NOBEL PENUH DARAH DI TANGAN AUNG SAN SUU KYI, ABADI

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Renungan
dipublikasikan 02 September 2017
NOBEL PENUH DARAH DI TANGAN AUNG SAN SUU KYI, ABADI

Nobel Penuh Darah di Tangan Aung San Suu Kyi, Abadi


Harga sebuah perdamaian dalam satu dekade ini di hampir semua belahan dunia terasa sangat mahal. Seperti mendapatkan setetes air di padang pasir, namun merasa dahaga di tengah lautan. Perdamain pun menjadi seperti barang yang langka. Perdamaian ini semakin langka didapatkan tatkala produk ini di produksi oleh PBB dengan label limited edition, sesuai dengan order kepentingan dari anggota Perserikatan Bangsa Bangsa.

Aung San Suu Kyi adalah salah satu orang yang beruntung pada tahun 1991 di Oslo-Norwegia, dia menerima kado istimewa berupa Penghargaan Nobel Perdamaian.

Aung San Suu Kyi adalah seorang aktivis prodemokrasi Myanmar dan pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi atau NLD).

Aung San Suu Kyi menerima penghargaan tersebut karena menurut pemberinya, Aung San Suu Kyi berhak dihargai jerih payahnya atas perjuangannya selama ini dalam memajukan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer.

Sisi lain dari sasaran dan tujuan diberikannya penghargaan nobel perdamaian kepada sang penerima selain Aung San Suu Kyi adalah dalam rangka melakukan kegiatan atau gerakan demi 'perdamaian tanpa kekerasan'.
Artinya bahwa siapa saja, baik perseorang, kelompok, organisasi yang dengan sengaja melakukan gerakan untuk tujuan perdamaian tanpa menggunakan kekerasan adalah juga berhak mendapat penghargaan nobel perdamaian. Terlepas dari siapapun dia, presidenkah, negarawankah dia, tokoh duniakah, politisikah ataupun praktisi.

Andai penghargaan nobel perdamaian dengan label perdamaian dengan tanpa kekerasan itu masih melekat erat pada jantung Aung San Suu Kyi, maka sangatlah ironi dan kontra terhadap keadaan masyarakat Rohingya saat ini. Dimana jiwa, raga dan harta warga Rohingya luluh lantak oleh penyerangan membabibuta oleh kekerasan mayoritas warga negaranya-Aung San Suu Kyi.

Usaha genosida yang sedang dilakukan terhadap warga Rohingya oleh hampir semua elemen warga negaranya-Aung San Suu Kyi sudah berada pada level yang paling sangat mengkhawatirkan. Sangat mengkhawatirkan apabila hal ini berimplikasi pada hati dan jantung ummat Islam di seluruh dunia. Maka yang sangat dikhawatirkan terjadi adalah akan terjadi upaya serupa untuk melindungi eksistensi Muslim Rohingya.

Berkilo-kilo tanah di negaranya-Aung San Suu Kyi dipenuhi genangan darah dari banjir air mata meruah dari pelosok-pelosok desa yang remah. Dalam sepekan ini saja produk buatan PBB tidak menghasilkan apapun. Padahal sudah ratusan hingga ribuan nyawa dipanggang hidup-hidup di depan mata penguasa Myanmar. Eksodus besar-besaran warga Rohingya mengalir deras hampir di setiap aliran sungai. Pengusiran terhadap ribuan jiwa-jiwa Rohingya menyeruak di setiap jilatan ombak lautan. Dan rentetan pembantaian-pembantaian tak mengenal hak asasi manusia membelah paksa dada bumi-Aung San Suu Kyi yang terpaksa menampung bangkai-bangkai tak berdosa.

Aung San Suu Kyi tak mampu berbuat apa-apa di tanahnya sendiri. Aung San Suu Kyi hanya mampu melihat kenyataan yang ada dengan mata yang buta. Aung San Suu Kyi sepertinya gagap dengan perdamaian karena tidak adanya itikad baik untuk mengatasi masalah Rohingya tanpa kekerasan.

Penghargaan nobel perdamaian yang diterimanya ibarat duri yang menancap digenggamannya. Aung San Suu Kyi penuh lumuran darah ditangannya dengan nobel yang duri-duri lainnya menancap di tanah-tanah warga Rohingya yang tajam menikam setiap pembuluh darah warganya.

Separuh masyarakat dunia yang peduli dengan hak asasi manusia dan pengagum humanisme pasti akan mempertanyakan sikap manusianya Aung San Suu Kyi. Mungkin juga tidak begitu dengan separuh masyarakat dunia yang mempunyai sikap solidaritas ummat sebagai fanatisme sesama Muslim di dunia. Sikap ukhuwah Islamiyah inilah yang sekaligus mempunyai jawaban terhadap sikap dan sifat Aung San Suu Kyi sebagai manusia beragama dan juga sebagai manusia dengan nobel penuh darah di tangannya.

