"KAU ADALAH KAU, DAN AKU ORANG LAIN"

Aji Latuconsina
Karya Aji Latuconsina Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Juli 2017

"KAU ADALAH KAU,  DAN AKU ORANG LAIN"

("Ini Bukan Toleransi", Ini Ajaran Agama Kami)

 

Sebagai catatan :
Pada hari Minggu siang tanggal 11 Nopember 2011, terjadi kerusuhan antar warga di Kota Ambon (yang notabenenya adalah Warga Muslim dan Kristiani). Letusan kerusuhan terjadi di tiga titik wilayah pusat Kota Ambon ini diduga kuat karena letupan emosi warga Muslim yang tidak terima dengan janggalnya penyebab kematian salah seorang warga di Kawasan Waihaong, Kota Ambon yang profesinya sebagai tukang ojek. Korban yang beritanya mengalami kecelakaan lalulintas juga diduga kuat mengalami penganiayaan hingga pembunuhan dimana pada lokasi tempat kejadian perkara terjadi berada di wilayah yang mayoritas warganya Kristiani.


*) Tulisan ini, berupa cerita panjang yang sengaja saya singkat, guna menghargai keterbatasan pembaca dalam hal waktu dan kesempatan membaca dan juga meminimalisir kekurangan saya dalam hal tulis-menulis. Terlebihlagi saya bukan seorang penulis yang terakreditasi, saya hanya berusaha untuk menulis.


**) Paragraf-paragraf selanjutnya dalam tulisan ini, tidak akan saya khususkan kepada apa dan mengapa sampai kerusuhan pada hari itu terjadi. Karena saya hanya ingin menampilkan kesan tegas yang muatannya ada pada judul di atas dari kenyataan pengalaman saya secara pribadi dan yang merupakan kejadian nyata, fakta dan bukan rekaan (ada saksi fakta orang ketiga).


***) "Cerita ini adalah salahsatu contoh cerita fakta yang saya alami sendiri", disamping cerita-cerita yang lain yang substansinya sama, bahkan dialami oleh orang lain dengan pengalaman yang berbeda.


****) Cerita ini, yang sengaja saya singkat dalam tulisan ini adalah bertujuan untuk mengimbangi dan menetralisir sekaligus meluruskan pemahaman orang beragama tentang hasil dan dampak dari pemikiran keliru, picik dan salah dari orang-orang yang sangat jahat pemikiran, pengertian dan pemahamannya tentang ajaran agama orang lain hanya berdasarkan kasus per kasus. Seperti hasil besar pemikiran yang sangat melukai, mendiskreditan, bahkan melecehkan Ummat Islam, Ajaran Agama Islam dan Agama Islam pada Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017.

 --------------------------------------------------

Hari Minggu itu, saat tiba di jalan raya protokol menuju ke Kota Ambon, tepatnya di kawasan Galunggung, Desa Batumerah, Kotamadya Ambon, saya berhenti sejenak, karena Galunggung berada di dataran tinggi dari Desa Batumerah maka saya bisa jelas melihat ke arah langit pusat kota yang terlihat penuh asap hitam membumbung tinggi dari beberapa tempat.


Beberapa saat sebelumnya saya sempatkan juga bertanya kepada orang-orang yang bersiaga di jalan- jalan mengenai kejadian yang sedang terjadi. Setelah itu saya pun berniat melanjutkan perjalanan ke arah pusat Kota Ambon, dengan tujuan ke rumah duka korban. Karena setelah Shalat Ashar, akan dilaksanakan acara baca doa (tahlilan di hari pertama meninggalnya almarhum). Dan secara kebetulan juga saya adalah kerabat dekat korban.


Ketika saya hendak beranjak pergi. Tiba-tiba terdengar suara lirih dari arah belakang saya. Suara itu jelas suara perempuan. Suara perempuan itu sangat tegas, tetapi juga seperti memelas. Seakan bibirnya berat tuk berucap karena ada sesuatu, seperti tangis berat yang tertahan keras. Sekejap naluri saya memastikan bahwa suara itu adalah suara parau anak muda. Suara itu suara perempuan yang sedang ketakutan. Suara itu begitu terasa gemetarnya sampai ke dinding telinga saya. Suara itu seperti suara yang terbiasa, kerap saya dengar sebelumnya. Bahkan suara itu seperti suara adik perempuan saya yang baru saja setengah jam lalu berbicara dengan saya.


Kunci kontak motor yang sudah on saya matikan. Secepatnya saya membalikkan seluruh tubuh saya untuk memastikan suara siapakah gerangan. Dan ternyata benar dugaan insting saya. Suara itu suara anak muda, perempuan, lirih, berat, gemetar, dan di sela sungging sedih bibirnya terselip butiran air mata. Ohh, sungguh kasihan, hatiku langsung jatuh, lunglai, lemas dan jantungku berdegup kencang. Sekarang giliranku yang merasakan kecemasan begitu mendera, di mata gadis itu berkaca-kaca, entah apa yang sedang terjadi pada saya dan dia.


