"KETIKA NAMA ALLAH DITOLAK PENGUASA"

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Agama
dipublikasikan 05 Agustus 2017


"MUJAHIDAH REZIM FIR'AUN"

Profil :
Seorang wanita budiman yang teguh menjaga imannya. Dia hidup dan tinggal di istana Fir'aun dan bekerja menjadi penyisir rambut keluarga istana.

Kasus :
Suatu ketika, pada saat menyisir rambut, sisir yang dipegangnya jatuh. Dengan refleks, Masitha berkata : "yaa ALLAH, sisir jatuh kebawah!"

Masalah :
Kata-kata (yaa ALLAH ini) yang keluar dari mulut Masitha, didengar oleh intelijen Fir'aun dan segera dilaporkannya kepada Fir'aun.


Kejadian 1 :

Intel Fir'aun : "Lapor Bos, ada bahaya! Ada orang menyebut-nyebut ALLAH. Ini pasti akan mengganggu stabilitas negara dan stabilitas ketuhanan tuan, kalau dibiarkan akan berpotensi bahaya!
Dia yang menyebut itu, manusia yang namanya Masitha".

Fir'aun : "Siapa manusianya? Segera tangkap dan bawa kemari!"


Kejadian 2 :

Fir'aun : "Masitha, saya dengar kamu ada menyebut-nyebut nama ALLAH. Siapa ALLAH itu Masitha?"

Masitha : "Iya tuan, saya sering menyebut-nyebut nama ALLAH. ALLAH itu "Rabbi wa Rabbuku" (ALLAH itu Tuhan saya dan Tuhan tuan juga)

Fir'aun : "Jadi, selama ini saya kau anggap apa Masitha?"

Masitha : "Tuan adalah tuan, dan tuan bukan Tuhan!"

Fir'aun : "Kau memang gila Masitha! Satu Mesir ini semua orang menyembah saya, tiba-tiba kau menyatakan ada Tuhan lain selain saya. Keyakinanmu ini membahayakan negara dan posisi saya, Masitha!"

Fir'aun : "Sudahlah Masitha, kau jangan macam-macam, kamu maunya apa sih? Harta? Pangkat? Jabatan di penghujung usiamu ini? Atau supermi? Beras? Atau apa? Beasiswa? Atau mau jadi menteri yang rangkap jabatan?"

Fir'aun : "Tidaklah usah kamu bertuhankan ALLAH! Sudahlah, saya sajalah yang menjadi Tuhan kamu!"

Masitha : "Tidak bisa tuan! 'RABBIY-ALLAH', Tuhan saya tetap ALLAH!".

Fir'aun : "Kamu tetap dengan keyakinanmu seperti itu? Kamu tahu resikonya? Kamu berani? Kamu akan saya siksa Masitha!".

Masitha : "Iya, saya tahu, demi iman saya Fir'aun, silahkan!".

Fir'aun : "Kamu memang benar-benar sudah gila Masitha!".

Masitha : "Fir'aun, tuan boleh beli jasad saya, tapi jangan harap tuan bisa membeli jiwa saya! Tuan boleh kuasai jasmani saya, tapi jangan mimpi bahwa tuan akan bisa menguasai aqidah dan keyakinan saya!".

Fir'aun : "Nekat sekali kamu Masitha".

Masitha : "Apa boleh buat Fir'aun, saya lebih nekat!".

Fir'aun : "Kamu tidak sekedar saya siksa Masitha, kamu akan saya bunuh! Kamu tidak takut mati?".

Masitha : "Saya tidak takut! Silahkan bunuh, saya tidak takut mati.. Fir'aun! Sekarang saya mati, dan nanti juga pasti saya akan mati.
Dan bagaimana pun lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai!
Adalah lebih terhormat melarat karena mempertahankan iman daripada saya hidup mewah tetapi menjual aqidah.
Biar nyawa berpisah dari badan, asal jangan iman berpisah dari hati.
Terlalu mahal aqidah ini kalau harus ditukar dengan kesenangan dunia yang tidak seberapa ini.. Fir'aun!".

Fir'aun : "Tidak hanya kamu Masitha, anak-anakmu dan suamimu juga akan saya bunuh!".

Masitha : "Boleh, silahkan!".

Fir'aun : "Kamu tidak sayang dan cinta kepada anak-anakmu?".

Masitha : "Jangan tanya soal itu Fir'aun. Saya ibu mereka yang melahirkan mereka dengan pilihan antara hidup dan mati. Saya besarkan mereka dengan untaian airmata, cucuran keringat, kadang dengan genangan darah. Tidak ada ibu yang tidak sayang dan cinta kepada anaknya. Tetapi ini aqidah!
Iman saya lebih mahal dari kecintaan saya kepada anak-anak saya. Saya rela berpisah dengan mereka untuk iman saya".


Fir'aun sangat marah. Kemarahannya sampai kepada puncaknya. Dia panggil intel dan menyuruh tentaranya untuk mencari kayu bakar, menyiapkan tungku dan kuali yang paling besar (sebesar bapak moyangnya kuali), diisi dengan air dan siap direbus.


Beberapa saat setelah disiapkan semuanya, air terlihat bergolak, bergelegak, panas dan mendidih. Masitha dan keluarganya siap untuk direbus.


