"HUBUNGAN TERLARANG ANTARA DIASPORA DENGAN INTOLERANSI"

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Renungan
dipublikasikan 09 Juli 2017

"HUBUNGAN TERLARANG ANTARA DIASPORA DENGAN INTOLERANSI"

Entah apa yang ada di benak orang-orang yang gemar melakukan selingkuh. Adakah alasan yang paling kuat untuk membenarkan perbuatan mencurangi pasangan itu? Jika saya yang berkhianat kepada kekasih saya, maka secara otomatis pula, pasangan selingkuh saya pun telah tertipu dan orang-orang yang terhubung dengan kedua kekasih saya pun pasti sudah terkelabui ("sekali mendayung, dua hingga tiga pulau terlampaui").

Sungguh kejam perbuatan selingkuh ini. Konon perbuatan curang ini bisa dipidanakan. Perbuatan selingkuh ini mungkin saja masuk dalam pasal penipuan. Atau perbuatan jahat ini sudah menjadi legal karena merupakan bagian dari keseharian dan budaya, sehingga motivasi aduannya hanya berupa sanksi dari pelanggaran etika. Ataukah mungkin, adanya tujuan khusus tersembunyi, misalnya terdorong oleh alasan faktor internal dan eksternal sehingga kejadian ini merupakan pembenaran dari alasan kuat seseorang melakukan perbuatan selingkuh? (Hanya Tuhan dan yang tak punya hati yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan seperti itu)

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, persoalan penyimpangan perilaku ini menjadi bahan kajian ilmiah sehingga kepastian dari hasil metodenya adalah berhubungan dengan penyakit. Dengan kata lain, penyalahgunaan perbuatan merugi dengan subyeknya adalah manusia, maka berlakulah vonis bahwa manusia tersebut menderita penyakit hati atau dalam keadaan sakit.

Persoalan selingkuh juga dibahas dalam ajaran agama. Yang intinya, adalah perbuatan menyimpang dari perilaku orang yang berkurang imannya. Jika dilakukan oleh orang yang taat pun, ini disebabkan oleh perbuatan bujuk-rayu syaitan untuk menggelincirkan manusia kepada dosa. Dan sudah tentu setiap orang yang terlibat di dalamnya juga ikut berdosa. Karena pahala dan dosa dalam ajaran agama sudan final, tidak ada lagi kompromi lanjutan. Penanganan terhadap penderita penyakit berdosa ini harus dan hanya adalah obat bertaubat yang nasuha.

Sehubungan dengan penyakit atau persoalan selingkuh, maka tulisan ini akan bereaksi dan menganalisa serta mengarah kepada dugaan kuat penyebab penyakit dan juga analisa obat kuat terhadap "Hubungan Terlarang Antara Diaspora Dengan Intoleransi".

Siapapun di jagat ini yang menjadi mahluk manusia di buana ini, sekaligus menjadi penduduk dari isi dunia ini, adalah menjadi berhak untuk mendiami bagian mana saja dari isi planet bumi ini. Tak terkecuali dialami oleh manusia-manusia pada masa-masa pra sejarah sebelumnya. Termotivasi oleh semakin sederhana terdesaknya kebutuhan ekonomi dan pentingnya tuntutan manusia untuk menjalani dan bertahan hidup di mana saja berada. Maka, kata-kata atau istilah pun muncul seiring sejalan dengan kebutuhan manusia pada jamannya.

Entah dari bibir mulut manusia siapa, kata atau istilah itu diucapkan pertama kalinya di dunia. Saya selaku Muslim, saya yakin dan tahu persis jika kata 'Iqra' adalah kata yang diucapkan pertama kali di dunia oleh mulut seorang manusia bernama Muhammad. Namun, semisal contoh kata-istilah 'migrasi', atau 'emigrasi' mungkin berasal dari wilayah yang kita kenali dan sumbernya jelas. Akan tetapi dari bibir mulut siapa penemu kata migrasi dan emigrasi tak jelas benar sampai saat ini. Mungkin begitu juga dengan kata-istilah lainnya, seperti 'kolonisasi', 'eksodus' dan 'diaspora'.

Terlepas dari siapakah yang menemukan kata-kata tersebut, inti dari bahasan pada tulisan ini adalah tentang penyalahgunaan maksud dan penyimpangan tujuan hingga menyebabkan terjadinya hubungan terlarang antara kata diaspora dengan maksud intoleransi.