Dan sekali lagi, hati dan pikiranku terintegrasi secara tiba-tiba, yakni secepat kilat dapat menyimpulkan apa yang telah dan tengah gadis muda ini alami. Suara pertanyaan gadis muda ini saya jawab sambil memutar lagi kunci kontak motor saya ke posisi on dan mesin motor saya hidupkan kembali ke posisi standby dan siap jalan.


Dia masih terdiam setelah bertanya (dalam dialek Ambon), "Kaka, mau ke kota kah?". Saya tidak lantas menjawabnya, tetapi saya mulai memastikan keadaannya. Dia berdiri dengan posisi kaki yang gampang tertekuk jatuh. Seluruh tubuhnya gemetar walaupun dia sengaja menahan bunyi gemeretak giginya dengan hatinya. Bercelana jeans dan berkemeja perempuan, juga dipikulnya tas ransel dengan bahu sebelah yang nampak tak kuat karena lelah. Wajahnya pucat, di dahinya berkeringat dingin, kelopak matanya sedikit bengkak melebar, dan matanya sudah tak sanggup menahan banyaknya kaca dan airmata. "Ah sungguh kacau balau keadaan ini", guman dalam hatiku.


Saya mulai berinisiatif cepat tanggap. Dia masih seperti bisu, mungkin dia sangat ketakutan. Dan sepertinya saya sudah tahu persis apa yang sedang dialaminya.
"Ade Nona (adik perempuan), Ose (kau) harus kuat!"
"Ade, Ose harus tetap tenang, jangan panik"
"Nanti di dalam perjalanan saja, baru Ose cerita"
"Tolong, jangan panik!"
"Kaka (kakak/abang), sudah tahu apa yang Ose alami. Kaka sudah tahu pasti apa yang sedang terjadi par (pada) Ose hari ini"
"Ingat, sekali lagi, tolong jangan panik!"
Sambil berbicara padanya, saya pakaikan helmet saya ke kepalanya. Kemudian saya pun memakai songkok/peci (sebagai tanda saya seorang Muslim, dan gampang dikenali), lalu saya pun berlalu memboncengnya.


Untuk diketahui bersama, kesimpulan awal pada benak saya mengenai apa yang terjadi padanya ternyata nanti dibenarkan oleh pengakuannya di akhir cerita singkat saya.
Diantaranya adalah :
1). Ade Nona ini ternyata baru pulang dari teman kuliahnya yang tinggal di wilayah warga Kristiani.
2). Dalam perjalanan pulang menuju tempat tinggalnya, mobil angkutan kota yang ditumpanginya terjebak dalam blokade jalan di wilayah warga Muslim, entah mengapa dia mencoba turun dan berusaha memilih tetap pulang ke rumah.
3). Mobil angkutan umum yang ditumpangi notabenenya adalah mobil angkutan ini berasal dari dan wilayah warga Kristiani. Dan setelah tidak bisa melewati blokade, warga Muslim tetap menyuruh balik ke tempat atau jalur wilayahnya, meskipun Ade Nona ini tetap turun dan memilih berjalan kaki sendirian di wilayah Muslim.
Walaupun yang saya lihat ada terdapat mobil-mobil angkutan yang dalam perjalan balik ke wilayah jalur asalnya sudah mengalami pecah kaca. Hal ini menurut cerita dikarenakan supir mobil memaksa melewati daerah blokade.
Dan tampaknya hari itu di beberapa tempat di wilayah warga yang kebanyakan muslim menurut kabar, tidak ada kejadian kriminal parah yang terjadi atau semisal penganiyaan sepihak atau pembunuhan terhadap warga Kristiani yang memutar balik kendaraan kembali ke wilayah dan jalur angkutan kota masing-masing, walaupun pada kenyataanya ada supir angkutan yang melawan/memaksa tetap menerobos blokade lantas mengalami luka-luka terkena pecahan kaca mobil karena lemparan dan pukulan dari warga yang menyuruh supir mobil kembali ke tempatnya.
4. Ade Nona ini, sepertinya mengalami depresi sampai akhirnya dia bertemu dengan saya.
Karena jika diperhatikan dan membandingkan dengan kejadian-kejadian kerusuhan sebelumnya, bisa jadi seseorang sangat tidak beruntung jika berada di wilayah yang berbeda bisa tidak lolos/selamat melewati daerah yang berbeda.
5. Ade Nona ini pasti sangat ketakutan dan frustasi, karena saat itu dia terjebak berada di wilayah yang berbeda/Muslim.
Seperti juga mungkin di wilayah berbeda lainnya, setiap orang pasti merasa ketakutan. Karena di sepanjang jalan yang saya dan dia lewati, terdapat banyak orang memegang senjata tajam terhunus di tangan dengan wajah garang dan terkadang kejam memandang kepada orang yang dicurigai.
6. Yang tidak kelah menarik adalah, Ade Nona ini adalah seorang mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi di Kota Ambon (UKIM - Universitas Kristen Indonesia Maluku)
7. Dan juga menjadi hal yang secara kebetulankah, Ade Nona ini beralamat sama dengan tempat kejadian perkara tewasnya si tukang ojek.
8. Dan yang paling pasti adalah, Ade Nona ini yang juga beragama Kristiani serta merupakan warga keturunan Tionghoa dari salah satu orangtuanya.