Mengapakah Aung San Suu Kyi begitu diam menanar matanya saat menyaksikan pembantaian Muslim Rohingya?
Karena nobel yang didapatkannya begitu banyak dokumentasi warna memerah darah di biji matanya.

Kenapakah Aung San Suu Kyi yang menjadi tokoh perdamaian dunia tanpa kekerasan terlihat dengan sengaja membiarkan tanpa melarang pemerkosaan anak dan wanita Muslim Rohingya oleh saudara-saudaranya?
Karena Aung San Suu Kyi sangat begitu menikmati sensasi kenikmatan nobel tanpa kekerasan. Karena menurut gairah seksualitasnya, pemerkosaan anak dan wanita Muslim Rohingya adalah candu untuk mendapatkan kembali nobel berikutnya yaitu penghargaan nobel pemerkosaan tanpa pelarangan kekerasan.

Apakah Aung San Suu Kyi puas dengan penghilangan nyawa secara brutal kepada Muslim Rohingya?
Sudah pasti jawabannya adalah ya. Karena Aung San Suu Kyi di dalam hati dan pikirannya bahwa Muslim Rohingya pantas dipotong-potong tubuhnya, pantas dibakar hidup-hidup dengan rumahnya, pantas dijarah jiwanya, pantas dirajah kemaluannya, pantas diperkosa hargadirinya, pantas dikubur hidup-hidup jasad dan keyaninannya dan pantas bagi Aung San Suu Kyi untuk menyaksikan, merasakan dan menikmati sensasi genosida Muslim Rohingya dari tanah tumpah darah Aung San Suu Kyi.

Dimanakah Aung San Suu Kyi saat saudara-saudara seimannya melakukan kegiatan program kejahatan terhadap kemanusiaannya kaum Muslim Rohingya?
Jawabnnya adalah di saat yang sama Aung San Suu Kyi ada di tanah air negaranya. Bahkan Aung San Suu Kyi tahu bahwa tindakan kebiadaban dan kejahatan terhadap kemanusiaannya Muslim Rohingya itu adalah sah. Karena kejahatan itu resmi dan adalah urusan kewajiban agama dari para pemeluk dan pemuka agamanya.

Kapankah Aung San Suu Kyi akan sadar bahwa penghargaan nobel perdamaian dunia kepadanya itu hakikatnya adalah pemberian dari hasil tukar guling mayat-mayat warga Rohingya dalam kubangan massal?
Jawabannya masih tetap sama yaitu Aung San Suu Kyi pasti dengan sangat ikhlas menerima genosida Muslim Rohingya, karena genosida Muslim Rohingya merupakan produk politik Aung San Suu Kyi guna menggondol partainya untuk berkuasa di Myanmar.

Alasan lain dari pembiaran Aung San Suu Kyi sebagai negarawan Maynmar adalah tidak terlepasnya status Myanmar sebagai negara prodemokrasi yang tidak menginginkan adanya pihak-pihak atau kelompok di dalam negara yang antidemokrasi. Terkhusus kepada yang dianggap oleh Myanmar sebagai kelompok ekstrimis Muslim dari Rohingya.

Muslim Rohingya adalah batu sandungan bagi Aung San Suu Kyi untuk mendapatkan kembali tampuk kekuasaan dan penghargaan yang lebih pantas dari sekedar perdamaian dan kemanusiaan.

Keberadaan Muslim Rohingya merupakan penghalang bagi Aung San Suu Kyi dan Myanmar untuk melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.

Kehadiran Muslim Rohingya menjadi tidak diharapkan karena Muslim Rohingya adalah anak haram Myanmar yang tidak memiliki status hidup di Myanmar.

Kenyataannya, Aung San Suu Kyi lebih memilih tangan nobelnya berlumuran darah Muslim Rohingya.
Aung San Suu Kyi lebih senang jika nobel perdamaian dan seluruh tubuhnya bermandikan banjir darah Muslim Rohingya.
Aung San Suu Kyi mengesampingkan aturan agamanya.
Aung San Suu Kyi berbuat dosa yang bukan dari larangan agamanya.
Aung San Suu Kyi ingin hidup lama dengan jutaan nyawa Muslim Rohingya.
Aung San Suu Kyi berkeyakinan mati sebelum Muslim Rohingya punah di tanah air Myanmar.

Faktanya, Muslim Rohingya adalah jalan dan pintu masuk, sekaligus pintu dan jalan keluar bagi Aung San Suu Kyi untuk menghapus lumuran darah Muslim Rohingya, untuk membersihkan banjir darah dan tsunami amarah Muslim sedunia.

Jika tidaklah kenyataan dan faktanya sedemikian, maka PENGHARGAAN NOBEL PERDAMAIAN PENUH DARAH MUSLIM ROHINGYA ABADI DI TANGAN Aung San Suu Kyi.


Sorong, 2 September 2017
•ajilatuconsina

  • view 39