Analisa saya mengacu pada suatu kegiatan berskala nasional-internasional yaitu Kongres Diaspora Indonesia. Menurut Ketua Diaspora Indonesia, Dino Patti Djalal Selasa (4/7) seperti yang dilansir www.voaindonesia.com/a/kongres-diaspora-indonesia-ke-4-berakhir/ menyatakan isu krusial yang menjadi pembahasan dalam kongres diaspora ini adalah menyelesaikan permasalahan dwi kewarganegaraan. Dino mengatakan hal itu bisa bermanfaat apabila diberikan secara selektif untuk perlindungan warga negara Indonesia (WNI) dan sumbangan pendapatan negara.

Kata diaspora sendiri memiliki pengertian yang ambigu (tak pasti), jika kata ini menjadi tema perselingkuhannya dengan intoleransi. Tetapi kata diaspora akan lebih menyangsikan lagi jika diartikan dengan dwimakna. Karena yang menjadi keraguannya adalah tema diaspora ini yang isu krusialnya menyorot masalah dwikewarganegaraan, sama sekali bukan dwipertentangan tentang siapa golongan yang lebih toleran dan siapa golongan yang pasti intoleran.

Pertanyaan yang paling mendasar dari landasan kebingungan saya adalah, mengapa kegiatan bertaraf nasional-internasional ini yang saya anggap mempunyai tujuan mulia guna menyelamatkan ketidakjelasan status-status hidup orang banyak (bahkan orang Indonesia sendiri) di seluruh dunia ini harus seakan-akan mengarah dan menyasar kepada persoalan toleransi di dalam Negara Indonesia?
Inilah yang saya maksud dengan perselingkuhan, ini perbuatan curang, sekaligus tujuannya menipu pemikiran orang lain!

Karena kongres diaspora yang keempat ini belum tentu bisa mewakili tujuan baiknya mencapai hasil maksimal hanya dalam satu waktu kegiatan. Bisa jadi membutuhkan lebih dari lima atau tujuh atau lebih banyak lagi kongres diaspora guna dapat menyelesaikan permasalahan yang diusungya. Untunglah pikiran saya terwakilkan oleh pernyataan lanjutan ketuanya :

"Masih panjang memang, tapi itu aspirasi nomor satu dari diaspora Indonesia, mengenai dwi kewarganegaraan. Keuntungannya banyak ya. Satu patennya karya orang Indonesia di luar negeri saja bisa lebih besar dari seluruh rakyat Indonesia. Lihat saja TKI. Sumbangan TKI itu lebih besar daripada industri pariwisata di Indonesia," jelas Dino.

Setelah penjelasan Dino di atas, kemudian dilanjutkan dengan pernyataan berikutnya :
(Selain itu lanjut Dino), "dalam kongres ini nilai-nilai solidaritas dan kebhinekaan juga dikuatkan".

"Nilai-nilai yang penting adalah kita bisa menjaga ke-Indonesiaan kita. Kebhinekaan, solidaritas, toleransi dan keterbukaan," jelasnya.

(Menurut saya, ini seperti modus perselingkuhan, menyatakan cinta kepada satu kekasih, tetapi diam-diam mengatakan sayang kepada selingkuhannya).

Kembali kepada pertanyaan kepada rumput yang bergoyang, entah motive apa yang ada di dalam tujuannya? Memang dasarnya orang yang suka selingkuh susah ditebak di akhirnya, namun ciri-cirinya mudah dikenali dari awalnya.


Perselingkuhan ini, jika dikaji lebih awal dari landasan teoritis, saya sendiri yakin bahwa akan memakan waktu yang tidak sedikit. Karena akan muncul metode-metode teori untuk meretas segala kemungkinan penyebabnya, salahsatunya adalah pemikiran luas tentang teori konspirasi, disamping permasalahan ini juga bisa dihubung-hubungkan dengan agenda murni politik, atau politik-psikologi. Tetapi saya dalam bahasan ini tidak akan menjurus ke jalan penuh lalulintas teka-teki pemikiran ini. Saya hanya berpedoman pada kompas logika yang sudah pasti, yaitu teori sebab-akibat dan penggunaan logika sederhana.