Kembali ke perjalanan usaha mengantarnya pulang ke alamatnya. Di dalam perjalanan, tak henti-hentinya di sela tanya jawab, saya terus menyisipkan perintah untuk tetap tenang, jangan panik, dan pasti akan kembali sampai di rumah. Saya pahami betul situasi kondisi dimana wilayah Muslim yang saya lewati masih sekitar kurang lebih 8 KM lagi sampai menuju perbatasan wilayah Muslim dan Kristiani. Walaupun saya sadari penuh untuk hanya melewati batas wilayah saja pasti sulit. Dan apabila hanya mengantarnya ke satu perbatasan saja bahwa hal itu mungkin susah terwujud, karena tempat tinggal Ade Nona ini harus melewati tiga titik rusuh di pusat kota.


"Ade Nona, walaupun kita telah melewati tiap kerumunan massa Muslim siaga, Ade harus tetap tenang, tampakkan wajah biasa dan gaya tubuh yang wajar saja. Karena kita belum tentu tahu perkembangan kerusuhan ini, bisa jadi bertambah parah dan eskalasinya meluas, sesuatu bisa saja terjadi di tengah perjalanan kita atau di depan kita".


"Ade Nona, bersyukurlah jika tiada orang yang mengenali Ade Nona. Atau misalnya apabila ada orang atau teman sekolah yang Muslim yang mengenali Ade, maka berpikirlah positif, semoga setiap orang tidak terbawa emosi sesaat dan kalap mata jika keadaan bertambah parah. Ade, jangan panik!". (Saya masih berusaha membuatnya bersikap tegar)


Selama perjalanan, Ade Nona ini lebih banyak diam. Di hanya sesekali bersuara ketika saya "memaksanya" untuk menjawab pertanyaan saya, jawabnya pun sekali dari tiga sampai empat kali saya bertanya. Saya sepenuhnya sadar, mungkin karena psikologi adik ini begitu terguncang, mungkin baru kali ini dia merasakan pengalaman terjebak dalam kerusuhan, mungkin juga dia begitu ketakutan, bahkan mungkin saja dia sama sekali tidak percaya dengan saya. Tetapi, saya mengerti akan hal itu. Tujuan saya mengajaknya bicara, agar dia tidak berpikiran yang tidak-tidak tentang hal-hal yang mungkin terjadi dia alami. Dan juga harapan saya agar dia selalu berpikir yang baik-baik saja tetang saya, tentang orang-orang yang berbeda yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri di wilayah yang berbeda yang menenteng senjata tajam hilir mudik di depan dia. Dan dia harus yakin bahwa saya dengan segala upaya, saya pasti akan mengantar-membawanya ke lingkungan atau wilayah yang sama dengan dia. Dan dia akan tenang juga merasa aman.


Saat kita berdua tiba di depan pos Kantor Koramil, saya pun berhenti. Diluar dugaan saya, dia langsung menginterupsi sikap saya. "Kenapa kaka berhenti di sini? (dia mulai cemas).
"Kenapa kaka tidak jalan terus saja? (dia ketakutan).
"Ini kan belum sampai di tujuan!?"
(Dia panik seketika)


Saya dengan tenang berusaha menjelaskan kepadanya.
"Ade, walaupun sekarang ini kita berdua masih berada di wilayah Muslim, tetapi ini pos tentara, ini markas Koramil, dan kita sudah berada di pusat kota, kenapa Ade harus takut!?".
"Ade, kalau kaka boleh jujur, dalam hati kecil kaka, kaka juga pesimis bisa dengan mudah mengantar Ade sampai di perbatasan".
"Kita berdua sama-sama tahu, bahwa semua akses ke kedua belah pihak secara otomatis terhalang blokade".
"Sepanjang perjalanan, daritadi kaka berpikir keras berusaha mencari cara agar bisa mengantar Ade dengan selamat ke sebelah sana (wilayah warga Kristiani).
"Dan ini salah satu caranya, yaitu ke pihak yang berwajib. Karena di markas Koramil ini ada asrama, yang sudah tentu didiami oleh kedua belah pihak, dan pasti menjanjikan pengamanannya".
"Pihak keamananlah yang pasti paling bertanggungjawab perihal seperti Ade Nona ini. Pasti mereka lebih kapabel dari kaka yang sipil ini".
"Jika hari ini, Ade belum bisa pulang ke rumah orang tua, pastilah mereka akan menampung Ade untuk sementara waktu demi keamanan Ade sendiri. Dan kaka rasa, jika Ade masih ragu, pihak keamanan akan menempatkan Ade tinggal bersama dengan keluarga tentara yang beragama sama dengan Ade, biar Ade lebih yakin".


