"HELAHAI"

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Puisi
dipublikasikan 11 Juli 2017


"H E L A H A I"
 
 
Sesak terasa dada tersumpal
manakala udara dijual mahal
bukan uang yang jadi masalah
jika uang berbicara maka aku remah lemah
aku sumbat mulutku dengan melafal
menghafal setiap petanda alam dengan murratal
isyarat tangis tak reda di mega-mega
bertalu gempa di tanah pusaka
dan gelegar cahaya digelap hati angkasa
hingga air laut mengamuk di daratan dosa
 
 
Hatiku, dan di dalam setiap hati kami
tersimpan amarah di setiap desah hembus nafas
sepertinya mentari terbit di belahan timur hati kami
sampai terbakar jantung kami memanas
sebab meminum minyak dari sumur-sumur kongsi pak menteri
karena memakan nasi dari kekeringan sawah di kolam susu negeri ini
 
 
Aku mengamuk kepada gunung
mengapa kasih tiada bernaung
aku merontak dibalik angkuh dan besarnya pepohonan
adakah pemimpin yang sayang tak jua buang badan? 
kami dipanggang harga di pasar hutang
kami gosong berteman panas saat mengantar penumpang
berharap di laut dan darat tak muntahkan kejenuhan
hantarkan kami ke hati seluas samudera kesabaran
 
 
Hei tuan! 
yang empunya bahtera angan kekuasaan
angkutlah kami dengan tali dasimu yang kencang
perintahkan anak buahmu dari buritan lamunan
perhatikan di ujung gelombang ada barisan demo kegamangan
kerjakanlah dengan hati dan pakai aturan
bahwa bukan tujuan nama yang dikenang
akan tetapi kembangkan layar itu tujuan masa depan
agar setidaknya kami punya harapan cemerlang
bekal makanan kami tak basi oleh pancaroba perseteruan
hingga retak lambung kiri karena ombak lapar menerjang
walaupun nanti raga kami karam sisakan bangkai dengan ruh-ruh penuh iman
 
 
Hei tuan! 
yang punya tameng dan pedang
kami dibiarkan sendiri melawan badai kemiskinan
di darat dan di laut hidup kami terkekang
isi perut bumi kau sewakan sesama teman
perahu dan kapal kami hanya berkawan bulan terang
gelapnya jadi jubah selimuti nahkoda kami yang dikriminalkan
belum lagi spiritualitas kami dijadikan nista dan bahan bakar cadangan
hanya kepada Tuhan dan bukan cuma tuan
bahwa kami ingin melayari hidup dengan tenang
biarkan anak cucu kami aman dalam buaian
hingga saatnya Tuhan beri ganjaran
ikhtiar atau tawakkal kami kan tunaikan
 
 
TT TUKEL STORI PARLENTE
"H e l a h a i"
Doreri - Manokwari, 15 Juli @kutikata2015
1' Modified at Senin, 20072015 - Manokwari
2' Modified at Selasa, 11072017 - Manokwari
•salmanetidiaermeti

  • view 32