RINDU SETAJAM BULAN SABIT

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Puisi
dipublikasikan 26 Agustus 2017
RINDU SETAJAM BULAN SABIT

Rindu Setajam Bulan Sabit

Sepotong tampak wajah bulan
menghias di tepian senyuman
hatiku berpayung langit lamunan
dia setajam sunggingan
bayang rendezvous dilingkup sinaran
tak sadar rindu membelah dada roman

Disaat bulan disabit-sabit waktu kunjung
langit rindu diiris-iris temu nan urung
perasaan gemas lihai aku gantung
kutancap di ujung bulan dekat jantung
hati siapa terkira sakit membuntung
lalu lukaku ditusuk rindu murung

Duhai bulan yang di kantung mata
mengintipmu dari jendela hatiku
seperti menatap ribuan cahaya
mataku tak tersilau kecantikanmu
hanya kedua bola mataku memutih suka
karena seri keanggunannmu
buat cinta lebih kemilau dan kaya

Oh sinaran yang menembus angan-angan
membias terangi renung sepi
bayangmu di danau dan pelukanku membumi
wajahmu di lautan yang samudera jadi dekapanku
bayangan kita selalu mesra ketemu
menyatu di peraduan rindu malam

Oh bulan
aku titip sepenggal rindu padamu
di lengkung pahamu yang bak perahu
aku ingin rebah di pangkuanmu
biar mimpi bawa kita berlayar jauh
menembus labirin langit ke tujuh
hingga mentari tak sampai menyinari
agar setiap hari kita menyepi
hanya ada kau, bulan dan aku lagi
sembari menanti pertemuan sepenuh hati
sempurnya bulan dan cinta jadi hakiki

Oh rindu
Oh bulan
yang menggantung rindu

Oh bulan
Oh rindu
yang tajam menyayat kalbu

________________________________
TT TUKEL STORI PARLENTE
"Rindu Setajam Bulan Sabit"
Manokwari,  23 Agustus @kutikata2015
1' Modified at Sabtu,  26082017 - Manokwari

  • view 266

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kalau sudah pujangga berbicara maka rasa yang membuncah bisa jadi lahan empuk untuk dibuat menjadi sajak totalitas, seperti yang dilakukan oleh Aji Latuconsina ini. Ungkapan rasa kagum, rindu dan suka pada pujaan hati menjelma menjadi bait-bait pujian yang indah.

    Banyak memakai metafora selalu jadi cara efektif meraih perhatian pembaca, seperti dalam puisi ini, yang diibaratkan dengan kata bulan. Puisi ini terbaca sangat menggelora, agak menyakitkan tetapi secara keseluruhan Aji sukses sekali merangkul semua rasa alamiah yang dialami oleh anak manusia. Emosi begitu bisa dirasakan oleh pembaca secara total berkat pemilihan kata yang pas. Puisi ini karya seni tersendiri.

    • Lihat 1 Respon