Dan sekali lagi, diluar dugaan saya, lagi-lagi dia menolak dengan tegas semua pertimbangan dan usulan saya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Sebegitu takutkah dia dengan keadaan yang dia alami? Terlalu berbahayakah jika dia merasa bahwa dia masih berada bukan di wilayahnya? Ataukah karena depresi dan frustasi hingga dia merasa sangat riskan dan tidak yakin keamanannya bisa terjamin walau dia ada dalam lindungan pihak keamanan? Sungguh sangat tak disangka.


Saya masih "berusaha membujuknya", namun dia masih tetap bersikeras tidak mau menuruti, dan meminta untuk harus melanjutkan perjalanan seperti kehendaknya. Saya pun juga tak "berusaha memaksanya", tetapi akan tetap berupaya meyakinkannya.


Sekitar 1 kilometer lebih berlalu dari Kantor Koramil, saya mengambil jalan berlawanan arah pada satu ruas jalan arteri yang memang tidak ada lalulintas kendaraan seperti keadaan normal, karena jalan ini pasti tidak dilalui oleh kendaraan angkutan kota lain pada jalurnya jika terjadi kerusuhan di pusat kota. Dan secara sengaja pula saya harus melewati jalan ini agar searah-sejalan dengan Kantor Polisi KPPP (KP3) Pelabuhan Laut Kota Ambon. Tujuan saya adalah agar dia tidak seketika menghindar atau menolak jika saya sengaja mengarah ke kantor polisi.


Dan pada akhirnya, kejadian di depan kantor Koramil kembali terulang di depan kantor polisi KP3. Kepalaku semakin pening dan pusing, otakku buntu berpikir. Ada apakah gerangan dia berulangkali menolak dua kali upaya saya dengan tanpa alasan yang pasti. Jawabannya terlalu sederhana, Dia hanya ingin pulang ke rumah dan bertemu orangtuanya.
Begitu polos jawabannya, tetapi tidak semulus perjalanannya. Kalau saja dia mau, dia bisa dievakuasi oleh polisi dengan jarak yang sangat dekat, tidak sejauh perjalanan ketakutan dan kecemasan kita berdua. Padahal, jarak kantor polisi ke titik pusat rusuh hanya berjarak kurang lebih setengah kilo, dan itu di depan mata kita berdua, terlihat jelas keramaian, keributan, berulangkali bunyi senjata seperti bersahut-sahutan, kepulan asap molotov, rusuh nyaring sirine ambulans, bising klakson, alarm mobil patroli, dan semua itu tak jauh dari luput mata kita berdua.


Keputusan saya sudah bulat. Saya harus bertindak dengan tidak ragu untuk terus maju ke depan. Akhirnya, saya benar-benar mengambil langkah terlalu berani (menurut saya). Tanpa banyak bicara lagi, saya kemudian memutar haluan menuju jalan raya protokol tepat di tengah pusat Kota Ambon yang sudah lengang dengan kendaraan mobil, hanya ada lalulintas kendaraan roda dua dan hilir mudik orang-orang bergerombol yang sudah siap pergi ke perbatasan untuk "berperang".

 

Saya menambatkan tunggangan saya di pinggiran trotoar depan salah satu toko di jejeran pertokoan sepanjang jalan protokol pusat kota. Sambil mematikan mesin motor, tetapi kunci motor tetap saya tancapkan. Seraya menyuruhnya untuk jangan turun dari sepeda motor, dan jangan membuat gerakan tambahan yang mencurigakan dengan menunjukkan wajah panik serta ketakutan. Sebab kita akan berpapasan dengan setiap orang yang punya sikap menyidik kepada siapa saja, dengan cara sederhana melidik dengan mata kepada orang yang sengaja dicurigai atau terindikasi benar-benar harus dicurigai. Karena berdasarkan pengalaman kerusuhan yang terjadi, dalam situasi perang, setiap orang berhak untuk mencurigai siapa saja baik kawan bahkan lawan. Ini sesuai dengan istilah umum yang berlaku bahwa ada "musuh di dalam selimut" dan "musuh itu bisa jadi siapa saja".


