Mosi Tidak Percaya Kepada Ketum ICMI - Jimly Asshiddiqie, Sangatlah Pantas

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Politik
dipublikasikan 10 Desember 2017
Mosi Tidak Percaya Kepada Ketum ICMI - Jimly Asshiddiqie,  Sangatlah Pantas

Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua ICMI (2015-2020), Sangatlah Pantas!

|Atraksi Akrobatik Politik Ketua Umum ICMI

Bukan kali ini saja, Jimly Asshiddiqie (Ketua ICMI 2015-2020) melakukan akrobatik politik dengan menggunakan alat bantu (media) ICMI.

Dengan percaya diri Jimly Asshiddiqie melakukan atraksi paling berani-menyesatkan dengan pernyataan politik di hadapan Presiden Joko Widodo dan sebagian para undangan tamu politik  lainnya dalam acara Silaknas ICMI tahun 2017 di Istana Bogor, Jawa Barat, Jum'at (8/12).

Jimly mengatakan bahwa dirinya ingin pembangunan yang sudah dijalankan Jokowi terjamin kelanjutannya.

Selain menyampaikan pandangan dan keinginan pribadinya, Jimly Asshiddiqie juga melakukan manuver politik dengan menggunakan elemen kecendekiawanan (ICMI) tanpa merasa dirinya adalah seorang ketua umum ICMI.

Dalam acara Pembukaan Silaknas ICMI di Istana Negara Bogor, Jimly Asshiddiqie secara eksplisit mendeklarasikan dukungan "ICMI sebagai partai politik" kepada pemerintahan Joko Widodo.

Berikut ini adalah pernyataan dan  sekaligus deklarasi yang disampaikan olehnya : "Dengan tetap senantiasa berpikir kritis, dan konstruktif, ICMI tidak pernah ragu, tidak perlu dan tidak boleh ragu untuk mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo selama sepuluh tahun."

Kemudian Jimly melanjutkan : "Ini bukan semata-mata untuk kepentingan orang per orang. Dukungan diberikan untuk kemajuan bangsa dalam jangka waktu yang panjang, pembangunan."

Jika menimbang dan memperhatikan pernyataan Jimly yang mengatasnamakan ICMI yang bukan organisasi politik apalagi partai politik,  maka Jimly Asshiddiqie telah bertindak sepihak terlibat dalam politik praktis yang menyalahi AD/ART ICMI secara mutlak.

ICMI adalah organisasi bercirikan cendekiawan yang dengan tujuannya mempertahankan idealisme intelektual Islamnya guna terus berperan aktif dalam konstruksi mental dan intelektual generasi Muslim yang berbasis agama.

Dampak dari sikap dan statement ketua umum ICMI sangat berimplikasi kepada keberadaan ICMI sebagai organisasi yang eksistensi dan independensinya harus tetap terjaga.

|Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020, Jimly Asshiddiqie

Menindaklanjuti segala sikap dan statement ketua umum ICMI yang berpolitik praktis secara terbuka, nyata dan sadar pada Silaknas ICMI di Istana Bogor, 8 Desember 2017. Maka seharusnya menjadi kewajiban semua kepengurusan ICMI dari tingkat Orwil, Orda sampai Orsat di 34 daerah mengambil sikap tegas untuk melakukan 'Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020, Jimly Asshiddiqie'.

Dan guna mengantisipasi kejadian-kejadian yang sama terulang kembali dalam hal mendisposisi ICMI secara sepihak, maka Jimly Asshiddiqie selaku ketua umum ICMI aktif harus dan wajib segera mengklarifikasi sikap dan statement politiknya, sebagai sikap dan pernyataan secara pribadi dan bukan mewakili organisasi.

Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI ini juga mewajibkan Jimly Asshiddiqie sebagai ketua umum ICMI untuk melakukan permintaan maaf kepada seluruh kepengurusan ICMI di tingkat pengurus Orwil, Orda, Orsat, dan Badan-badan Otonom ICMI setingkat Orwil, Orda dan Orsat di 34 Propinsi seluruh Indonesia.

Untuk mengembalikan dan memurnikan kembali marwah, nama baik, fatsun, fungsi, tugas dan tanggung jawab ICMI sebagai organisasi ummat-intelektual dan bukan partai politik, maka Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI juga harus berakibat pada permintaan secara sadar dari Jimly Asshiddiqie untuk mengundurkan diri secara terhormat dari kepengurusan ICMI tahun 2015-2020.

Banyak masalah ummat dan problem kebangsaan yang sedang terjadi. Mulai dari problem ketimpangan hampir di semua sektor pembangunan yang menjadikan ICMI harus tetap eksis menjalankan program-program ummat dan kebangsaan tanpa harus turut serta melakukan kegiatan politik praktis dan terlibat dalam krisis penyimpangan agama, hukum dan kisruh politik nasional saat ini.

Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020 - Jimly Asshiddiqie, harus segera dilaksanakan secepatnya.

Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI harus berdampak pada kepercayaan ummat terhadap ICMI secara organisasi khususnya dan kepada kepentingan ummat secara umummnya.

|Mosi Tidak Percaya Jangan Takut pada Amnesia Akut

Dalam narasi politiknya, Jimly juga menuturkan ada proses panjang yang memerlukan estafet kepemimpinan antargenerasi. Jimly pun memahami bila kepemimpinan bangsa akan pasti tergantikan dalam proses pemilu lima tahunan.

