UNJUK RASA DAN DEMO ITU SOLUSI (di Kedutaan Myanmar)

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Renungan
dipublikasikan 05 September 2017
UNJUK RASA DAN DEMO ITU SOLUSI (di Kedutaan Myanmar)

Unjuk Rasa itu Juga Solusi yang Cerdas

Segala bentuk untuk menunjukkan rasa itu adalah solusi. Segala macam cara guna menyampaikan rasa itu adalah solusi. Bahkan diam pun adalah salah satu solusi. Tetapi bukan bentuk diam yang dengan memendam rasa, tetapi bukan diam yang menyimpan rasa dendam, sifat munafik, mencaci dalam hati, dan membenci dengan membungkam rasa.

Manusia itu harus bisa berunjuk rasa. Jika tidak, ke-manusiannya terpinggirkan oleh sebatang kayu bakar.

Manusia siapa saja berhak berunjuk rasa dan dengan alasan apa saja, termasuk alasan yang tidak jelas dari niat jahat dalam hatinya.

Manusia siapa saja yang bahkan super munafik pun punya hak untuk berunjuk rasa, tentang apa saja dan dengan alasan dusta apa saja. Bahkan tentang alasan mengapa gambar wajahnya menyerupai binatang gorila (itu juga unjuk rasa).

Berunjuk rasa bagi manusia adalah kodrat. Berunjuk rasa bagi manusia kepada manusia adalah hak dasar manusia, kecuali manusia itu bukan manusia. Bahkan manusia "wajib berunjuk rasa kepada Tuhannya".

Hakikat dari berunjuk rasa itu adalah du'a. Du'a itu adalah permintaan.
Permintaan itu berupa permohonan, kebutuhan, pengecualian, penawaran, keinginan, pemufakatan, meluapkan amarah-kekesalan-cemburu-ketidakadilan-keresahan-kebingungan-antipati.
Permintaan itu juga kesukaan, naluriah, pendahuluan, intuisi, pintu masuk, penyampaian, aktivitas, hasrat, pegiat, ekspresi, jalan keluar dan lain sebagainya.

Bagaimana mungkin unjuk rasa itu bukan solusi? Jika manusia tidak berusaha, lalu, bagaimana manusia bisa menghasilkan?
Hanya manusia berotak penuh sampah yang berpikir menghasilkan busuknya kata unjuk rasa tidak berbau solusi.

Gerakan berunjuk rasa secara otomatis menciptakan ruang dan waktu bagi kebebasannya. Manusia siapa saja, kecuali mayat hidup dapat berupaya menyampaikan rasanya dimana saja tempat berada.

Jadi, sangat tidak masuk akal dan mentah otaknya juga pikun ingatannya jika ada manusia dengan pikiran sematang pohon kelapa, menyatakan dengan sejelas-jelasnya dihadapan publik bahwa unjuk rasa di depan tempat yang ada hubungannya secara langsung dengan rasa yang disampaikan adalah bukan solusi???
Sungguh, kuburannya kelak benar-benar terbalik, karena manusinya sendiri membuat akal dan dunianya terbalik.

Pada kenyataannya, jangankan oleh seratus orang pengunjuk rasa. Apabila unjuk rasa itu dilakukan hanya dengan satu orang saja pun, tetaplah sampai kiamat nanti namanya unjuk rasa (bukan unjuk gigi).
Kalau ada manusia yang menyatakan itu bukan unjuk rasa, manusia tersebut harus meminta kepada Tuhannya agar Tuhannya mengganti otak manusianya harus diganti dengan otak gorila, agar manusia berhati busuk tersebut menikmati masa tuanya dengan otak baru dari otak gorila.

Misalnya, pada faktanya, diantara jutaan manusia yang dengan tujuan yang sama berunjuk rasa, sungguh sangat tidak mungkin tidak ada satu orang pun diantara jutaan manusia yang berunjuk rasa dengan benar. Mustahil tidak ada satu jiwa pun yang berunjuk rasa dengan tanpa harus dibayar. Sangat tidak masuk akal, tidak ada satu orang pun yang datang berunjuk rasa dengan tujuan inilah solusinya.