Berjarak satu hasta dari Ade Nona ini, tangan saya mengutak-atik handphone. Dia memperhatikan saya dengan cemasnya, mungkin di pikirannya bertanya-tanya, apa yang sedang saya lakukan. Dengan jidat mengkerut dan rasa kesal saya terasa sekali di otot-otot wajah saya. Telpon genggam saya bekerja keras, seakan-akan hp saya mengerahkan segala tenaganya untuk melakukan panggilan keluar dengan berulang-ulang kali.


Sudah menjadi kejadian yang lumrah, bahwa setiap kali terjadi gangguan keamanan sampai level kerusuhan, selalu diiringi dengan kejadian terganggunya jaringan telepon seluler. Entah ini kesengajaan sistematis atau secara otomatis. Saya atau orang lain yang mengalaminya hanya bisa menduga-duga. Tetapi kenyataan itu selalu terjadi, dan tepat di hari kerusuhan itu juga terjadi. Kalaupun ini benar kesengajaan sistematis, bagi saya ada sisi baiknya. Agar para provokator tidak leluasa menggunakan jaringan seluler demi segala kegiatan memprovokasi kedua belah pihak.


Berulang kali saya berupaya menelpon teman-teman saya yang Kristiani, yang kebetulan beralamat di tiga lokasi titik rusuh hari itu. Namun hampir sia-sia usaha saya yang terkendala gangguan jaringan telepon. Jarum jam tangan saya sudah tak sabar kawin di pukul 6 sore. Matahari sudah mengisyaratkan Maghrib di level siaga dan Tuhan tetap sayang kepada hambanya yang selalu berniat baik dan bermaksud hati yang baik-baik sahaja.


Mungkin Tuhan telah mengabulkan permintaan dari dalam relung hati Ade Nona ini. Hanya satu nomor kontak yang berhasil saya hubungi dengan kurang lebih 11 kali menghubunginya (saksi fakta ketiga). Dan Alhamdulillah, teman saya yang Kristiani ini adalah teman baik saya, dan saya percaya dia bukan pemeluk agama yang munafik dengan toleransi antar ummat beragama. Speaker hp saya pastikan dengan suara luar agar dia juga tahu dan menyimak "negoisasi" yang saya bicarakan.


Dan sekali lagi Alhamdulillah Syukur. Teman saya yang baik hati itu, dengan senang hati mau membantu menyelesaikan persoalan yang saya alami. Pekerjaan terakhir yang saya lakukan adalah berusaha meyakinkan Ade Nona ini untuk yang terakhir kalinya. Karena dua kali upaya saya ditolak mentah-mentah, padahal jaminannya adalah pihak keamanan.


Dengan berbagai macam argumen, bujukan, jaminan, trik, pemahaman, taktik, sikap, hingga bahasa dan gaya bicara yang betul-betul sangat meyakinkan kepadanya, ditambah dengan secara tidak langsung berkomunikasi yang meyakinkan dari teman baik saya. Akhirnya Ade Nona ini dengan keberanian tersisa yang dimilikinya, dia memberanikan diri dengan penghabisan tenaga jiwanya yang hampir depresi untuk saya antar ke tangan teman saya yang baik itu.


Laju motor mengiringi sukacita saya ke salah satu perbatasan. Beban pikiranku selama kurang lebih 2 jam disapu angin dari arah depan perbatasan. Kita berdua berjalan kaki menuju harapan, namun asa tak terlihat dari jauh yang dituju. Satu menit, dua menit, tiga menit, kita berdua masih melangkah menepi mengiringi nyali yang tak pasti. Teman saya belum nampak sosoknya, jantung seperti hendak mau berhenti, semangat mulai tergoda pikiran ragu, akankah kita bertemu agar perasaan yang terbelenggu beban kejiwaan ini berlalu?


Cerita ini terlalu kuringkas pendek, padahal dua jam terasa seperti disiksa derita dua tahun. Kemudian kebahagiaan menderaku di menit ke empat langkah kaki pertemuan. Teman baik yang berjanji datang membantuku hadir dari kejauhuan membawa kunci pembebasan dari sengsaranya terbebani moral, menanggung jaminan keselamatan jiwa walaupun satu manusia. "Ini bukan toleransi!" (kata dalam hatiku).


Setelah kita bertiga bertemu, saya ceritakan kembali secara singkat kejadian dari awal saya bertemu Ade Nona yang kesasar ini kepada teman baik saya. Sebagai bentuk konfirmasi, klarifikasi dan pembenaran kepada yang saya anggap saksi fakta pihak ketiga atas kejadian yang saya berdua alami dua jam yang berlalu tadi. Tujuan sederhana saya adalah, agar pihak ketiga dan pihak seterusnya tidak mengalami kekeliruan dalam hal menanggapi kejadian yang saya dan dia alami.


