JANGAN GALAU KALAU MUSLIM BERSIKAP SESUAI AKIDAHNYA

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Agama
dipublikasikan 21 Agustus 2017
JANGAN GALAU KALAU MUSLIM BERSIKAP SESUAI AKIDAHNYA

"Jangan Galau Kalau Muslim Bersikap Sesuai Akidahnya"

Di dalam kenyataan kehidupan ini, setiap orang di dalam hidupnya memiliki cara untuk menjalani kehidupannya.

Bahwasanya gaya hidup setiap orang sesungguhnya sangat ditentukan oleh bagaimana caranya memandang hidup ini. Dengan kata lain bahwa, bagaimana seseorang memandang hidup, dengan seperti itulah ia akan hidup. Oleh sebab itu, untuk mengubah keadaan seseorang, maka seseorang harus mengawali lebih dahulu dengan mengubah caranya memandang kehidupan ini.

Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)

'Yang ada di dalam diri mereka sendiri', yang sudah pasti dimaksudkan adalah aturan yang terdiri dari rule of thinking (cara berpikir yang sesuai aturan) dan menjadikannya way of life (pedoman jalan hidup) setiap muslim.

Cara pandang hidup seperti inilah yang akan mewarnai sikap Muslim dalam cara dan gaya hidup setiap Muslim di dalam kehidupannya.


Sikap Muslim dalam beragama ini mengacu pada dasar-dasar keyakinan dan sekaligus merupakan landasan hidup seorang Muslim di dalam kehidupan ini.

Seorang Muslim tidaklah dengan pilihan lain kecuali mendasarkan kehidupannya selain daripada dengan Islam.

ALLAH Swt menuntun dengan berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Setiap Muslim dengan secara sadar harus mendasari hidupnya dengan Islam artinya, menjadikan Islam sebagai way of life dengan rule of thinking, untuk mencari jalan keluar dari setiap problema kehidupan. Sehingga tidak ada satu persoalan pun yang bagaimana kecilnya sekalipun yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai ajaran agama Islam ini.

Kemudian di dalam mendasarkan hidupnya dengan Islam, setiap Muslim mempunyai prinsip-prinsip keyakinan.

1). Keyakinan yang pertama adalah Islam sebagai dasar hidupnya, adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Mengapa demikian? Karena ALLAH Swt adalah pencipta manusia, dan ALLAH Swt jualah yang menurunkan agama Islam, maka keseluruhan konsepsi ajaran agama sudah diukur sedemikianrupa sesuai deng kapasitas kemampuan manusia.

2). Karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, maka keyakinan yang kedua yaitu Islam adalah agama yang diturunkan oleh ALLAH Swt untuk seluruh ummat manusia (bersifat universal).

Walaupun Islam diturunkan di tanah Arab, tetapi Islam bukan untuk orang Arab saja. Keyakinan ini harus dipertegas dan ditegakkan kembali, karena akhir-akhir ini banyak orang di negara ini dari orang per orang dan golongan-golongan yang memusuhi agama Islam berupaya hendak mengaburkan pandangan ummat Islam dan orang lain terhadap agama Islam.

Pendangkalan terhadap akidah ummat Islam ini berupa munculnya pernyataan-pernyataan yang rancu, keterangan-keterangan sepihak, kesaksian-kesaksian palsu, dan pendapat-pendapat yang keliru bahwa agama Islam yang ada dan hadir di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah barang impor (agama impor) atau seperti barang dagangan hasil impor.

Jikalau ada yang menyatakan bahwa seolah-olah agama Islam adalah barang impor, silahkan saja kalau itu merupakan keyakinannya. Akan tetapi jika menganggap bahwa agama Islam di NKRI ini adalah barang impor, sungguh ini adalah suatu pemikiran keliru yang sangat besar.

Fakta bahwa Arab sebahagian besar adalah Islam adalah sangat jelas. Tetapi Islam bukannya Arab, itu pun juga harus diakui. Ummat Islam di Indonesia bisa menjadi Muslim yang baik tanpa harus menjadi orang Arab. Dengan kata lain bahwa ummat Islam di Indonesia bisa menjadi Muslim yang baik dengan tetap menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baik.

