"MEWASPADAI MUSLIM YANG BERAGAMA LIBERAL" (bag. 1)

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Agama
dipublikasikan 01 September 2017

"Mewaspadai Muslim Yang Beragama Liberal"

|Muslim dan Kemungkaran

Agama Islam adalah aturan, orang yang beragama adalah orang yang hidup beragamanya memakai aturan. Setiap Muslim wajib menerima konsekuensi dari beragama yaitu berupa perintah dan larangan, sedangkan ganjaran dari konsekuensi aturan adalah berupa pahala dan dosa yang keduanya sama-sama bersifat abstrak.

Hakikat aturan agama Islam selain berkewajiban terhadap perintah dan larangan. Aturan ini juga memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat mengikat, diantaranya adalah aturan yang berisi perintah (wajib), anjuran (sunnah), pembolehan (mubah), pencelaan (makruh), dan larangan (haram).
Apabila perintah dilaksanakan, maka ALLAH Swt memberi balasan berupa pahala. Dan apabila larangan yang dikerjakan, maka ALLAH Swt akan memberikan ganjaran berupa dosa.

Dosa secara umum terbagi atas dosa kecil dan dosa besar. Dosa dari perbuatan berjudi, meminum minuman keras, menipu, berkhianat, mencuri, munafik dan lain sebagainya adalah kemungkaran-kemungkaran yang tidak membuat seseorang keluar secara otomatis dari akidah Islam selama orang tersebut tidak menghalalkan keharamannya.

Perbuatan mungkar yang mengakibatkan seorang Muslim menjadi berdosa dan dosa tersebut secara otomatis berimplikasi pada prinsip keimanan adalah kemungkaran-kemungkaran yang berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan, yaitu kemungkaran terhadap akal atau pemikiran. Karena kemungkaran ini akan menggiring Muslim kepada dosa besar dan menjadikannya musryk, syirik hingga kafir.

Dewasa ini, ummat Islam di seluruh dunia tak terkecuali di Negara Indonesia dihadapkan pada persoalan besar menyangkut tantangan subversif berupa serangan dari perang pemikiran secara internal dan eksternal terhadap ummat Islam. Meskipun hal ini merupakan persoalan klasik, tetapi tujuannya lebih modern yaitu hendak memecah-belah ummat Islam dari segala aspek agama dan akidahnya dengan berbagai macam pola, taktik, strategi, dan senjata-senjata berupa kesesatan pemikirannya.

Perang pemikiran ini adalah bentuk dari serangan berupa paham-paham, aliran-aliran pemikiran, teori-teori, isme-isme yang sangat berbahaya, tidak sesuai, dan bertentangan dengan pemahaman terhadap kepercayaan dan keyakinan dalam agama Islam. Karena bentuk pemikiran sesat itu sangat bertolak belakang dengan akidah Islam, tidak relevan dengan fitrah dan kodrat manusia, serta tidak sejalan dengan syariat Islam.

Kemungkaran pemikiran yang menjadi perang pemikiran dan sedang terjadi khususnya melanda ummat Islam di negara Indonesia tercinta ini adalah kemungkaran-kemungkaran pada yang namanya adalah pemikiran-pemikiran liberal atau pemikiran dan penafsiran bebas. Tidak tanggung-tanggung, pikiran dan paham liberal yang diusung dan ditanam mulai dari hanya sekedar pola pikir (ideologi) tersebut dikembangkan dan disebarluaskan menjadi suatu aliran kepercayaan liberal hingga seakan-akan menjadi agama (teologi). Dan penganut agama Islam yang berpaham liberal, disebut dan menamakan agama barunya dengan nama Islam Liberal (IslamLib), setelah sebelumnya hanya terdiri dari sekelompok orang (jamaah) yang aktivitas dakwah liberalnya bernama Jamaah Islam Liberal (JIL).

|Liberalisme dan Potensi Meliberalisasi Agama

Paham liberal dengan semangat meliberalisasi cara berpikir manusia yang mengarahkan cara pandang manusia menuju cara berpikir yang tujuannya membebaskan sikap seseorang untuk menentukan pilihan bebas dari kekuasan, pengaruh dan kepemilikan orang lain atas hak seseorang atau pribadi.