Entah bagi orang lain, namun bagi saya, sangat terasa aneh memang, ibarat hutang dibayar dengan hutang. Kalaulah diaspora itu menyangkut kehidupan orang banyak warga negara, apa yang salah dengan toleransi/intoleransi antar ummat beragama di negara kita Indonesia?


Jika diaspora, merujuk pada situs Indonesia Diaspora Network, memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Lantas, apa masalah krusialnya yang kemudian dihubungkan dengan toleransi/intoleransi antar ummat beragama di Indonesia?


Anak saya yang berumur 4 tahun saja bisa membedakan antara yang bagaimana yang air terbuat menjadi panas, dan yang bagaimana  air bisa jadi hangat. Terlalu naif jika perbedaan kata dan maksud sederhana ini dibawa dalam event-event lokal-nasional, media cetak, media sosial, media elektronik, simposium, seminar, siaran televisi nasional, kuliah umum dan diaudensi oleh orang-orang yang terlihat terpelajar. Apa yang hendak dimisikan dan ditonjolkan, makna apa yang mau diambil dari tema diskusi perselingkuhan kata dan maksud misterius ini? Apakah penonton yakin, perselingkuhan ini pantas ditonton dan dihayati alur segmennya? Ataukah yang membawa acara dengan narasumbernya sadar dengan kecurangan dan tipuan rahasia yang dialaminya? Dan jadi cerdaskah orang-orang yang sepaham dengan perbuatan selingkuh mengomentarinya dengan begitu bangga?
Sungguh, sangat jauh panggang dari apinya.


Logika saya sangat menjadi terlalu sederhana, ketika diaspora merujuk pada kewarganegaraan warga negara Indonesia dan sahnya perkawinan toleransi dan atau dalam beragama/intoleransi beragama yang dipaksa dihubung-hubungkan dengan adanya fakta penistaan agama yang terjadi sebelum tahapan Pemilihan Kepala Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Logika pertama :
Apa relevansinya kata dan maksud intoleransi jika dijadikan tema selingkuhan pada Kongres Diaspora Indonesia dengan isu krusial tentang WNI yang tinggal di luar negeri atau masih memegang paspor Indonesia secara sah?

Logika kedua :
Apa hubungannya kata dan maksud intoleransi dan solidaritas jika dijadikan tema selingkuhan pada Kongres Diaspora Indonesia dengan warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia?

Logika ketiga :
Apakah kaitannya kata dan maksud intoleransi dan keterbukaan jika dijadikan tema selingkuhan pada Kongres Diaspora Indonesia dengan warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur berasal dari Indonesia?

Logika keempat :
Apa alasannya kata dan maksud intoleransi dan kebhinekaan jika dijadikan tema selingkuhan pada Kongres Diaspora Indonesia dengan warga negara asing yang sama sekali tak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia, namun memiliki kecintaan luar biasa terhadap Indonesia?

Logika kelima :
Saya pasti menyadarinya, jika saya menjadi warga masyarakat dimana saja, tak terkecuali menjadi warga diaspora di negara mana saja saya berada. Jika toleransi yang dikemukakan dengan maksud toleransi kepada tetangga, bertenggangrasa terhadap teman, kawan juga sahabat dan saling hormat-menghormati antara yang tua dan yang muda dan hidup rukun dengan siapa saja yang berbeda baik berdasarkan ras ataupun sara. Kesadaran akan toleransi seperti ini sudah menjadi prasyarat dan syarat dan sudah tentu menjadi harga mati, dan tak bisa ditawar lagi.

Logika keenam :
Logika apa lagi yang mesti dipakai? Logika seperti apa lagi yang wajib digunakan sebagai alasan? Logika darimana lagi yang harus dipaksakan diterima untuk melaksanakan toleransi, jika diaspora kali ini sangat menekankan dan mengesankan seakan-akan orang lain yang memaknai toleransi dengan versi prisipnya menjadi tidak toleran? Adakah logika toleransi tong kosong lainnya?

Logika ketujuh :
Logika akan "Hubungan Terlarang Antara Diaspora dengan Intoleransi" adalah sangat terlarang, bahkan haram istilahnya adalah hubungan yang sangat krusial. Hubungannya sangat gelap, tersembunyi, penuh tipuan, beresiko.
Dan jika hubungan ini dipaksakan untuk diteruskan, hubungan pamali kata diaspora dan maksud intoleransi ini akan berpotensi kuat menjadi masalah besar, biayanya sangat mahal, akan mengancam kestabilan ketahanan masyarakat, memicu konflik individu dan komunal, merugikan pihak-pihak yang terkait, dan pasti butuh waktu untuk deharmonisasi kerukunan antar ummat beragama.

