Abdul Somad & Said Aqil Siradj, yang Manakah Termasuk Ulama dan Ahli Waris Nabi?

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Agama
dipublikasikan 27 Desember 2017
Abdul Somad & Said Aqil Siradj, yang Manakah Termasuk Ulama dan Ahli Waris Nabi?

|Eksistensi Ulama Bagi Negara

Sesungguhnya pertanyaan pada judul tulisan di atas haruslah mengandung jawaban yang logis dalam hubungannya dengan realita ummat Islam saat ini.

Untuk dapat mendapatkan jawaban apakah yang dianggap sebagai tokoh-tokoh dari ummat Islam yang sekaligus berperan ganda dengan status seperti muballigh, ustadz, kiyai, dan sebagainya dapat dikategorikan sebagai ulama atau ahli waris para nabi.
Maka lagi-lagi seleksi alamlah yang akan menentukan demikian, seperti halnya penceramah atau ustadz yang mendapat legitimasi langsung dari ummat sehingga seseorang dengan ahlak, kemampuan dan keilmuan yang dimiliknya layak menyandang predikat ustadz.

Abdul Somad yang sangat jelas sebagai representatif ummat Islam pada zamannya secara subtantif telah teruji dengan segala bentuk usaha kriminalisasi dan upaya persekusi terhadap kapasitas statusnya dan kapabilitas keilmuannya di dalam perkembangan syiar Islam dewasa ini.

Jikalau demikian faktanya, apakah seseorang yang dianggap tokoh ummat Islam seperti Said Aqil Siradj layak mendapat pengakuan selain hanya legitimasi organisasi yang digelutinya?

Mengingat generasi ummat Islam pada masa keemasan Said Aqil Siradj saat ini banyak yang meragukan dan menolak kompetensi beliau selaku tokoh agama yang mendulang banyak kontroversi negatif dan akhirnya berakibat pada keraguan akan "status emasnya".

Tulisan ini dengan perspektif lain berkesempatan untuk menimbang sekaligus menguji kualitas "keemasan" Said Aqil Siradj dengan neraca keadilan agama sebagai landasan hukum ummat Islam dengan menggunakan alat uji berupa hadits Rasulullah Saw.

Rasulullahi Saw bersabda :
"Dunia akan menjadi kuat, dunia akan menjadi tegak dan jaya kalau ditunjang oleh empat perkara".

Seandainya bumi yang kita diami ini ingin menjadi bumi yang penuh limpahan rahmat dan keberkahan. Bahkan jikalau negeri atau negara yang kita cintai ini ingin menjadi negara yang kuat dan jaya, maka di dalamnya harus ada 4 (empat) perkara.

Salah satu perkara yang menjadi pilar penting bagi kuatnya negara adalah "Keilmuan Para Ulama".

|Kapasitas Keilmuan dan Kapabilitas Ulama Pada Ummatnya

Harus disadari sepenuhnya, diakui atau tidak, ummat Islam sangat berhutang jasa kepada para ulama. Kita belum pernah bertemu dengan baginda Rasulullah Saw, belum pernah mendengar suaranya, tidak menyaksikan mu'jizatnya, tidak pernah mendengar beliau mengucapkan wahyu.

Kalaulah sekarang ummat zaman kekinian ini, kita sedikit-sedikit mengenal agama, mengerti halal dan haram, pandai memilah dan memilih yang haq dan yang bathil, kita tahu mana yang pantas dan mana yang tercela, kita mengenal Allah Swt adalah Tuhan kita, semua itu adalah temasuk jasa, peran dan perjuang para ulama.

Jasa, peran dan perjuangan para ulama tersebut itulah yang menjadikan fungsi utama ulama sebagai penerus risalah sekaligus pewaris para nabi.

Rasulullahi Saw bersabda :
"Para ulama adalah lampu yang menerangi bumi ini. Para ulama adalah pengganti para nabi-nabi. Para ulama adalah warisanku, dan para ulama adalah warisan para nabi-nabi".

Alangkah tingginya pangkat ini, alangkah bermartabatnya jabatan ini. Akan tetapi pangkat dan jabatan yang mulia, luhur dan agung ini adalah bukan suatu jabatan yang tanpa resiko.