Perkembangan paham liberal dengan sederet rentetan sejarahnya sudah sampai ke puncaknya yaitu pada tahap revolusi. Revolusi liberalisme bukan saja mencakup bidang sosial, tetapi juga merambah aspek ekonomi, politik dan lain-lain.

Tidak ada yang salah dengan liberalisme di tahap kebebasan berpikir pada segmentasi filosofi, ideologi, politik, sosial, ekonomi, intelektual, bahkan teologi (agama lain). Tetapi pada saat kebebasan berpikir bebas ini masuk dan dengan bebasnya menabrak kaidah agama Islam, maka akal seorang Muslim yang menjadikan kepercayaan untuk meyakininya akan menjadi rancu dan kontra.

Bagaimana mungkin teori kebebasan ingin membebaskan seorang Muslim berpikir bebas terhadap Tuhan yang menciptakannya? Jika seseorang ingin berpikir sama dengan Tuhannya, alangkah baiknya manusia setara dengan Tuhannya atau mungkin saja manusialah yang mencipta Tuhan pada akalnya.

Cara penguasaan liberalisme dalam hal kemutlakan Tuhan inilah yang menyebabkan liberalisme menunjukkan bahwa liberalisme memiliki otoritas lebih tinggi dari otoritas Tuhan selaku pencipta akal manusia itu sendiri.
Pandangan liberal seperti inilah yang menghasilkan aturan-aturan liberal di luar aturan Tuhan yang menurut liberalisme akan menghambat jalan bebas pikirannya (manusia) itu sendiri. Artinya bahwa agama tidak harus mutlak mendominasi hukum dan aturan sosial manusia.

Alasan dasar mengapa liberalisme harus berdiri sendiri tanpa campur tangan agama adalah bahwa manusia pada kenyataannya merupakan mahluk sosial, yang secara lahir sudah memiliki hak-hak dasar individu yang padanya melekat hak dan aturan (hukum) bersifat individualistik. Sehingga manusia secara mutlak memiliki kebebasan mutlak untuk bersikap, mempunyai etika sendiri, bebas memilih kepercayaan agama, bebas berbicara, dan mempunyai doktrin tatanan moral tersendiri.

|Liberalisme dan Akal Sehat

Seseorang yang mengaku Muslim sudah tentu wajib mengetahui bahwa menjadi orang yang beragama Islam harus berprinsip agama dan berkeyakinan sesuai dengan prinsip agama Islam. Selain Islam, tidak boleh ada unsur-unsur prinsip lain yang dicampur-adukkan dengan prinsip-prinsip akidah Islam.

Akal bagi Muslim adalah karunia ALLAH Swt yang luar biasa, dan wajib kita syukuri. Untuk menggunakan akal sebagaimana mestinya, maka akal yang digunakan harus memakai cara, metode, sistem, dan ada syarat batasan yang tidak boleh dilanggar oleh akal. Akal wajib digunakan dalam batasan-batasan yang sudah ditetapkan oleh syariat nabi Muhammad Saw.

Salah satu contoh dalam agama Islam tentang bagaimana peran akal bagi manusia dengan cara, metode, sistem dan syarat batasannya, terjadi pada bukti sejarah peristiwa Isra' Mi'raj.
Peristiwa Isra' Mi'raj adalah peristiwa yang sulit diproses menjadi dipercaya oleh akal manusia namun bukan berarti peristiwa ini tidak masuk akal. Peristiwa Isra' Mi'raj adalah susah dimengerti oleh akal manusia karena kejadian ini adalah bagian dari kekuasaan dan kepengatahuan ALLAH swt.

Saat Rasulullah Saw, setelah pulang dari perjalanan Isra' Mi'raj. Ada sebahagian besar ummat Islam yang hanya karena menggunakan akalnya kemudian menjadi murtad atas kebenaran Isra' Mi'raj.