Dan apabila pada kenyataannya Al-Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, oleh karena memang Al-Quran itu turunnya di tanah Arab.
Hal ini dapat dibuktikan, bahwa di dalam Al-Quran, tidak ada satu ayat pun tentang seruan yang ditujukan kepada orang Arab semata-semata. Misalnya, tidak ada ayat seperti (Yaa Ayyuhal Arabiyun / hai orang-orang Arab!), tetapi yang ada hanyalah (Yaa Ayyuhan-Naas / Wahai manusia!).
Ayat ini ditujukan kepada manusia yang mana? Kepada siapa saja yang merasa manusia. Jika ada yang merasa bukan manusia, tidak usah merasa terpanggil dengan ayat ini.

Keyakinan inilah yang menjadi dasar bagi Muslim untuk mendasari hidupnya dengan keyakinan bahwa Islam ditujukan kepada seluruh manusia.

3). Keyakinan yang ketiga sebagai dasar bagi Muslim untuk menjadikan Islam sebagai dasar hidupnya adalah meyakini bahwa Islam adalah agama yang terakhir yang diturunkan kepada nabi yang terakhir pula yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Artinya adalah bahwa tidak ada lagi nabi dan rasul setelah Rasulullah dan tidak ada lagi agama lain setelah agama Islam.

Kerangka dasar-dasar keyakinan inilah yang melembaga dalam setiap pribadi Muslim. Sehingga tidak ada satu pun problema dalam hidup ini yang tidak tersentuh oleh ajaran agama Islam. Semuanya dapat diatasi selama seorang muslim mendasari kehidupannya dengan dasar-dasar keyakinan beragama sesuai petunjuk dari yang punya agama yaitu ALLAH Swt.

Ini dibuktikan dengan segala aktivitas muslim setiap harinya, dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya tidak terlepas dari sentuhan nilai-nilai ajaran agama Islam. Dengan interpretasi yang lain, bahwa setiap Muslim di dalam mendasari hidupnya dengan Islam secara langsung mengorientasikan Islam di dalam kehidupannya (Islam Oriented).

Islam oriented ini merupakan manifestasi terhadap apa yang dimaksudkan oleh Islam. Seperti apa saja yang dikatakan oleh Islam, seperti itulah yang dikatakan oleh setiap Muslim. Halal kata Islam, halal kata Muslim. Haram kata Islam, haram yang harus muslim katakan. Pendasaran atas kesemuanya adalah menjadi barometer nilai-nilai ajaran agama Islam.

4). Keyakinan yang selanjutnya adalah keyakinan yang prinsipil. Setiap Muslim wajib berkeyakinan bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar, ''Islam is the only true religion in the eyes of God". Keyakinan ini kelihatannya subyektif, tetapi memang inilah pokok atau prinsip dari agama dan kehidupan beragama.

Kendati ada orang lain pun yang menganggap dan menyatakan bahwa agamanya yang paling benar, adalah sah-sah saja, karena itulah dasar keyakinannya.


Ke empat prinsip keyakinan kepada Islam (agama yang sesuai dengan fitrah manusia, agama yang langsung dari ALLAH Swt, agama yang menjadikan nabi Muhammad sebagai Rasulullah yang terakhir, dan satu-satunya agama yang paling benar), inilah yang harus menjadi pedoman hidup setiap Muslim dalam menjalani kehidupannya dengan cara dan sikap beragama yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Seorang Muslim yang mengaku beragama atau setiap Muslim yang sudah berikrar dan berjanji di hadapan ALLAH Swt dengan kalimat Tauhid. Maka bagi setiap Muslim yang dengan mendalami pengetahuan dan atau tanpa ilmu agama, tidak ada satu alasan pun untuk melakukan perbuatan ingkar/kafir kepada ALLAH Swt kecuali ia berdosa.

Muslim yang menjadi galau terhadap manifestasi akidah agamanya sendiri, dikhawatirkan akan terjerumus kepada dasar pemikiran akan jalan kehidupan yang tidak seimbang. Bagaimana ia bisa menentukan jalan hidupnya yang akan ditentukan cara bersikapnya sendiri.

Muslim yang pasti mengalami kegalauan terhadap manifestasi akidah agamanya sendiri, sudah pasti juga enggan dan tidak mau mengikuti cara dan aturan berfikir sesuai syariat.  Maka sudah tentu muslim tersebut akan salah memaknai syariat agama, terlebih pula cenderung mengambil keputusan yang keliru jalan hidup mana yang sesuai dengan keinginannya, bukan atas tuntunan agama Islam.