Akhirnya, Ade Nona ini bisa dengan tenang akan kembali ke rumahnya, walaupun mungkin harus menginap di rumah teman saya sebelum nantinya diantar oleh teman saya ke alamat orangtuanya. Yang pastinya dia akan merasa aman karena dia sudah bisa berada di komunitasnya atau di wilayah warga yang seiman dengannya. Terpancar dari rona wajahnya yang sudah memerah, gerakan tubuhnya mulai perlahan dinamis, suaranya terdengar bernada lagi dan ada sedikit sungging menghias ekspresi wajah datarnya.


Dia pun mengucapkan banya-banyak terima kasih yang tak terhingga kepada saya, teman saya pun demikian. Dan nanar mata saya mengiringi mereka berdua, terutama Ade Nona yang menapak jalan pembebasan jiwa, menikmati ruang bebas merdeka dari tertindasnya perasaan, menghirup kebebasan ekspresi emosional, dan segera pulang kembali ke rumah dan orangtua tercinta.

---------------------------------------------------


Seperti kisah yang tertulis di atas, itulah bagian singkat dari "cerita derita" perjalanan berat dua jam penuh beban perasaan yang melindas hati saya. Tetapi kemudian tertanam dalam ingatan saya, mengakar menjadi persepsi dan tumbuh menjadi hikmah, pelajaran, pengalaman dan juga ilmu bagi saya dan mungkin juga berguna bagi orang lain.


Kesimpulan awal dari hikmah yang saya kaji berdasarkan pengalaman hingga menjadi pelajaran dan ilmu bagi saya adalah berhubungan erat dengan kesimpulan akhir yang menjadi judul sederhana dari tulisan saya, "INI BUKAN TOLERANSI", INI AJARAN AGAMA KAMI.


Kata ataupun khiasan dinding toleransi bagi saya adalah bukan hanya karena hasil kreasi ahli bahasa secara etimologi dan terminologi. Toleransi yang ada di pikiran saya adalah ruang kiri dan kanan di dalam otak saya. Toleransi bagi pendapat saya adalah alat indra di seluruh tubuh saya. Toleransi untuk pelajaran bagi saya adalah anggota organ penting dalam tubuh saya.


Toleransi yang saya ambil sebagai hikmah bagi rasa bersyukur atas karunia dan fungsi seluruh tubuh saya adalah mengerjakan amal ibadah untuk mendapatkan keridhaan bukan imbalan. Dengan kata dan pengertian yang lain, bahwa jika tidak ada kata toleransi di dunia ini pun, penciptaan saya di dunia ini adalah hasil dari ajaran agama saya. Seluruh tubuh saya adalah terbuat dari agama. Berpikir, bergerak, bertindak, membuat keputusan, semuanya adalah kehendak agama. Walaupun tidak sedikit orang juga yang menyalah-artikan dan menyalahgunakan agama sebagai tindakan perorangan, toh tidak seharusnya menyalahkan agama. Agama saya mengajarkan kebaikan, agama saya menjadikan saya menjadi benar dan jika saya salah dan tidak benar, adalah mutlak perbuatan saya, dan yang salah adalah bukan perintah agama.


Pada saat saya dengan cepat mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa kasihan, maka naluri menolong dia atau orang ini bukan toleransi, karena saat itu situasi otomatis langsung hadir, berpikir langsung menolong itu dilakukan, isi kepala sudah siaga dan kedua bagian otak saya sudah siap memerintah seluruh anggota tubuh langsung bekerja tanpa bertanya banyak lebih dahulu. Dan pada akal saya tak pernah terbesit sedikit pun tentang apa itu toleransi secara harfiah. Begitu juga dengan hal jika menyangkut perasaan. Perasaan saya begitu kuat untuk harus menolong dia atau orang dalam kondisi sulit dan terancam. Yang saya rasakan adalah siapapun orangnya, dia adalah manusia seperti saya yang butuh pertolongan dan harus ditolong tanpa dilatarbelakangi status dan permasalahan yang dialaminya. Dan ini bukan menyangkut toleransi, tidak ada urusannya dengan toleransi, ini jelas adalah ajaran agama saya.


Jika toleransi yang dimaksudkan oleh pihak-pihak yang berwenang pada Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017 adalah "Toleransi", maka pihak-pihak yang berwenang dengan video cerita pendek ini, harus banyak-banyak belajar mengambil contoh pengalaman yang relevan, bukan atas dasar semangat dan landasan berpikir yang buta. Karena jika saya menolong anjing sakit yang kakinya patah saja, saya sudah menjalankan amanat toleransi, yaitu toleransi yang bukan etimologi dan terminologi, tetapi toleransi kepada sesama mahluk hidup. Dan jika anjing sakit itu yang kakinya patah dan menjadi mati, maka saya akan menguburkannya selayaknya menguburkan mahluk hidup selain kucing dan kambing. Ini bukan toleransi, ini ajaran agama.