Pangkat keilmuan dan keulamaan Said Aqil Siradj adalah salah satu contoh konkrit dari bermartabatnya jabatan ulama. Tak heran Dia telah menjabat Ketua Umum Ormas Keagamaan selama dua periode (2010-2015, 2015-2020).

Di antara banyaknya khalifah sebagai pewaris nabi-nabi, Abdul Somad adalah salah satu khalifah dimuka bumi ini yang telah memegang dan menggenggam "bara api" agama ini.

|Apakah Kini Abdul Somad Lebih Teruji Kapabilitasnya dari Said Aqil Siradj?

Seperti kisah ataupun riwayat nabi-nabi terdahulu, mereka sering teruji keimanannya dalam mengahadapi bentuk-bentuk kriminalisasi berupa caci maki, rintangan, fitnah, halangan, tipu daya, ataupun berbagai macam persekusi baik secara fisik maupun mental spiritualitasnya di dalam menegakkan risalah agama.

Karena para ulama adalah pewaris nabi-nabi, maka mereka juga harus berani dan mewarisi sifat-sifat para nabi terdahulu dalam mengemban misi risalahnya.

Adalah conton nabi Zakaria as. dan nabi Yahya as. yang dibunuh raja kafir Herodes karena tidak mau menghalalkan perkara yang telah diharamkan oleh Allah Swt dalam Taurat.

Persekusi sekaligus kriminalisasi terhadap nabi Nabi Yusuf as. dan 9 tahun mendekam di dalam penjara dengan mendekap erat kebenaran karena tidak mau menuruti bujuk rayu seorang istri pejabat tinggi.

Seperti juga nabi Allah Ibrahim as. yang oleh raja Namrudz Laknatullah diperintah dibakar ditengah kobaran api yang menggunung tinggi hanya karena teguh mempertahankan dan melaksanakan tugas risalahnya.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah para nabi yang lain yang merupakan cerminan betapa berat tugas memgemban risalah dari Allah Swt.

Tentunya sebagai yang dianggap ulama oleh sebagian ummat lainnya, Said Aqil Siradj juga seharusnya menjadi bemper bagi ummat yang dipimpinya dalam menghadapi ketidakadilan dari kekuasaan. Bukan malah sebaliknya Said Aqil Siradj menjadi corong emas bagi penguasa demi melegitimasi kuasanya terhadap kehidupan keagamaan ummat Islam dengan mengeluarkan seruan-seruan pertentangan, suara-suara perpecahan dan bunyi-bunyi ketidakjelasan fatwa-fatwa berstatus ganda.

Said Aqil Siradj lebih sering terlihat berjalan lurus di antara taburan bunga-bunga. Said Aqil Siradj terlihat aman di antara duri-duri yang sengaja ditumpulkan demi mulus menapak kekuasaan sementara. Keutamaan akidah yang harga mati bagi Said Aqil Siradj mungkin adalah hal yang masih perlu dibahas dengan tawar-menawar sesuai syahwat penggunanya.

Tuntutan ahlak bagi seorang ulama tidak tampak pada sosok Said Aqil Siradj yang sering menuai kontra di kalangannya sendiri. Contoh tuntunan dan perbuatan bagi ummatnya di bawah payung naungannya selalu bersebrangan dan bercerai dari risalah yang "gadungan" atau malah bertentangan dengan apa yang dicontohkan oleh para nabi.

Lain halnya dengan Abdul Somad yang bukan ahli waris gadungan tanpa legitimasi "koor vokalisasi", karena Abdul Somad memang lantang suaranya, berani serta tegas menyiarkan amar ma'ruf nahi munkar dari kerongkongan dada paling dalamnya tauhid bersemayam.

Abdul Somad tidak tegiur dengan fasilitas makan siang gratis yang memang tidak dibenarkannya. Abdul Somad lebih berani kalaupun harus dikucilkan dari sakralnya Pancasila dan kebhinekaan sepihak, walau mesti diancam penjara dan preman bekerah putih, meski menantang maut di hadapan ancaman pedang bahkan harus berani walau diancam dibakar sekalipun. Sebab Abdul Somad tidak hanya mengaku-ngaku penjaga ahli waris dari para anbiya tetapi Abdul Somad telah membuktikan menunaikan risalah para nabi-nabi.