 

Sangat patut disayangkan, apabila pada tataran individu atau komunitas yang selama ini masih mengagungkan misi universalitasnya ikut-turut memberikan kontribusi nyata yang salah kaprah dan salah alamat tentang intoleransi. Contohnya seperti kaum entertainment, yang memuja seni keduniawian ikut intervensi tanpa ilmu keruhanian, bahkan tidak mengerti akan dogma, turut berkomentar dan membuat pernyataan tentang hal keagamaan yang berkaitan dengan toleransi dalam beragama, (karena realitasnya ikan itu tempat berenangnya di air bukan di pasir).


Setiap benda dengan jenis massanya masing-masing. Setiap pengajaran mempunyai kurikulumnya yang sudah diatur sesuai. Setiap dogma resmi dengan syariat agamanya masing-masing. Dan toleransi ada di dalam setiap ajaran agama masing-masing. Versi toleransi dari setiap agama dalam beragama dan antar ummat beragama jangan dicampur-adukkan. Seperti yang sudah sangat jelas dan tegas dalam Agama Islam, pluralisme/toleransi diatur secara terang-benderang dengan teori yang jelas dan dengan aplikasi hukumnya yang tegas. Orang lain atau ummat beragama yang lain sudah pasti tidak mengerti akan pemahaman ummat beragama lainnya. Maka, orang di luar pagar akidah agama lain tidak perlu bersusah payah menerjemahkan pikirannya terhadap ajaran agama ummat lainnya. Persoalan ini diperparah dengan adanya pihak-pihak yang berkepentingan yang ingin membuat "agama baru bernama toleransi" dan memaksakan kehendak implementasinya bahkan kepada orang yang berprinsip agama lain sekalipun.


Kasus perselingkuhan ini semakin menggemaskan, tatkala sepasang kekasih yang seakan-akan sah dan resmi ini dibenar-benarkan dengan opini-opini yang seakan-akan benar menggunakan argumen-argumen filosofi yang katanya dari ajaran Tuhan. Sepasang kekasih selingkuh bertambah yakin bahwa perbuatannya adalah benar dan mewakili dasar kebutuhan pemikiran-pemikiran pluralisme. Dua sejoli yang bangga dengan perbuatan curang dan menipu ini begitu bebas tampil di publik yang kurang sensitif atau buta dengan aturan agama sehingga mereka berdua begitu bebasnya menampilkan syahwat secara terang-terangan dengan alasan publik sudah sangat paham akan liberalisme. Kasih sayang yang mereka rajut adalah hasil filsafat dari zaman purbakala dan jahiliyah, dimana mereka terobsesi dengan drama-drama percintaan berlatarbelakang orang-orang yang berbeda agama juga kelamin yang sama namun mereka yakin bisa menyatu dalam bingkai cinta sekularis tanpa harus tergantung dengan campur tangan Tuhan, karena jodoh itu di tangan manusia bukan Tuhan.
Intoleransi yang manakah yang menumbangkan logika saya? Mungkin intoleransi yang dimaksud adalah saya tidak mendukung perbuatan salah atau saya tidak sepaham dengan toleransi yang mereka usung.


Logika saya semakin tumpul pada saat intoleransi disaktikan dengan ilmu-ilmu mandraguna dari diaspora. Seperti berita selingkuh diberitakan luas, mencari sensasikah? Ataukah layaknya nafsu, hanya inging pelampiasan syahwat kepada tipe yang berbedakah walaupun jenisnya sama? Mungkinkah sengaja ingin menikmati suasana dan pengalaman yang berbeda dari orang yang berbeda? Atau mungkin ada tujuan-tujuan rahasia dengan mencoba tatanan baru, politik global, sentimen agama, dan mendahului tugas serta visi-misi Sang Dajjal kah?
Jangankan rumput yang bergoyang, pohon-pohon di negeri avatar pun tak punya jawaban logikanya. ????