Jika toleransi yang dipikirkan dan dimaksudkan oleh pihak-pihak berwenang dan berkepentingan pada Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017 adalah "Toleransi Antar Ummat Beragama", maka pihak-pihak yang berwenang dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap proses dan hasil video cerita pendek ini begitu sangat buta dan tuli akan kisah dan pengalaman toleransi. Rujukan mereka atas kasus per individu sangat tidak adil apalagi jika referensinya menyangkut tindakan keliru dari orang banyak. Karena sekali lagi, Ajaran Agama Islam tidak seperi yang digambarkan. Contoh cerita yang diperlakukan dan ditunjukkan oleh pihak-pihak yang berwenang dan pihak-pihak yang berkepentingan pada video cerita pendek ini kepada Ummat Islam sekaligus ajarannya adalah sepihak, tidak jujur, picik, mengkriminalisasi pemikiran, sengaja menyalahkan, melecehkan dan curang kepada Agama Islam dan pemeluknya. Karena dunia ini terlalu luas dalam pemikiran dan khayalan. Karena bukan saja Ummat Islam yang hidup di dunia ini. Karena masih ada ummat lain yang punya cerita dan pengalaman nyata tentang toleransi antar ummat beragama. Kenapa hanya Agama Islam dan Ummat Islam atau pemeluk Agama Islam yang selalu dibedah dan otopsi permasalahan kasuistisnya tentang toleransi? Karena masih banyak contoh cerita toleransi dari kehidupan sehari-hari antar ummat beragama. Apakah Agama Islam sesempit pemikiran orang-orang curang dan picik dalam mengambil tema cerita? Karena masih terlalu banyak contoh baik dan panutan terbaik dari ummat beragama yang tidak dipublikasikan, karena pertimbangan kewajibannya semata-mata urusan ibadah yang pertanggungjawabnnya langsung kepada Tuhannya, dan itu bukan toleransi, ini ajaran Agama Islam. Apakah ajaran Agama Islam sependek akal dan sependek video cerita yang diadegankan? Mereka sangat tendensius, mereka sangat bodoh juga tolol dalam hal ini dan sangat kurang kerjaaan yang kreatif.


Dan jika, toleransi yang di pikirkan, yang direncanakan, yang disengajakan, yang ditujukan dan yang dimaksudkan oleh pihak-pihak sekuler yang berwenang dan pihak-pihak berkepentingan liberalis pada Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017 adalah "Toleransi Beragama", maka sungguh jelas terlihat oleh matahati dewi keadilan dan tajam mata pedang pembela kebenaran bahwa kenyataan ini sungguh direkayasa, terlalu dipaksakan, dan jauh panggang dari nyala api semangat toleransi. Sungguh, ini sangat tidak masuk akal sehat. Karena dari dasar kata toleransi beragama saja sudah salah dan tidak ada hakikatnya kata toleransi beragama dalam agama.


Terkait dengan cerita pendek dalam tulisan "KAU ADALAH KAU, DAN AKU ORANG LAIN" ("Ini Bukan Toleransi", Ini Ajaran Agama Kami) dan pesan sentral pada Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017, maka saya hanya menekankan kepada inti kesan dan pesan tegas dengan menyatakan, bahwa Agama Islam sangat toleran, bahkan jauh teramat plural dari dan atau kepada agama dan ummat beragama yang lain yang ada di dunia ini. Ini terbukti kepada pengalaman yang telah saya alami dan jalani. Bahwa orang yang saya tolong adalah orang yang bukan orang Islam. Bahkan dengan sombongnya jika saya bertatapan muka dengan si toleransi, saya bisa sangat lantang mengatakan kepada si toleransi, bahwa karena bantuan sayalah orang yang bukan orang Islam ini bisa selamat dalam situasi yang parah pun. Hal ini tentu pasti terjadi, karena saya bertindak atas asas ketuhanan, atas dasar keyakinan kepada agama, atas alasan ajaran agama, dan atas nama ummat beragama.


Kami Ummat Islam, kami pemeluknya adalah wajib percaya dan wajib yakin bahwa Agama Islam adalah agama yang paling benar. Kami Ummat Islam, kami sebagai pemeluknya adalah wajib percaya dan wajib meyakini bahwa akidah kami adalah akidah yang paling benar, selain agama dan akidah kami, kami tidak mengakuinya sebagai kebenaran, karena ini adalah asas dan dasar keimanan kami.


Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017, adalah bentuk penindasan dan gaya penjajahan model lama terhadap ajaran Agama Islam yang selalu diproduksi ulang.


Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017, adalah upaya memperburuk citra Agama Islam, menjadi usaha kekang bagi kebebasan kepercayaan orang Islam dan penjara bagi keyakinan tergadap Agama Islam.


Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN", pemenang festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017, adalah modus sabotase akal dan kriminalisasi pemikiran serta upaya melemahkan keimanan orang Islam dan usaha mendangkalkan akidah orang-orang beragama Islam dan ummat beragama yang lain.


