PENULIS BANGSAT BERTOPENG PUISI HINA

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Puisi
dipublikasikan 31 Juli 2017
PENULIS BANGSAT BERTOPENG PUISI HINA

"PENULIS BANGSAT BERTOPENG PUISI HINA"

Ah, dia bukan siapa-siapa
hanya karena bumi mengandung tanah
lalu dia lahir dari sengketa kata-kata

Dia tidak ada apa-apanya selain nyawa
lantas dia lupa dia hidup dari udara
hanya karena murka debu bisa dihempas deru dosa

Siapakah dia?
dia cuma penulis bangsat bertopeng puisi nista
wajahnya tak dikenal adab airmuka
kata-katanya bercerai dari eloknya sastra

Siapakah itu penulis bangsat yang bertanya?
itulah dia yang karena kebodohannya
dia bertanya pada tanda tanya
karena tak mengerti jawaban politik terhadap soal dunia
dan tidak faham urusan rindu bertanya kepada jawabnya cinta beragama

Itukah dia penulis puisi bangsat bertopeng hina?
ya, itulah dia yang diksinya mengkriminalisasi bangsat pada kata
dia memaksakan kehendak kata-kata-nya tuk memenjara ulama
dia pikir ajaran agama Islam ini tembang lagu-lagu pilihan berfilsafat riang dan paduan suara metafora?

Ya, itulah dia, penulis bangsat bertopeng puisi hinadina
dia kira pejabat-pejabat di negeri ini hanya orang-orang beragama sama dengan kasusnya?
logikanya ada dimana jika otaknya sendiri tumpul termakan buruknya prasangka?
pantaslah jemarinya najis pada tinta hingga haram menulis ulama jadi tersangka

Penulis bangsat bertopeng puisi nista dan hinadina
dosa dalam agama para ulama itu menggaram dalam lautan
jika iman penulis berbeda cara dan rasa
jangan pernah mencampur air dengan minyak pada noda

Bangsat itu berniat mencela sastra
bukannya berusaha menyaingi sang penista menghina ulama

Bangsat itu perbuatan memaki kata-kata
bukan sok tahu tentang alam raya dan aturan hukum pidana

Bangsat itu tujuannya untuk menipu-nipu makna
bukan menyamaratakan yang bukan pejabat dan koruptor beragama

Bangsat itu memanipulasi rima-rima jadi tak berirama
bukan pula salah merantai mimbar dan rumah ibadah

Bangsat itu memperkosa gaya sajak berpujangga
bukan nafsu analisa buta propaganda semu perpecahan bangsa

Bangsat itu kalau jangankan puisi bertopeng agama
wajah agama saja dinista
bukan saja penulis yang bisa,
sebab jika hanya menulis cakar ayam saja,
anak es-de pun lebih bisa
tak perlu menarik tuk menjadikan kata bangsat inspiratif bagi humaniora

___________________________
TT TUKEL STORI PARLENTE
"Penulis Bangsat Bertopeng Puisi Hina"
Manokwari, 30 Juli @kutikata2017
'1 Modified at Senin, 31072017 - Manokwari
•ajilatuconsina

  • view 63