Jadi, kasualitasnya terlalu sederhana jika dipertanyakan mengapa tema di kongres diaspora harus menyisipkan maksud intoleransi ke dalam agenda dan berita acaranya? Jawabannya adalah, seperti merasa dahaga di limpahan mataair. Karena diaspora samasekali tidak ada alasan akademisnya dengan intoleransi yang digemakan di seantero Indonesia, karena logika terbaliknya sangat sederhana, di antaranya adalah :

1). Jika merujuk kembali pada situs Indonesia Diaspora Network, diaspora memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok.
√ Tidak ada satu kata pun kata intoleransi yang tertera pada arti diaspora. Jika ada, mungkinkah iblis yang memasukkan kata intoleransi itu?

2). Jika dirunut dari segala definisi kata diaspora dari segala zaman, tak satu pun kata intoleransi ditemukan pada penjelasan dan pengertiannya.
√ Mana mungkin kata intoleransi ada pada definisi diaspora, sedangkan orang-orang pada sibuk mengurus diri sendiri bepergian ke luar daerahnya sendiri.

3). Misalnya saja, kata toleransi/intoleransi ada pada definisi diaspora.
√ Mungkinkah orang-orang pada zamannya telah melakukan suatu perbuatan intoleransi (misalnya saja, intoleransi antar ummat beragama) di daerahnya sendiri, sehingga misalnya diusir atau terpaksa harus keluar daerahnya sendiri karena bermasalah dengan intoleransi?

4). Katakanlah saja, misalnya, kata toleransi/intoleransi baru dimasukkan pada definisi baru dari diaspora.
√ Apakah gelombang diaspora dari berbagai negara yang melakukannya karena alasan bahwa toleransi lebih baik dan terjamin di negara lainnya? Ataukah termasuk orang-orang Indonesia yang melakukan diaspora saat Indonesia sudah seterang surga ini hanya punya satu alasan melakukan diaspora bahwa karena mereka merasa di negaranya sudah tidak aman lagi keamanannya disebabkan oleh intoleransi?

5). Seandainya, pada arti diaspora terdapat kata intoleransi, tetapi bukan intoleransi dalam segala hal tentang agama.
√ Andai saja orang-orang melakukan diaspora hanya berdasarkan latarbelakang bermasalah dengan tetangga rumah? Atau mungkin saya melakukan diaspora karena kucing peliharaan saya enggan berteman dengan anjing peliharaan tetangga karena beda majikan dan beda kumisnya?

6). Jika memang kata intoleransi sengaja diadakan pada pengertian diaspora dan hanya ada dalam artikel-artikel cerdas di website-website lokal dalam negara Indonesia.
√ Kok bisa yah!? Berarti dengan argumen lain, bisa disimpulkan bahwa kata diaspora awalnya bersumber dari negara ini, bukan dari bahasa dan negara lain. (Sungguh cerdas dan masuk akal) ????

7). Dan, jika pada akhirnya, benar-benar terjadi, kata intoleransi dengan sengaja, disisipkan, dititipkan, diselipkan, diamanatkan, dipesankan, dan dipolitisasi untuk masuk menjadi penumpang gelap jadi selingkuhan dan atau teman tetapi mesra dalam definisi diaspora.
√ (Astahgfirullah 1001x ????). Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin orang-orang yang terlihat cerdas di negara ini mau dijadikan anak kerbau yang dipaksa diperah demi kepentingan politik adu domba?
Kalau saja orang-orang yang mengaku cerdas sudah seperti itu, bagaimana dengan orang-orang yang buta agama dan tuli akan kebenaran menjalani nasibnya?


Sangat berbahaya perbuatan selingkuh ini, lebih berbahaya dari tsunami dengan gempa 101 skala richter. Karena toleransi dianggap sakti, lebih sakti dari agama. Karena toleransi dimaknai lebih mulia dari kecintaan kepada agama. Karena toleransi itu adalah hak-hak asasi manusia maka agama itu bukan buatan manusia. Karena toleransi itu hanya untuk orang-orang yang pikirannya terbuka. Karena toleransi itu sejatinya hak hidup manusia dengan manusia, Tuhan hanya dinggap menjadi fasilitator. Karena toleransi itu bukan agama dari Tuhan, toleransi itu buatan manusia yang punya norma, etika, dan estetika. Sekali lagi, bagi mereka penganut agama baru bernama "Agama Toleransi" ini, Tuhan hanya regulatur di surga dan neraka, manusialah yang mencipta hak di dalam dunia.