Dan Muslim yang paling celaka adalah Muslim yang buta jalan hidup juga buta aturan agama.  Dia akan sangat berpotensi menjadi yang paling ingkar/kafir terhadap ikrarnya dan ketentuan ALLAH Swt.
Biasanya, Muslim yang seperti ini menjadi super hiper galau bahkan tidak percaya dengan ajaran agamanya karena separuh imannya tergadai oleh bujukan ajaran-ajaran filsafat, rayuan aliran-aliran humanisme sesat, kemegahan nisbi dari pemikiran-pemikiran faham sesaat, tertipu oleh karakter-karakter manis dari topeng keberagaman semu yang menyalahi kodrat.

Sikap hidup Muslim contoh ini, mereka lebih condong kepada kiblat kemanusiaan dengan dalih rasionalisasi-humanisme.  Sehingga ajaran agamanya sendiri yang sangat sesuai dengan fitrah manusia saja mereka kesampingkan dan terkesan menolak (ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah), apalagi ajaran-ajaran agama Islam yang paling sempurna dan sangat rasional sangat tak masuk kriteria mereka.
Muslim seperti ini mengaku beriman namun selalu bersikap hidup beragama berdasarkan hanya memakai penggunaan ilmu akal saja,  kalaupun ada ilmu agama yang dipakai, itu hanya berlandaskan like and dislike pada sumbernya saja.

Di dalam kenyataan yang ada dan terjadi, Muslim-muslim seperti ini berteman, bersahabat dan berkongsi dengan musuh-musuh Islam guna menggerogoti iman-iman Muslim lainnya dengan meninggalkan racun gagal paham pada saudara seimannya. Terlebihlagi jika saudara seimannya juga menderita sakit penyumbatan pembuluh syaraf akal dan mengidap buta agama sebab penyakit kanker iman kronis pada matahatinya.


Musuh-musuh Islam dan teman-teman setianya yaitu Muslim-muslim liberal (terbalik), sama-sama mengalami penyakit kanker hati kronis stadium 5 ke atas. Jikalau terlambat diatangani, maka penyakit pemikiran yang menular ini disebabkan oleh cara hidup dan gaya bersikap yang tidak sesuai tuntunan agama akan semakin memakan korban lainnya secara massive.

Maka, janganlah sekali-kali seorang Muslim menjadi galau dan ragu dengan ajaran agamanya.  Jika sekali ragu, kali kedua menjadi sangsi, dan pasti yang ke tiga kalinya menjadi galau. Kegalauan yang terjadi akan mengantarkan seorang Muslim kepada jalan berpikir yang sesat di jalan yang memang sudah sesat. Dan tanpa secuil kompas ilmu agama, seorang Muslim sudah dipastikan akan kehilangan arah dan tujuan beragamanya. Sehingga dengan mudah saja tergelincir kepada kesesatan yang sesat sesesat-sesatnya dan akhirnya menjadi murtad juga kafir sekafir-kafirnya.

Janganlah Muslim menjadi galau!
Sebab Muslim yang berbekal keimanan yang dipedomani dengan peta ilmu tauhid, menggunakan kompas akal dari sumber-sumber pemikiran agama, dan berjalan sesuai jalannya tabi'in - tabi'it tabi'in, maka yakinlah bahwa menjadi seorang Muslim tidak akan pernah mengalami galau dan tidak akan pernah menderita penyakit kronis pada akal, hati, dan akidahnya.

Janganlah Muslim menjadi galau kalau bersikap sesuai akidahnya!
Menjadi Muslim adalah secara otomatis sebagai mahluk sosial juga. Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang Muslim dalam berperilaku sosial. Cara dan sikap sosial seorang Muslim adalah sama dengan cara bersikap dan berperilaku mahluk sosial lain yang bukan merasa Muslim. Bahkan menjadi Muslim adalah sangat inklusif karena ajaran agama Islam yang dianut tidak eksklusif secara sosial. Selama aktivitas sosial tersebut tidak mengaburkan cara dan sikap Muslim berdasarkan akidahnya.

Cara pandang, cara berpikir dan sikap hidup yang berdasarkan aturan cara hidup dalam agama Islam adalah landasan cara bersikap Muslim memaknai hidup dan menjalani kehidupan.

Sedangkan dasar dan landasan hidup yang sesuai dengan aturan, pedoman dan prinsip keyakinan agama Islam adalah dasar dan landasan hidup beragama bagi Muslim di dalam menjalani hidup dan kehidupan beragama.

InsyaALLAH!

"Barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia buta dan tersesat jauh dari jalan yang benar" (Al - Isra : 72)

_________________________________
@Makassar, 21 Agustus 2017
•ajilatuconsina

  • view 56