang memilih sendiri prinsip simalakama. Jika kawan tadi rasional memilih pintu "DORONG" karena "LOKET" semestinya bukan tempat masuk tetapi berfungsi transaksional atas bargaining. Maka koalisi adalah sumber dosa yang secara sengaja menceraikan makna rasionalitas setiap akal sehat dan mental.

Toko Obat Koplak 24 Jam seharusnya paham bahwa jika "LOKET" yang lebih fungsional, tentu saja pintu masuk toko tersebut tidak layak dan tidak wajib bertanda "DORONG" ataupun bermaksud "GESER" bahkan bertujuan "TARIK".

Tahun politik (Pilpres 2018-2019) dengan suhu yang memanas ini ditandai oleh cuaca politik dinamis yang juga ekstrim dan dielaborasi dengan siklus elastisitas kepentingan atas nama demokrasi yang anginnya juntrungan tak pernah menentu selama era reformasi ini, turut menghempaskan jauh-jauh logika politik, prinsip demokrasi, tatanan sosial, etika hukum, dan keadaban.

TGB Bukan Lagi Raja, Ataukah Dia Pelayan?

Akrobatik TGB di last minutes drama panggung bursa cawapres yang digadang-gadang mewakili dorongan partai berujung blunder (bertepuk sebelah tangan) dan menjadikannya hanya lampiran biasa atau petugas partai.

TGB bisa saja bernasib tragis yang sama atau berteman baik dengan kawan pembeli obat tadi yang tak pernah dianggap raja, meskipun obat dapat dibeli melalui "LOKET" yang terbuka tanpa harus melewati pintu "DORONG".

Setiap kita (pelanggan) pasti pernah mengalami kenyataan tidak dilayani dengan pepatah 'pembeli adalah raja'. Terlebih lagi, toko atau tempat berjualan tak terkecuali toko obat telah lama mengalami perkembangan ilmu ekonomi (product layout deviation) tentang penataan area dan produk dalam penjualan.
Tentunya sebagian produsen yang konsen menginginkan kenyamanan bersama. Namun pola tata letak seringkali hanya berdasarkan kepentingan dan kemanfaatan produsen semata. Contohnya adalah kasus tragedi "DORONG" & "LOKET" pada toko obat Koplak 24 Jam.

TGB yang seorang politisi dan nota bene gratisannya dianggap sebagai tokoh ummat yang momentum di serba-serbi tahun politik ini sebaliknya mengaburkan statusnya sebagai raja atau pelayan. Dengan demikian berbeda dengan kawan pembeli obat tadi, TGB menerima saja lapang dada atas pelecehan terhadap hak politik jual-belinya. TGB tidak punya prinsip dan pendirian sehingga dipimpong oleh kepentingan yang jauh lebih kuat dari cita-rasanya.

Tuan Guru Bajang kini bernasib tragis sama halnya dengan kawan yang bukan raja di malam sunnah yang merana. Penetapan paket bakal calon presiden dan wakil presiden tinggal menghitung jari. Dan kawan yang teguh pendirian tadi walau tanpa sebutir obat sekalipun, tetap tegar serta tegas mengambill sikap jatidiri sesungguhya dengan harga diri semestinya.

TGB dan Nasib Tragis "LOKET" & "DORONG"

Dan akhirnya, Sabtu tanggal 4 Agustus 2018, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi membuka masa pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019.

Siapa sangka TGB yang terasa terwakili oleh partai Demokrat dan berani membuat proklamasi dukungan kepada Jokowi sebagai the next president return ternyata bertepuk sebelah tangan. Para petinggi partai sebaliknya meminta TGB sebagai kader menentukan nasibnya sendiri pasca proklamasinya.

Ternyata di injury time, bahkan di dalam kotak finalti (masa pendaftaran capres/cawapres) TGB seperti raib ditelan tragisnya masa kelam. Koalisi Keummatan dan Bosnya TGB (SBY) mengusung putra mahkota AHY. Lantas di pintu manakah TGB mendapat porsi imbalan dari transaksi semu yang terlanjur dia lakukan?

Bursa di Koalisi Keummatan nampak mengerucut pada tiga nama yang samasekali amnesia terhadap manuver akting akrobatik TGB yang dramatis dan melukai.

Kawan di toko obat berprinsip untuk tidak memilih satu pun pintu transaksi. Namun yang terjadi pada TGB adalah sebaliknya yakni tak satu pun pintu yang mengakomodir kepentingan TGB.

Dan totalitas tragedi politik TGB ini adalah, nasib dan takdir manuver TGB yang penuh akrobatik sensasional dan menguras sentimen kekecewaan publik ummat Islam telah berakhir tragis, menyedihkan, dan memalukan.

Pintu masuk "DORONG" tidak pernah terdorong masuk, faktanya adalah pintu itu sebaliknya mendorong "TGB KELUAR".
Dan pintu "LOKET" dihadapannya hanyalah hiasan baginya, karena loket yang sesungguhnya untuk TGB adalah "LOKET SILUET". Tragis dan miris.

Masih ada harapan besar terhadap TGB dalam masa 168 jam pendaftaran ke depan ada keajaiban lain yang tercipta. Kita tak pernah tahu rencana Sang Pencipta. Bisa saja ada stiker dengan kata lain yang tertera pada pintu masuk dan loket. Mungkin saja TGB mendapat mu'jizat, karena mu'jizat itu nyata.

Semoga ada lagi jalan masuk lain untuk TGB, misalnya ada "PINTU DORONG AJAIB". Dan loket transaksinya pun ada stiker ajaib dengan kata "LOKET AJAIB". Semoga.

Manokwari, 06 Agustus 2018
•ajilatuconsina

 

  • view 42