Saya secara sengaja menyajikan cerita pendek dalam tulisan "KAU ADALAH KAU, DAN AKU ORANG LAIN" ("Ini Bukan Toleransi", Ini Ajaran Agama Kami), adalah sebagai bagian dari menerjemahkan hakikat dari toleransi dan penerapannya dalam pluralitas beragama dengan contoh yang tidak sekedar mengandung arti lain tersembunyi di balik tujuan yang sebenarnya. Juga sekaligus dengan contoh fakta pengalaman yang saya alami atau mungkin orang lain sudah mengalami.


Isi cerita pendek dalam tulisan "KAU ADALAH KAU, DAN AKU ORANG LAIN" ("Ini Bukan Toleransi", Ini Ajaran Agama Kami) ini juga sebagai contoh perbandingan nyata, bukan hasil berimajinasi, tidak bertendensi mengdiskreditkan keyakinan pemeluk agama lain, dan merupakan hikmah dari pengalaman hidup yang tak terlupakan tentang sikap dan perbuatan saling sayang-menyayangi antar ummat, saling hormat-menghormati ketetapan perbedaan kepercayaan agama dan bertoleransi yang hakiki tanpa menyama-nyamakan ajaran agama dalam ritual keyakinan apapun. "Lakum Diinukum Wa Liya Diin".


Maksud tegas dari ("Ini Bukan Toleransi", Ini Ajaran Agama Kami) adalah fakta dari pengalaman pribadi saya yang tidak ada kaitannya dengan pengertian dan pemahaman salah kaprah dengan penerapan toleransi yang diagung-agungkan oleh orang-orang yang selalu menyamakan dirinya dengan sangat pancasilais, orang-orang yang meng-agamakan toleransi dalam beragama. Bahwa jika ada sebagian besar orang Islam yang mengaplikasikan ajaran agamanya yang menurut mereka tidak memenuhi unsur pluralisme di negara ini, maka Ummat Islam dan ajarannya menurut pikiran mereka adalah radikal. Bahkan pikiran-pikiran mereka sangat berbau busuk sampah, pendapat-pendapat mereka sangat bernanah dari akal-akal dan otak penuh luka menganga. Padahal, kami Ummat Islam, dalam ajaran agama kami, mulai dari tidur - bagun tidur - sampai tidur lagi, kami diajarkan bagaimana adab dan tata-aturannya. Padahal, kami Ummat Islam, di dalam ajaran agama kami, sampai pada urusan di dalam kamar mandi dan cebok pun di atur dengan adab serta tata-caranya. Hingga bagaimana mungkin kami Ummat Islam tidak tahu apa itu bertetangga, bertoleransi, bermasyarakat, berpancasila dan bernegara? Kami lebih memaknai dan memahaminya karena kesemuanya itu ada pada dasar dan dalam rumah besar agama kami lengkap dengan isi-isinya, yaitu Syariat Agama Islam.


Sebab toleransi itu bukan lisan resmi namun tak ada kesan bersemi di hati. Toleransi itu tidaklah sakti ketika masih ada penyakit di hati. Toleransi adalah adab, tata-aturan, tata-cara, ke-halalan, kejujuran, normatif, kewajaran, saling keterbukaan, kepantasan, nasionalisme, telanjang, sadar akan porsi masing-masing, keadilan, berani menyampaikan yang prinsipil, realistis, kebenaran, terima apa adanya, saling mengalah, bukan penjara, dan sangat religius. Dan jika ada kata toleransi selain ini maka itu bukan toleransi, tetapi penipuan, penggiringan opini, ke-haraman, munafik, misi terselubung, memutar-balik fakta, konspirasi bawah tanah, mengambil kesempatan sebagai minoritas, pura-pura baik, rekayasa, ramai-ramai membela yang salah, politik belah bambu, dan masih banyak cara dan tujuan yang lainnya di depan mata kita yang bukan toleransi. Dan sekali lagi, ini bukan ajaran agama kami.


Semoga, setelah kejadian memalukan dan tak pantas yang disebabkan dari Video Cerita Pendek : "KAU ADALAH AKU YANG LAIN" ini ditarik dan pihak-pihak berwenang dan berkepentingan meminta maaf khususnya kepada Ummat Islam serta mengklarifikasi permasalahannya. Dan diharapakan kedepan nantinya tidak ada upaya maupun usaha dan alasan dari siapapun untuk memproduksi kembali video-video dengan modus serupa yang tujuannya mendiskreditkan Agama Islam, Ummat Islam dan ummat beragama yang lain. Agar tujuan serta hakikat arti toleransi yang dimaksudkan oleh pihak yang terkait tidak menyebabkan disharmoniasi kerukunan beragama di negara ini.

Aji Latuconsina_

  • view 97