Simak baik-baik solusi cerdasnya! :

Jikalau misalnya, andaikata, apabila di Indonesia ini, ada orang-orang yang sudah tua dan tidak cerdas tiba-tiba musnah ditelan oleh busuk dan kotornya tempat sampah dan sisanya dibantai dengan kejam oleh Kaum Budha Radikal dari Myanmar.

Kemudian yang tersisa hanya saya dan manusia-manusia yang cerdas lainnya berjumlah 100 orang, dan kami berunjuk rasa di depan kedutaan Myanmar.

Untuk menghentikan kebiadaban Kaum Budha Radikal dari Myanmar yang mencincang hidup-hidup orang-orang tua kurang cerdas.

* Apakah dengan berunjuk rasa, menjadi kurang cerdas solusinya?

* Jika Pemerintah Indonesia lamban atau terkesan tidak peduli, lantas unjuk rasa menjadi solusi yang kurang cerdas?

* Menjadi kurang cerdaskah unjuk rasa sebagai solusi, di saat hanya 100 orang berunjuk rasa tanpa partai politik dan ormas beragama, daripada pengunjuk rasa langsung pergi berjihad di Myanmar?
Manakah yang lebih solutif?

* 100 orang itu datang di depan kedutaan Myanmar itu untuk berunjuk rasa bukan untuk berunjuk sapa yang cerdas. Jadi, siapa yang kurang cerdas?

* Siapa yang bisa membuktikan di antara para pengunjuk rasa yang menerima dan tidak menerima uang untuk berunjuk rasa?
Kalaulah yang dimaksud seperti begini, maka pantas unjuk rasanya tidak cerdas seperti yang menuduh juga menjadi tidak cerdas.

* Unjuk rasa itu amanat Undang-undang dan dijamin oleh konstitusi.
Jika ada manusia yang mengatakan unjuk rasa adalah bukan solusi dan tidak cerdas, berarti manusia tersebut telah menodai Undang-undang dan melecehkan konstitusi. Dengan kata lain, yang melecehakan dan menodai bermaksud bahwa undang-undang dan konstitusi Indonesia dan yang menjadi regulatornya tidak cerdas atau pembuat Undang-undang adalah orang-orang yang tidak cerdas.

* Contoh dari bentuk unjuk rasa lainnya dalam bentuk kelompok adalah Gerakan Cinta Perdamaian, Gerakan Peduli Lingkungan, dan segala macam gerakan yang bertujuan menyampaikan rasa dengan segala macam idealisme, visi dan misi kelompok tersebut.

* Sekali lagi, unjuk rasa itu adalah solusi. Unjuk rasa di depan kuburannya orang-orang yang mengatakan ujuk rasa bukan solusi dan tidak cerdas juga adalah sebuah tindakan solutif.

Kita, anda atau siapa saja, janganlah terlalu apriori dengan yang menjadi masalah prinsip orang lain, itu artinya anda tidak tahu masalah, atau anda memang tidak cerdas.

Ummat Islam Indonesia itu bukan hanya berbentuk partai politik atau ormas agama saja, tetapi perseorangan yang beragama Islam itu adalah Muslim yang dalam jumlah banyak disebut Ummat Islam.

Ummat Islam itu berunjuk rasa di depan kedutaan Myanmar itu adalah hak mereka atas prinsip mereka.
Persoalan apakah nanti rasa yang disampaikan itu menjadi solusi atau tidak, itu tergantung pihak (kedutaan Myanmar atau pemerintah terkait) yang akan memberi solusi atau tidak.

Berburuk sangkalah pada sifat buruk sendiri. Jangan pernah mengukur rumah orang lain memakai beranda anda. Bijaklah dengan usia yang menanti jemputan maut. Dengan menghargai prinsip orang lain dalam berkeyakinan, kata toleransi tak perlu ditepuk pada dada tiap orang.


Manokwari, 05 September 2017
•ajilatuconsina

  • view 50