Terlalu berbahaya perselingkuhan ini jika terus terjadi dan menjadi standar hidup juga gaya hidup, bahayanya menurut mereka tidak akan mengancam dunia menjadi lebih cepat pasti akan kiamat. Karena toleransi/intoleransi dipaksa menjadi resmi dalam ketidak-absahan. Karena intoleransi dipaksa harus dalam beragama, bukan untuk ummat beragama. Karena toleransi antar ummat bergama dipaksakan harus sama dengan toleransi beragama, karena dipaksa harus disama-samakan. Memaksa agama untuk harus ikut filsafat. Karena memaksa agama untuk wajib mengikuti akal pikiran-pikiran cendekia. Karena Memaksa agama untuk tunduk kepada penguasa. Karena Memaksa agama untuk turut serta mengikuti perintah negara.


Bahayanya sangat laten, lebih berbahaya dari dampak korupsi dan gunung erupsi. Karena Memaksa beragama untuk saling tukar-menukar dogma. Memaksa beragama untuk saling percaya-mempercayai dogma yang berbeda. Dan Memaksa beragama untuk saling yakin-mengimani Tuhan dari agama lain yang berbeda.


Bahayanya sudah ada didepan mata. Sudah sering kita saksikan setiap saat. Sadar dan tidak sadar kita sudah berkali-kali menikmatinya. Pagi, siang, malam, hampir setiap waktu bahaya nyata ini kita hirup menjadi nafas kita, kita menjadi kenyang karena itu menu makanan kita setiap harinya. Seperti sudah terbiasa, atau itu memang selingkuh itu telah menjadi hal yang biasa.


Sadarilah saudara, bagi siapa saja, bahkan bagi yang tidak seiman. Bahaya pemikiran dari perselingkuhan pemikiran jahat, curang, menipu seperti inilah, yang menjadi tujuan mereka untuk mengkriminaliasi logika sadar dan pemikiran sehat setiap kita anak bangsa. Inilah gerakan sesungguhnya yang dinamakan politik adu domba anak bangsa. Inilah kenyataannya yang kita alami sebagai sasaran dan korban gerakan politik belah bambu.


Perkuatlah keyakinan agama masing-masing sesuai kepercayaan dan ajaran agama masing-masing. Kita sama-sama satu asal namun sudah jelas berbeda secara keyakinan prinsip agama kita. Tidak perlu dan jangan mau disama-samakan keyakinan agamanya.  Tidak mungkin anjing mau disamakan dengan serigala. Janganlah kita menjadi bilah bambu untuk memukul bilah bambu yang sama sebatang. Karena bahaya penyimpangan pemikiran ini tidak menyasar satu golongan beragama saja. Contohnya adalah ketetapan pasti dari ajaran agama masing-masing yang nama Tuhannya saja sudah pasti berbeda. Toleransi yang salah kaprahlah yang menjadi pisaunya, toleransi yang salah penempatannya adalah yang menjadi sajamnya, dan toleransi yang salah alamat jualah yang menjadi penyebab masalahnya.


Dan teruntuk kita - saudara seiman :

Dengan akal, kepercayaan, ilmu dan keyakinanlah. Saya atau kita yang beragama Islam menjadi Muslim dan Mukmin.


Dengan agama-lah, manusia menjadi seutuhnya manusia. Karena agama-lah manusia memanusiakan manusia.


Karena hakikat penciptaan manusia adalah menjadi khalifah di dunia. Manusia lebih mulia dari mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya.


*Hewan diciptakan hanya dengan memiliki nafsu. Jika binatang berbuat salah, harap saja maklum, karena binatang hanya punya nafsu.

*Malaikat diciptakan monoton, hanya dengan memiliki akal tidak dengan nafsu. Maka tidak pernah malaikat berbuat salah, karena tugasnya hanya beribadah kepada ALLAH SWT.

*Tetapi kita, yang namanya manusia, karena tujuan penciptaannya menjadi mulia, kita diciptakan dengan memiliki akal dan nafsu.

*Jika kita berbuat salah, adalah wajar karena kita punya nafsu. Dan jika kita berbuat baik, adalah sangat benar karena kita diberi akal.

*Jika akal kita yang menang dari nafsu, maka kita lebih mulia dari malaikat.
Namun, jika nafsu yang lebih dominan, sayangnya kita menjadi lebih rendah dari binatang.

Aji Latuconsina_

  • view 64