Pemuda. Ini Sumpahku, Mana Sumpahmu?

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Oktober 2017
Pemuda. Ini Sumpahku, Mana Sumpahmu?

Tulisan ini pada hakikatnya berkaitan dengan hari Sumpah Pemuda. Apabila pembaca enggan memaknainya bukan sekedar momen Sumpah Pemuda, maka itulah yang sangat diharapkan.

Dulu para pemuda yang berikrar Sumpah Pemuda mungkin saja secara sengaja bertemu, berkumpul, bermusyawarah, kemudian bermufakat untuk memproklamasikan ikrar tersebut.

Seiring bergantinya era dan momentum, para pemuda pada tiap masanya mempunyai visi, misi dan tujuan bersama yang diakomodir oleh kepentingannya dengan berbagai cara, salahsatu caranya yaitu berafiliasi pada Parpol. Atau mungkin berorganisasi kemanusiaan dan beryayasan dengan gerakan cinta perdamaian.

Namun pada kesempatan ini, tulisan tentang pemuda dan sumpahnya ini tidak berhaluan politik (walau pun tidak samasekali) dijamin dalam perjalanan deskripsinya.

Pemuda dalam konteks ini adalah pemuda yang bukan diasumsikan sebagai millinneal generation. Tetapi juga bukan pemuda pada generasi yang dimaksud setelah generasi sebelumnya yaitu sebagai generasi warna-warni tanpa warna dasar (colorful generation).

Generasi pemuda yang ini sangat penuh dengan warna yang mendasar. Dasar dari warna pemuda ini adalah berdasarkan kepribadian dan jatidiri. Bukan saja berdasarkan 'keterwakilan' tetapi lebih kepada perwakilan atau contoh kongkrit dari etos dan moralitas.

Pemuda yang dinarasikan di sini adalah bukan pemuda berlabel hashtag, bukan pula pemuda kalangan komentator, juga bukan pemuda kelompok follower, apalagi pemuda golongan likers.

Pemuda ini dengan sumpahnya adalah pemuda realistis, mereka adalah pemuda yang betul-betul pemuda yang menyukai fakta daripada maya. Golongan pemuda ini benar-benar berani bersumpah jika komitmen yang diagungkannya tidak boleh direduksi dari aspek apapun.

Itulah mereka, pemuda-pemuda yang tidak hanya menikmati dunia dan meniadakan akhirat. Namun pemuda-pemuda yang punya asas dan dasar implementasi pada semua sektor aplikasi berbasis agama.

Berikut ini adalah contoh aplikasi dari komitmen para pemuda di generasi milineal sekarang ini.
Mereka berani bersumpah pemuda, berikrar bukan atas nama pemuda remote control, atau pemuda-pemuda plural yang liberal dan sekuler.

Ini sumpahku, mana sumpahmu?

(1). Kami Pemuda dan Pemudi, mengaku bahwa walaupun bertanah air yang satu dengan Pemuda dan Pemudi dari Kalangan Simpatisan dan Pecinta Penista Agama (Kasipenisnya). Kami bukan bagian dari mereka apalagi menyerupai mereka karena kami tidak akan pernah mau bertanah air yang nista yang sama dengan mereka.
Karena kami adalah manusia dan manusia yang beragama, bukan manusia penghina-penista agama orang lain.

Dan dengan ini kami Pemuda dan Pemudi beragama yang bukan agama sekulerisme - pluralisme - liberalisme ini bersumpah, bahwa kami tidak akan pernah membiarkan atau tidak akan mentoleransi segala upaya dan usaha untuk mendiskreditkan ummat beragama di tanah air ini.
Kami bersumpah, tidak akan pernah berupaya atau berusaha untuk menghina dan menista agama orang lain hanya karena motive kepentingan pribadi, kelompok, organisasi, partai, politik dan agama.

(2). Kami Pemuda dan Pemudi, mengaku bahwa kami adalah suatu kesatuan yang berbangsa yang satu bangsa di negara tercinta ini. Kami bukan bagian dari bangsa Pemuda dan Pemudi dari Kalangan Simpatisan dan Pecinta Penista Agama (Kasipensinya).
Karena kami bukan dari bangsa penghina dan penista agama orang sebangsa.
Karena kami Pemuda dan Pemudi beragama yang berpolitik demi kepentingan agama, bukan berpolitik memakai senjata agama dan beragama memakai politik kotor dan kejam.

Dan dengan ini kami Pemuda dan Pemudi bangsa beragama yang bukan agama sekulerisme - pluralisme - liberalisme ini bersumpah, bahwa kami akan tetap mempertahankan bangsa dan negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dari segala upaya dan usaha Pemuda dan Pemudi dari Kalangan Simpatisan dan Pecinta Penista Agama (Kasipensinya) yang menginginkan bangsa dan negara ini berubah dan terjun bebas menjadi bangsa dan negara tanpa aturan agama dan bebas sebebas-bebasnya tanpa agama sehingga agama pun ditafsir sesuka akal sebebas-bebasnya.

(3). Kami Pemuda dan Pemudi, mengaku bahwa kami menggunakan bahasa pemersatu tanah air, bangsa dan negara yaitu bahasa persatuan bangsa, bahasa perbedaan, bahasa kemajemukan, bahasa toleransi, bahasa gotong royong, bahasa pengertian dan bahasa tenggang rasa.
Karena kami Pemuda dan Pemudi beragama ini tidak mau menjadi Pemuda dan Pemudi yang munafik dan bersiasat kotor dalam agama untuk memaksakan kehendak politik agamanya dengan segala cara untuk menghancurkan kepentingan keagamaan orang lain yang sebangsa dan setanah air.

Maka dengan ini, kami Pemuda dan Pemudi beragama yang bukan agama sekulerisme - pluralisme - liberalisme ini bersumpah, akan tetap menjaga dan mempertahankan kepentingan agama di atas segala-galanya sampai langit runtuh dari semua bentuk upaya, usaha dan kepentingan kejam tidak berperikemanusiaan mengkriminalisasi keagamaan dan unsurnya yang dilakukan Kalangan Simpatisan dan Pecinta Penista Agama (Kasipensinya) untuk menghancurkan kepentingan beragama orang lain yang tidak sesuai dengan cita-cita berbangsa dan bernegara.

Inilah sumpahku!

Pemuda, inilah sumpah. Bersumpah sebagai akibat dari penghinaan dan penistaan agama yang dipelihara oleh kepentingan agama, ekonomi, politik, dan kekuasaan dan disemai oleh Kalangan Simpatisan dan Pecinta Penista Agama (Kasipensinya).

Mana sumpahmu?

Sorong, 29 Oktober 2017
•ajilatuconsina

  • view 60