KEPALA DI KAKIKU DI KEPALA (1)

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Puisi
dipublikasikan 30 Oktober 2017
KEPALA DI KAKIKU DI KEPALA (1)

Batok kepalaku
kubuat dari bentangan beribu nusa di tulang rawan

Di kulit kepalaku
tumbuh hutan-hutan kayu yang hijau panoramanya ditawan

Ada sebanyak guratan nasib di dahiku
petanda harta memendam dalamnya ingatan

Dari lubang hidungku
meletuslah dosa-dosa bergunung penuh kerak perjanjian

Barisan keningku pun tak luput
kebunnya terasa hanya nama
jadi lahan tawar menawar para sesiput
lalu uangku ditukar dengan kertas berwarna

Jidatku turut mengkerut
ketika tak harum lagi bunga taman persada
sisa segenggam pula nyaris disulap luput
tinggalkan potongan bunga di pusara

Ronaku jadi ikut kusut
jenuh ditempa masalah di dada
cermin wajahku tergores keriput
oleh usia bumi yang ditentukan para durjana

Tanganku ingin menanam budi
namun hatiku menuai parahnya sakit

Kakiku tertanam lumpur bekas padi
jantungku semakin digenangi hama parasit

Jari-jariku beku oleh dinginnya asumsi ekonomi
bahwa menghitung bukan solusi namun investasilah yang taipan kritik

Otakku kian berpikir esok kan mati
setelah tahu nadiku disimpul musim paceklik

__________________________________
"TT TUKEL STORI PARLENTE"
"Kepala di Kakiku di Kepala" (1)
Sorong, 30 Oktober 2017
•ajilatuconsina

  • view 133

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Membaca sajak Aji Latuconsina ini menegaskan fungsi puisi sebagai media kritik efektif dalam balutan kata yang terpilih secara tepat tanpa menghiraukan aspek keindahannya. Tiap bait puisi Aji ini mengangkat banyak metafora, simbolis yang oleh sang kreator dipilih sungguh secara cermat, mewakili bagian-bagian penting bangsa Indonesia yang kini jatuh ke pihak asing atau kaum kapitalis.

    “Di kulit kepalaku.. tumbuh hutan-hutan kayu yang hijau panoramanya ditawan..”mengingatkan kita pada anugrah hutan yang sayangnya kini tak semuanya dikelola oleh masyarakat melainkan si pemodal besar. “Cermin wajahku tergores keriput..Oleh usia bumi yang ditentukan para durjana”.. di bait ini Aji turut memunculkan isu lingkungan yang makin hari makin miris sehingga membuat bumi terasa menua dan makin rusak. Kita butuh puisi semacam ini untuk menyadarkan kita untuk menjadikan hidup kita berkontribusi terhadap lingkungan dan ekonomi negara.