Berbeda dengan ulama terdahulu yang lahir dan besar oleh kualifikasi yang teruji di masa setelah Rasulullah Saw. Para ulama zaman kekinian setelah tabi'it tabiin ini di antaranya lahir dari seleksi sosial, ada ulama yang besar dengan cara meniti gelar agama dengan pendidikan dari bawah, ada pula ulama yang merasa besar karena berafiliasi dengan wadah agama dan tidak sedikit ulama yang lahir karena suatu momen (peristiwa) atau suatu kebetulan (nasib) walaupun kapasitas keilmuan yang belum mempuni.

|Fakta Kini Membuktikan Abdul Somad Adalah Ulama Pembawa Risalah Nabi

Abdul Somad dan tentunya Said Aqil Siradj adalah tokoh yang sama-sama mempunyai latar belakang keilmuan dan keduanya juga sama-sama diakui ummat.

Cirikhas menyolok dari keduanya sudah terlihat jelas di depan mata dan menjadi fakta. Tatkala Said Aqil Siradj yang dituduh Syiah (pendukung Syiah) oleh kelompok fundamentalis Islam dan Abdul Somad yang dituduh sebagai pembawa isu khilafah (pendukung khilafah) oleh gabungan kelompok yang memusuhi Islam dan elemennya.

Said Aqil Siradj yang dikenal merupakan "ulamanya pemerintah" selalu membawa pesan ataupun risalah "agama pemerintah" dalam kepentingan negara. Sedangkan Abdul Somad dikenal tegas menyuarakan Islam yang bersyariat Islam (bukan Islam bersyariat Sekuler-Liberal). Kedua-duanya mendapat porsi perhatian ummat yang lebih.

Secara otomatis Said Aqil Siradj pasti didukung oleh koalisi ummat di bawah binaannya dengan segala macam kontroversi di dalamnya. Akan tetapi Abdul Somad sama sekali tidak berkoalisi dengan politik praktis, namun suara murni untuk Abdul Somad dan dukungan pasti ummat yang sudah paham dengan segala macam tantangan syariat Islam bagi pemeluknya.

Publik ummat Islam sudah melek dengan dengan upaya kriminalisasi dan usaha-usaha persekusi ulama, salah satunya yang terkini adalah menimpa Ustadz Abdul Somad, Lc. MA.

Jika hanya indikator Said Aqil Siradj tak pernah mengalami variabel kriminalisasi dan persekusi, maka probabilitas Abdul Somad sebagai ahli waris nabi sangat pantas disematkan kepadanya.

Karena Ustadz Abdul Somad telah memiliki kredit poin sebagai bukan ulama pencari jabatan, dia bukan ulama pembawa pesan Fir'aun, Abdul Somad juga bukan bampernya ormas liberal, Somad juga bukan hashtagnya negara sekuler, dan Ustadz Abdul Somad terbukti tidak gampang menyatakan yang bathil menjadi haq, dan yang haq dipaksakan jadi bathil.

Ustadz Abdul Somad kini dan seterusnya akan menghadapi yang namanya ujian pada nabi-nabi terdahulu. Ustadz Abdul Somad akan senantiasa mengahadapi tantangan seperti halnya cobaan-cobaan yang menimpa pewaris nabi-nabi sebelumnya pada zamannya.

Ummat Islam yang setia pada pewaris risalah nabi akan selalu mengawal, menjaga dan mendoakan kebaikan dan keselamatan Ustadz Abdul Somad dalam kiprahnya sebagai ulama pada zaman revolusi mental kebablasan.

Semoga Ustazd Abdul Somad bukan ulama su'u di antara sekian banyaknya ulama gampangan, ulama karbitan, ulama gadungan, ulama-ulama bayaran penjual akidah dan ayat-ayat Tuhan dan ulama-ulama munafik.
Insya Allah Uztadz Abdul Somad selalu istiqamah sebagai pewaris risalah para nabi-nabi di jalan syariat Islam.

"Sejarah sudah mencontohkan semuanya. Dan waktu telah membuktikan semuanya. Satu per satu Ulama Pewaris Risalah Nabi dikualifikasi kompetensi kapasitas keilmuan dan kapabilitas Ulamanya. Saksinya adalah Allah Swt, dan buktinya ada pada manusia ciptaan-Nya. Layak atau tidaknya, semua pasti akan mendapat ganjaran-Nya"

Sorong, 28 Desember 2017
•ajilatuconsina

  • view 164