Bukan sesuatu yang kebetulan (seperti sudah dikodratkan), Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020 - Jimly Asshiddiqie ini akan menjadi durian runtuh dan akan mengamini narasi dan keinginan poltiknya, bahwa kepemimpinan Jimly Asshiddiqie memang diinginkan harus selesai sebelum waktunya.

Jimly juga mengatakan bahwa dirinya tak ingin segala yang sudah dilakukan pemerintahan sebelumnya justru kembali ke titik nol dengan kepemimpinan baru.
Menurutnya, "Hal ini berbahaya bagi kemajuan bangsa."

Pernyataan senada ini sekali lagi percis dengan keinginan Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020 - Jimly Asshiddiqie ini. Justru karena itulah jika Jimly tidak berhenti dan keluar dari kepengurusan ICMI, maka "hal ini berbahaya bagi kemajuan ICMI" sekarang dan kedepannya.

Sebelum menyudahi narasi politiknya, Jimly dengan salah satu paragrap penutupnya mengatakan : "Untuk itu, diperlukan pemerintahan yang stabil, pada setiap sepuluh tahunan dengan kepemimpinan yang sungguh-sungguh. Pertama, bekerja nyata untuk rakyat. Kedua, bersikap konsisten. Ketiga, predictable."

Sungguh sangat luar biasa. Paragrap penutup Jilmly ini sudah sangat sesuai dengan cita-cita Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020 - Jimly Asshiddiqie ini.
ICMI harus tetap stabil dan bekerja dengan sungguh-sungguh, konsisten bekerja nyata membela ummat dengan kepentingannya walau tanpa Jimly Asshiddiqie sebagai ketua umumnya sekarang dan nantinya.

Ini artinya, Pembukaan Silaknas ICMI tahun 2017 yang dibuka oleh Presiden Jokowi dan dihadiri oleh Presiden ketiga Republik Indonesia BJ. Habibie, yang diikuti oleh perwakilan pengurus ICMI baik Pusat, Orwil dan Orda dari 34 provinsi seluruh Indonesia, jangan sampai mengalami amnesia permanen. Cukup pada saat Jimly Asshiddiqie melakukan atraksi akrobatik dengan narasi politiknya itu saja.

Apabila merunut pada hingar bingar cerita dramatis yang tragis beberapa waktu lalu, tentang seorang tokoh partai politik nasional (Setnov) berhasil menabrakan mobil dan dirinya pada tiang listrik nasional dan berujung dirawatnya Setnov dengan luka-luka dan benjolan segede bakso nasional pada wajah serta kepalanya.

Maka menjadi hal yang tidak berbeda jauh dengan Jimly Asshiddiqie selaku ketua umum ICMI yang bermain-main dengan aspirasi politiknya secara sadar, dan kemungkinannya bisa berakibat pada kesehatan ketua umum ICMI yang akan mengalami "amnesia akut".

ICMI berisikan para Muslim dengan intelektualitas berbasis nilai-nilai agama dan keadaban. Intelektualitas Muslim dengan kecerdasannya ini jangan sampai menjadi "sirih yang merambat tebing karang". Jangan karena syahwat politik sesaat lalu menjadi pura-pura amnesia sesaat atau bahkan sengaja menjadi akut dan permanent selamanya.

Ummat Islam di Indonesia ini tidak pernah lupa apalagi takut dengan amnesia. Masih teringat jelas dan terdigital jejak Jimly Asshiddiqie pada acara nasional Semiloka 08 April 2017.

Seminar dan Lokakarya dengan tema Indonesia di Persimpangan : Negara Agama dan Negara Pancasila,  Jimly Asshiddiqie menjadi salah satu narasumber pada acara tersebut.

Dengan gaya intelek dan syahwat politik pluralitasnya dan terlihat sikap meremehkannya, Jimly Asshiddiqie dengan tanpa amnesia melecehkan Agama Islam dengan unsur-unsurnya, mulai dari keimanan Islam, ajaran Islam, nilai-nilai Islam, ulama Islam, Ummat Islam, dan kasuistik perihal Islam di Indonesia dan di dunia.

Sedang sakitkan ICMI pada saat Semiloka 08 April 2017 itu?
Atau sedang amnesiakah intelektualisme ICMI pada saat itu dan setelahnya menjadi akut, permanen dan takut?

Mungkin saja, para intelektualis Islam sedang rehat dalam program-program ICMI. Sehingga tidak ada aktivitas ketersinggungan yang terjadi. Atau memang para intelektualnya sedang menikmati sakit amnesia dan permanen menjadi takut pada politik ketua umumnya?

Amnesia akut adalah kejadian baru dalam ingatan jangka pendek yang tidak ditransfer ke ingatan berikutnya dan jangka panjang secara permanen.

Semangat dan implementasi Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua Umum ICMI 2015-2020 - Jimly Asshiddiqie jangan sampai menjadi sakit, amnesia, akut dan takut!

Bisa jadi Jimly Asshiddiqie sebagai penderitanya tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi saat di Silaknas ICMI di Istana Bogor kemarin.
Setelah munculnya amnesia ketua umum ICMI ini walaupun baru berlalu sesaat namu tidak dapat disembuhkan dengan terapi (lupa permanen). Semoga.

Sorong,  10 Desember 2017
•ajilatuconsina

  • view 93