Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 31 Desember 2017   22:08 WIB
Abdul Somad & Rizieq Shihab adalah Tokoh Pemegang Kunci Tahun Politik 2017-2019

Hari di akhir tahun 2017 ini terasa seperti setahun tersiksa di neraka bagi musuh-musuh Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Ustadz Abdul Somad (UAS). Betapa tidak, kabar tentang pertemuan UAS dan HRS bagaikan lidah-lidah api neraka menjilat hati musuh-musuh mereka.

Video berdurasi 15:21 detik tersebut dianalogikan bagai 1521 meteor berbungkus api kompor gas berduyun-duyun slow motion menghujani bumi yang paling berbhineka milik para musuh UAS & HRS.

Berita bukan hoax ini seketika menghiasi rumah-rumah media pemberitaan yang selalu jujur jurnalismenya mengedepankan etika jurnalistik. Sedangkan bagi media lain yang sering tidak bermoral, jauh dari etika dan kerap memihak pada kepalsuan, merasa bahwa fakta mengejutkan perihal UAS bertemu dengan HRS ini laksana malaikat pencabut nyawa yang akan sowan dan permisi hendak mencabut nyawa durjananya mereka dan meruntuhkan bangunan media mereka.

Figur UAS dalam frame di video tersebut mengenakan busana berwarna hitam, yang bisa kita imajinasikan warnanya dengan bayang-bayang kemelut, yang artinya bahwa UAS seakan-seakan memberi sinyal perlawanan. Dengan asumsi lain yang lebih tegas menunjukkan bahwa usaha persekusi dan upaya kriminalisasi tidak setegar simbol warna hitam lebih kuat dan tegasnya UAS mengahadapi serangan Musuh-musuhnya. UAS akan istiqamah membela agamanya dari segala macam usaha menghancurkannya. Persepsi hitam lainnya adalah UAS pasti akan menjadi mimpi buruk bagi cita-cita para musuhnya. UAS pasti akan badai serta awan hitam yang menggantung kilat, petir, guntur dan cuaca buruk terhadap rencana-rencana busuk para musuhnya.

Kokohnya simbol perlawanan kepada semua musuh-musuh agama, mengakibatkan mampir tidak ditemui taman dan bunga-bunga berita UAS & HRS di halaman dan beranda rumah mereka. Para netizen, buzzer dan jurnalis cengeng mungkin ada yang lari kaki-kepala meninggalkan markasnya demi menghindari semburan info faktual mengiris hati. Para penulis mewek melek toleransi bisa jadi masih bercokol dalam kamar redaksi sembari sembunyi dari rintikan dan hempasan badai api kebenaran yang siap menghanguskan jasad-jasad haram mereka.

Sementara di teras media lain, suasana gegap gempita dengan selayang pandangnya merampa semerbak harum mewangi berbunga-bunga ceria memberitakan sukacita UAS (yang dituduh tidak pancasilais) bertemu haru dengan HRS (yang dituduh pemecah belah negara dan buron dari kejaran anjing komunis).

Jika melirik pada sesi dan seksinya mata kamera, UAS & HRS terlihat seperti tokoh yang lebih populer dibandingkan presiden dan wakilnya. Semenjak HRS yang dianggap pengecut karena buron dari kejaran kawanan anjing gila. Di saat yang hampir sama nama ketokohan UAS meroket di antara ribuan rudal penghancur mental massal. UAS menjadi idola dari proses revolusi alam buatan agama. Tak tanggung-tanggung banyak pengikutnya berasal dari kalangan selebritas sadar agama yang dulunya dibutakan oleh penistaan berpanggung hiburan pencitraan.

Menarik untuk ditelisik apakah layak kunci tahun 2017 pantas di berikan kepada kedua figur sosok fenomenal yang bikin musuh-musuhnya ketar ketir menelan pahitnya pil toleransi buta agama.

Lebih sensasional lagi, apabila UAS & HRS akan mau sebagai pemegang kunci tahun politik 2017-2019. Mengingat keduanya adalah ulama yang sama-sama kapabel dengan kapasitas umara. Diperkirakan hegemoni perpolitikan di tahun politik ini akan mengalami nuansa spektakuler.

Yang menjadi kejelasan dari semua perkara yang menimpa ulama-ulama di negeri ini di tahun 2017 hingga berujung di pertemuan Ustadz Abdul Somad dan Habib Rizieq Shihab di hari akhir 2017 adalah bukanlah akhir dari upaya para musuh-musuh Islam untuk mengakhiri usahanya.
Akan tetapi mereka akan terus dan terus dengan segala modus (Pancasila, Liberalisme, Toleransi, Bhineka, Pluralisme dan embel-embelnya) untuk mendistorsi Agama Islam dan ajarannya, ulama-ualama dan pengikutnya, serta mengesampingkan bahkan menghilangkan negara dengan pesan dan peranan dasar Ketuhanan-Nya.
Insya Allah, tidak akan pernah terjadi.

Sorong, 01 Desember 2018
•ajilatuconsina

Karya : Aji Latuconsina