Kejadian 3 :

Fir'aun : "Nah.. Masitha, kamu lihat, air sudah bergolak, menggelegak dan panas. Kau dan anak-anakmu satu per satu akan akan aku masukkan ke dalam air rebusan itu. Biar kau tahu bagaimana rasanya tidak enak mati. Sudahkah kamu sadar? Tuhanmu tidak sanggup menolong kamu, coba kamu menyembah saya pasti aman, hanya saya saja yang bisa menolong kamu! Kamu tidak akan saya rebus".

Masitha : "Fir'aun, sudahlah jangan banyak bicara. Kalau kamu mau laksanakan, sekarang saja. Jangan mimpi saya akan berubah aqidah, 'RABBIY-ALLAH', nyawa saya adalah taruhannya. Tuhan saya tetap ALLAH!"

Fir'aun : "Baik, kamu lihat Masitha, anakmu yang pertama akan saya mulai masukkan ke tungku!".


Algojo segera mengangkat anaknya yang pertama, kemudian dimasukkannya ke dalam tungku berisi air mendidih. Bergolak air di dalam kuali, masuk si anak ke dalam air, menggelepar meregang nyawa.

Masitha dengan airmata berurai membasahi pipi menyaksikan anaknya menggelepar meregang nyawa menghadapi ajal.


Kejadian 4 :

Masitha : "Selamat jalan nak, ibu sayang padamu, ibu cinta kepadamu nak. Tapi ini aqidah, ini lebih mahal dari segalanya nak. Ibu ikhlas. Mudah-mudahan nanti kita bisa berkumpul di akhirat, di bawah naungan ridha ALLAH. Kuatkan hatimu nak, jaga teguh imanmu, jangan menyembah Fir'aun!"


Gugurlah anak Masitha sebagai syahid. Gugurlah juga anaknya yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Kemudian Masitha sendiri, sampai kemudian suaminya, seluruhnya gugur sebagai syahid, gugurlah jiwa-jiwa di air yang mendidih demi mempertahankan iman.


Catatan :

Kalaulah Masitha, anak-anaknya, suaminya, jiwa taruhannya, nyawa lepas namun iman tidak goyah lalu gugur demi mempertahankan aqidah mereka. Adakah intan yang lebih mahal? Adakah mutiara yang lebih berharga, selain daripada nilai-nilai iman ini? Sama sekali tidak ada! Jikalau nama dan harta hancur. Jikalau jabatan, pangkat dan kekuasaan sudah tidak ada lagi, apalagi yang bisa kita banggakan dalam kehidupan ini?


Tetapi jika iman menjadi tak ternilai harganya. Jika keyakinan adalah harta yang paling berharga. Dan keimanan kepada Allah adalah satu-satunya jalan kembali kepada ridha-Nya. Maka, biarpun ujung laras di dalam tenggorokan, jangankan dibakar hidup-hidup dalam ancaman, syahid adalah senikmat-nikmatnya kematian.


Penguasa seperti Fir'aun adalah salah satu contoh penguasa di dunia ini yang menolak Tuhan lain selain Fir'aun. Jangankan Tuhan lain, nama Tuhan yang lain saja dibredel oleh Fir'aun.


Penguasa, jika dalam pemerintahannya dengan rencana secara sengaja mengesampingkan atau meniadakan eksistensi agama, penganutnya dan kebebasan menjalankan perintah agama di dalam negara demi mempertahankan kekuasannya dengan segala cara. Maka penguasa tersebut lebih zalim dari Fir'aun, lebih kejam dari Fir'aun, dan lebih sadis dan durjana dari Fir'aun.


Jangankan kasus yang dialami oleh Masitha, mungkin kejadian ini akan terulang kepada Masitha-Masitha yang lain, menimpa anak-anak Masitha yang lain, atau terjadi pada suami-suami Masitha yang lain sebagai rakyat dalam suatu negara.


Kasus serupa juga terjadi menimpa ulama-ulama dan Ummat Islam pada zamannya. Hal sedemikian juga sering dialami oleh ulama-ulama dan Ummat Islam di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.
Akan tetapi, Fir'aun pada rezim penguasa ini, adalah Boneka Fir'aun. Ruhnya Fir'aun namun jasad kasarnya merupa boneka mirip Fir'aun.
Fir'aun rezim ini bukan saja penguasa yang memiliki sifat-sifat Fir'aun. Tetapi sikap, perbuatan dan kebijakan para pemangku kuasa juga adalah sama dengan sikap dan perbuatan si Fir'aun Laknatullah.


Dan karena itu, iman wajib di jaga dari sifat-sifat buruk yang mendistori aqidah. Iman harus dirawat dari virus-virus pemikiran yang menggerogoti keyakinan. Iman mesti dipelihara dari ide-ide sampah busuk hasil kontaminasi sekulerisme-pluralisme-liberalisme yang mengotori keimanan.


Oleh karena itu, satu kali LAA ILAAHA ILLALLAH. Mari kita pasang tekad sampai mati, sampai tetes darah yang paling penghabisan, sekali "LAA ILAAHA ILLALLAH", tetap "LAA ILAAHA ILLALLAH!"


"Karena Islam kita hidup, untuk Islam kita berjuang dan dalam Islam kita ingin kembali menghadap ALLAH SWT".

•ajilatuconsina

  • view 18