Abu Jahal Laknatullah berusaha sekuat tenaga menjungkirbalikkan keyakinan khalifah Abu Bakar r.a, dan juga berupaya mempengaruhi ummat Islam yang lemah imannya dengan argumen penggunaan akal. Bahwa bagaimana mungkin Rasulullah bisa menjalankan perjalanan sedemikian rupa, karena berdasarkan faktualisasi waktu, tempat, jarak, situasi kondisi saat itu dan menurut kemampuan seorang manusia biasa adalah tidak masuk akal (irrasional) atau tidak dapat diterima dan dicerna oleh akal manusia.

Peristiwa inilah, yang membuat khalifah Abu Bakar r.a. dijuluki 'Ash Shiddiq' (manusia yang jujur dengan imannya).
Khalifah Aba Bakar Ash Shiddiq menjawab tantangan Abu Jahal dengan keimanannya. "Andaikata nabi bercerita yang ceritanya lebih hebat, lebih dasyat, lebih spektakuler dari pada peristiwa Isra' Mi'raj ini, maka demi ALLAH, pasti aku percaya dan pasti aku membenarkannnya!".

Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang Muslim yang pertama kali membenarkan Rasulullah tatkala orang lain mendustakannya. Abu Bakar adalah Muslim pertama yang percaya kepada Rasulullah dan jujur kepada agama Islam yang dianutnya saat orang lain menghujat, mencibir, dan meragukan Rasulullah.

Keimanan dan agama Islam yang dianut oleh Abu Bakar mampu menjawab apa yang tidak sanggup dijawab dengan akal. Keimanan Abu Bakar adalah keimanan yang mampu menerima dengan segera yang tidak sanggup diterima oleh akal.

Lain halnya dengan paham liberal. Paham liberal adalah paham yang sangat bertentangan dengan kebebasan iman. Paham liberal adalah paham yang hanya mampu membenarkan akal, tetapi tidak bisa dibenarkan oleh iman karena manusia hanya diberikan akal yang sedikit.

Jikalau akal liberal yang berpikir, maka yang nyata firman ALLAH Swt :
"Maha Suci (ALLAH), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 1)
Pada ayat keimanan yang jelas seperti ini saja, kaum Muslim liberal pun masih melakukan protes dengan akalnya. Seperti yang dicontohkan oleh pernyataan sesat Sumanto Qurthubi bahwa Isra Mi'raj ini adalah sebuah dongen untuk ummat Islam.

Kaum Muslim yang lemah iman dan tidak hati-hati dengan pendangkalan iman yang menggunakan akal seperti ini, tak diayal berapa banyak ummat Islam tergelincir dan jatuh dalam lubang kesesatan karena tidak mampu menggunakan akalnya dan tidak berilmu.

Mereka kaum Muslim yang liberal menjadi lebih tersesat saat mereka dengan bangga mengagungkan akalnya. Dan pastinya akan terjebak pada nalar yang menjebak akal karena tidak mampu menggunakan akal sebagaimana mestinya.

Muslim pada zaman Rasulullah dan setelah Rasulullah (ummat Rasulullah) harus tetaplah berpedoman pada Al-Quran dan As Sunnah.

Segala ketentuan yang datang dari ALLAH Swt harus diterima dengan keimanan. Dan begitu pula tentang segala sesuatu yang disampaikan baik secara langsung atau tidak langsung oleh Rasulullah, setelah itu bagi Muslim yang berakal dan sudah baligh harusnya menggunakan akal yang sebaik-baiknya dengan berdasarkan ilmu agama yang sumbernya jelas.

Metodologi akal dan ilmu seorang Muslim itu berdiri atas dasar iman. Maka segala sesuatu yang datang dari ALLAH Swt (Al-Quran) dan dari Rasulullah (As-Sunnah), jangan pernah ditanggapi atau dikomentari dengan akal lebih dahulu. Namun, wajib diterima lebih dahulu dengan iman, kemudian percaya dan amalkan.

Sorong, 31 Agustus 2017
•ajilatuconsina

 

  • view 27